oleh : Abdul Malik, M.Pd

Pendahuluan

AM-pictureTak perempuan tak laki-laki, siapa pun boleh menjadi pemimpin dalam budaya Melayu. Budaya Melayu memang telah sejak lama memberikan laluan yang seluas-luasnya kepada sesiapa pun, tanpa memandang gender-nya, untuk menjadi pemimpin masyarakat dan atau pemerintahan. Asal, orang yang hendak menjadi pemimpin itu memiliki kemampuan dan kualitas kepemimpinan yang diidealkan. Kenyataan itu telah berlaku di Kepulauan Riau sejak lama, sebelum kita hidup dalam era modern lagi, sekurang-kurangnya sejak abad ke-13. Oleh sebab itu, perempuan atau laki-laki yang menjadi pemimpin bukanlah sesuatu yang menakjubkan, apa lagi mengejutkan, masyarakat Melayu. Orang Melayu baru berasa takjub kalau seseorang pemimpin mampu melaksanakan tanggung jawab kepemimpinannya dengan gemilang. Dalam hal ini, kejayaan seseorang pemimpin diukur sekaligus diuji dengan dapat dipertanggungjawabkannya kepemimpinannya, sama ada di dunia ataupun di akhirat. 

Raja Ali Haji, melalui karya kamus ekabahasanya Kitab Pengetahuan Bahasa (1858), memerikan fakta berikut ini.

“Bintan yaitu di dalam daerah Negeri Riau (tentulah maksudnya Riau dalam konteks masa itu, yang sekarang kita kenal sebagai Kepulauan Riau), satu pulau yang besar daripada segala pulau-pulau di dalam daerah Riau. Adalah ia bergunung yang lekuk di tengah-tengahnya. Adalah rajanya asalnya Wan Seri Beni namanya, yaitu perempuan [huruf miring oleh saya, A.M.].”

Sebelum Wan Seri Beni, Raja Bintan adalah Asyhar Aya, seorang laki-laki. Kedua-duanya, baik Wan Seri Beni maupun Asyhar Aya, ternyata sama-sama dapat diterima—bahkan sangat dicintai—oleh rakyat. Karena apa? Karena dengan kualitas budi dan kepemimpinan yang unggul, mereka berjaya mewujudkan diri menjadi pemimpin yang diidolakan oleh rakyat.

Engku Puteri Raja Hamidah binti Raja Haji Fisabilillah, Yang Dipertuan Muda IV Riau-Lingga-Johor-Pahang, memang tak menjadi sultan. Akan tetapi, tanggung jawab kepemimpinan yang diembannya tak kalah dari suaminya, Sultan Mahmud Riayat Syah, Yang Dipertuan Besar Riau-Lingga-Johor-Pahang (1761—1812). Pasal apa? Pasal, Engku Puteri mendapat kepercayaan menjaga regalia (alat kebesaran kerajaan). Tanpa regalia, maka tak ada Kerajaan Riau-Lingga-Johor-Pahang. Seseorang Sultan dan Raja Riau-Lingga-Johor-Pahang baru dinyatakan sah jika proses penabalan (pelantikan)-nya disertai regalia. Itulah sebabnya, oleh orang Melayu, regalia sering juga disebut kerajaan itu sendiri.

Kalau dikatakan, misalnya, “Kerajaan berada di tangan Engku Puteri,” rujukan kata kerajaan itu adalah regalia. Regalia menjadi ikon baik-buruknya kerajaan. Oleh sebab itu, regalia harus berada dalam penjagaan orang yang tepat, yang sanggup menjaganya dengan segenap jiwa dan raganya. Orang yang memiliki kualitas itu tak lain tak bukan adalah Engku Puteri Raja Hamidah. Dan, permaisuri yang perkasa itu melaksanakan amanat yang diletakkan pada dirinya dengan tak pernah gentar terhadap apa atau siapa pun kalau sudah berurusan dengan tanggung jawab mempertahankan regalia walau dirinya harus berdepan dengan moncong senapang. Alhasil, beliau tampil sebagai pemimpin yang namanya harum sampai setakat ini dan menjadi tokoh legendaris yang tak pernah dilupakan. Kecemerlangannya sejajar dengan suaminya, Sultan Mahmud Riayat Syah—pemimpin besar yang visioner itu—dan ayahndanya Raja Haji Fisabilillah, yang perkasa lagi terbilang.

Raja Aisyah binti Raja Sulaiman ibni Raja Ali Haji atau lebih dikenal dengan nama Aisyah Sulaiman sahaja memang tak pernah memimpin kerajaan. Beliau mengambil jalan kepemimpinan yang lain yakni menjadi orang terdepan dalam bidang pengembangan intelektual pada zamannya. Karya-karyanya yang monumental telah mengangkat harkat dan martabat kaum dan bangsanya melesat jauh daripada yang mampu dipikirkan orang pada zamannya. Kecemerlangan gagasan dan pikiran dalam karya-karyanya telah menempatkan dirinya sebagai pelopor kesusastraan modern Indonesia, diakui ataupun tidak. Dedikasi, pengorbanan, dan ketauladan perilaku istri Khalid Hitam—intelektual dan politisi handal—ini memungkinkan kaumnya bangga terlahir sebagai perempuan.

Syarat kepemimpinan dalam budaya Melayu tak bertumpu pada soal perempuan atau laki-laki. Di dalam karyanya Tsamarat al-Muhimmah (1858), Raja Ali Haji mengemukakan konsep tritunggal kepemimpinan Melayu-Islam: khalifah-sultan-imam. Makna simbolik ‘khalifah’ adalah kewajiban mendirikan agama berdasarkan Al-Quran, sunnah nabi, dan ijmak. Pemimpin sebagai ‘sultan’ bermakna kewajiban menegakkan hukum secara adil berdasarkan pedoman Allah dan rasul-Nya. Dalam kandungan makna ‘imam’ pula, pemimpin harus berada paling depan—dalam situasi apa pun—sehingga menjadi ikutan semua orang di bawah kepemimpinannya. Dengan demikian, siapa pun yang mengindahkan dan menerapkan ketiga syarat kepemimpinan itu, dia akan mendapat hidayah dan inayah Allah dalam kepemimpinannya.

Dalam masyarakat dan budaya itulah Suryatati binti Abdul Manan lahir, dibesarkan, untuk kemudian menjadi orang nomer satu di kota kelahirannya, menjadi Walikota Tanjungpinang. Beliau bukanlah terlahir sebagai anak pejabat, melainkan putri kesayangan dari pasangan suami-istri masyarakat biasa—‘orang kecik’ istilah orang Melayu—yang semasa kecilnya suka mencari buah kemunting dan buah getah di kampungnya Teluk Keriting, yang kala itu memang masih betul-betul kampung dalam arti harfiah. Beliau boleh berjaya ke puncak jaya kepemimpinan karena cerdas, tekun belajar, baik di lembaga pendidikan maupun di tempat bekerja, bekerja keras, siap bersaing secara adil dengan siapa pun, tak mudah berputus asa, bertanggung jawab, ikhlas, dan berserah diri kepada Tuhan.

Hemat saya, Hj. Suryatati A. Manan telah berhasil menerjemahkan sekaligus menerapkan konsep tritunggal kepemimpinan yang dirumuskan oleh Raja Ali Haji di atas. Beliau pun mampu menyerap nilai-nilai unggul kepemimpinan seperti yang diamalkan oleh para pendahulunya. Itu berarti, beliau melaksanakan tanggung jawab kepemimpinan sesuai dengan nilai-nilai terala (luhur) yang dijunjung tinggi oleh masyarakatnya. Tugas kepemimpinan dilaksanakannya dengan berlandaskan ketinggian budi yang pada gilirannya budi itulah yang disemai dan ditanamnya sebagai tanggung jawab kepemimpinan sehingga tumbuh merecup di hati masyarakat dan bangsanya. Alhasil, Putri Teluk Keriting itu berjaya menyejajarkan kualitas kepemimpinannya dengan kualitas para pemimpin terbilang pendahulunya dengan sangat berkesan sehingga sangat patut untuk dibanggakan.

 

 

Daya Magis Kasih Sayang

            “… keutuhan peristiwa yang saya alami dan rasakan selama perjalanan meniti karier dari golongan II sampai menjadi wali kota empat versi—wali kota administratif, penjabat wali kota, wali kota pilihan DPRD, dan wali kota pilihan langsung rakyat—dengan pasang surut kewibawaan pemerintah dari yang sangat kuat (Suharto), masa transisi (Habibie), sampai ke era reformasi (Gus Dur dan Megawati), dan era demokrasi (SBY) yang serba-bebas dan terbuka” (Suryatati, 2013:ix).

 

Kalau tak membaca buku Perempuan Melayu yang Tak Pernah Layu karya Suryatati A. Manan, tentulah banyak orang mengira bahwa alangkah mudah dan “sedapnya” seorang Suryatati. Karena apa? Karena dapat menduduki jabatan tertinggi di kota otonom (menjadi walikota) dalam waktu yang cukup lama, yang melebihi kepala pemerintahan peringkat mana pun di Indonesia dalam era sekarang karena lebih dari dua periode. Sesayup-sayup mata memandang, rupanya berat juga bahu memikul.

Untuk meraih dan mempertahankan jabatan puncak itu, ternyata Suryatati harus melalui pelbagai onak dan duri. Tak hanya pengalaman yang menyenangkan, menggembirakan, membanggakan, dan membahagiakan saja yang dialami, tetapi bercampur aduk dengan itu beliau harus menghadapi pelbagai tantangan dan cabaran. Kesemuanya harus disiasati dengan kiat-kiat kepemimpinan yang mengagumkan. Menjadi pejabat negara, suka atau benci, mewajibkan beliau berhadapan dengan “kejamnya politik praktis” sebagaimana diakui beliau di dalam bukunya itu. Ternyata, semua cabaran dan tantangan itu dapat dijawabnya dengan tenang, tabah, dan anggun, yang pada gilirannya boleh membawanya kepada keberhasilan kepemimpinan sampai masa purnabakti.

Apakah rahasia di sebalik kejayaan kepemimpinan walikota perempuan kedua di Indonesia itu? “SAYA dibesarkan dalam keluarga yang penuh kasih sayang” (Suryatati, 2013:3). Itulah kunci keberhasilannya. Ayah beliau mengajarkan sekaligus menauladankan kepada beliau berdua beradik (bersama kakak beliau) nilai-nilai hidup berjiwa bersih, amanah, tak penyampai hati (bertimbang rasa atau berempati kepada orang lain), berani bersikap dan bertindak, membela agama, jujur, sederhana, penyayang, taat beribadah, bertanggung jawab terhadap keluarga dan profesi, ikhlas menolong orang lain, dan pelbagai sifat luhur serta budi pekerti yang utama. Ibunda beliau pula menunjukkan keihklasan dan kasih sayang yang tulus dalam mendidik dan membesarkan anak, taat kepada suami, hormat kepada orang tua, dan tak suka “menjaga tepi kain orang”.

Kakak beliau juga adalah seorang perempuan yang, walaupun jelita, berkepribadian sederhana, tak sombong, cerdas, berperasaan halus, dan baik hati. Kakak yang penyayang itu, justeru, lebih merasakan “pedihnya” jika mengetahui sang adik tercinta—karena tugasnya sebagai petinggi negeri—didemo orang tanpa usul periksa, diberitakan secara miring oleh media, dan pelbagai teror psikologis yang bagi orang awam memang menggerunkan. Padahal, sang adik yang telah terbiasa dan terlatih menghadapi pelbagai bentuk arogansi itu tenang-tenang saja karena hal itu memang bagian dari resiko profesi yang diembannya. Sang adik, justeru, tak berganjak pada keyakinannya yang teguh bahwa selama berada di jalan yang benar, tak ada  suatu apa pun yang perlu dikhawatirkan karena inayah Allah pasti menyertainya.

Suami beliau pula menjadi motivator utama dalam peraihan cita-cita keberhasilan profesinya. Seperti halnya sang ayah, suami beliau pun tak penyampai hati terhadap orang lain, dan sangat peduli terhadap istri dan anak-anak. Lebih-lebih lagi, sang suami ternyata pembela istri nomer satu, bahkan nyaris mengorbankan diri untuk menuntut bela—kalau tak dilarang—karena tak dapat menerima istrinya dihina orang dengan motivasi politik yang tak sehat.

Bagaimanakah halnya dengan anak-anak? Suryayati mendapat anugerah yang tak semua orang menerimanya. Beliau dan suami dikaruniai anak-anak yang cerdas, berbudi pekerti baik, mandiri, berpikiran maju, hormat kepada orang tua dan orang lain, saling menyayangi di dalam keluarga, dan menghargai prestasi.

Kesemuanya bertimbal-balik. Sifat-sifat terpuji dan nilai-nilai luhur yang ditauldankan oleh orang tua beliau, ternyata menurun kepada Suryatati dan kakak beliau. Selanjutnya, sifat-sifat dan nilai-nilai itu diteruskan oleh beliau dan suami kepada anak-anak mereka.

Pendidikan formal orang tua beliau memang tak tinggi. Walaupun begitu, kedua ayah dan ibu itu telah berhasil mendidik anak-anak mereka dengan menanamkan nilai-nilai agama, budi pekerti, dan kearifan lokal Melayu yang memang dijunjung tinggi oleh masyarakat sehingga begitu bersebati ke dalam jiwa anak-anak mereka sampailah mereka dewasa.

Barang siapa mengenal Allah

Suruh dan tegahnya tiada ia menyalah

Dengan Bapa jangan durhaka

Supaya Allah tidak murka

 

Dengan Ibu hendaklah hormat

Supaya badan dapat selamat

Dengan anak janganlah lalai

Supaya boleh naik ke tengah balai

ibu-tatik-updateNilai-nilai luhur yang diamanatkan oleh Raja Ali Haji dalam karya beliau Gurindam Dua Belas itulah, antara lain, yang menerangi lagi menghiasi kehidupan keluarga Suryatati, yang memang ditauladankan oleh orang tua beliau. Dengan ditauladankan saya maksudkan bukanlah sekadar dinasihatkan kepada anak-anak, melainkan dipraktikkan langsung oleh ayah dan ibu beliau dalam mendidik anak-anak mereka. Tauladan bersikap dan berperilaku jauh lebih bermakna dan berkesan daripada nasihat tanpa contoh yang cenderung dilupakan, cepat atau lambat. Menurut saya, di situlah kelebihan Bapak Abdul Manan bin Embi (alm.) dan Ibu Bariah binti Jebah (alm.) dalam mendidik anak-anak mereka. Ternyata, mereka memang berhasil.

Itulah rahasianya. Hidup dalam keluarga yang dihiasi cinta kasih memungkinkan Suryatati tumbuh sebagai individu yang kuat, tangguh, tak mudah menyerah, pekerja keras, disiplin, bertanggung jawab, menghargai kebenaran, berani, siap bersaing secara adil dengan siapa pun, bertimbang rasa, tenang, teguh iman, bertakwa, dan salihah. Pada gilirannya, walau tak sunyi dari pelbagai cabaran dan tantangan kepemimpinan, kesemuanya itu dapat dilaluinya dengan baik. Alhasil, seorang Hj. Suryatati A. Manan telah membuktikan bahwa beliau mampu menjadi walikota yang dicintai masyarakatnya dan berjaya menyempurnakan tugas kepemimpinannya sampai purnabakti secara gemilang.

 

Pancaran Budi Kepemimpinan

Selama menjadi pemimpin pemerintahan di Tanjungpinang, suatu hal yang sangat menonjol pada diri Suryatati adalah beliau sangat dicintai oleh masyarakat. Sudah pasti semua pemimpin berharap akan nikmat kepemimpinan itu karena memang sangat membahagiakan. Akan tetapi, dari sekian yang berharap, terbukti tak semua pemimpin dapat menikmatinya, bahkan ada pemimpin pemerintahan, justeru, tak dikenal oleh masyarakatnya sampai dia pensiun. Malang nian!

Karena kualitas dirinya, ternyata Suryatati terkesan sangat mudah memperoleh simpati masyarakatnya, di Tanjungpinang khususnya dan Kepulauan Riau umumnya. Keberhasilan kepemimpinan Suryatati memang begitu teserlah oleh kecintaan yang ikhlas masyarakat terhadap dirinya. Ke mana pun beliau berkunjung, masyarakat selalu menyambutnya dengan antusias dan bersuka cita. Kehadirannya di tengah masyarakat senantiasa dinanti-nantikan dan selalu mendatangkan kebahagiaan di kalangan masyarakat, khas kaum perempuan, terutama ibu-ibu. Tak berarti bapak-bapak kurang menyukainya, tetapi ibu-ibu terasa lebih bebas mengekspresikan “kemesraan”-nya karena walikota ini kebetulan perempuan. Kaum bapak tentulah tak dapat menyamai ekspresi kaum ibu terhadap beliau karena khawatir dikira “yang tidak-tidak” walaupun simpati mereka terhadap Ibu Walikota tak kalah dibandingkan dengan kaum ibu.

Dalam percakapan sehari-hari masyarakat sering kita mendengar ungkapan ini. “Siapa pun susah untuk menandingi Bu Tatik (sapaan masyarakat terhadap Suryatati) itu. Setiap beliau bertemu dengan ibu-ibu seberapa banyak pun disalami, dipeluk, dan diciumnya walau ibu-ibu yang diciumnya itu berada dalam keadaan bercucuran peluh sekalipun.” Ungkapan itu malah banyak diucapkan oleh kaum bapak, entah Ibu Suryatati pernah mendengarnya atau tidak. Yang pasti, saya sering mendengar ungkapan itu dari penuturan ikhlas masyarakat Tanjungpinang.

Apakah artinya gejala itu pada kita? Jawabnya, cahaya kewibawaan kepemimpinan seorang Suryatati A. Manan sesungguhnya memancar dari kualitas budinya yang sulit dicari tolok bandingnya. Beliau ternyata “tak pandai” membeda-bedakan orang, semuanya dipandangnya sama, setaraf. Itulah ciri pemimpin yang memiliki jati diri dan karakter yang kuat. Alhasil, pemimpin dengan kualitas kepribadian seperti itu akan menjelma menjadi pemimpin yang kuat karena disokong sepenuhnya oleh ruh kedaulatan yang bersumber dari rakyat atau masyarakatnya.

Dalam perhubungan dengan masyarakatnya yang istimewa dalam pandangan banyak pengamat, Suryatati membuka rahasianya di dalam bukunya yang sedang dibicarakan ini. “Dari pertemuan dan (ber)tatap muka langsung dengan masyarakat …, saya bisa menarik kesimpulan bahwa masyarakat pada dasarnya hanya perlu didengar dan diperlakukan secara manusiawi dalam menyelesaikan setiap masalah yang ada” (Suryatati, 2013:118). Suatu pernyataan yang sungguh jujur dan dapat keluar apa adanya karena beliau—walaupun telah menjadi orang nomer satu di daerahnya—tetap berasa menjadi bagian dari masyarakat tempat dia berasal. Kerendahhatian itu memungkinkan Suryatati dikagumi sekaligus dicintai oleh seluruh warga masyarakatnya.

Gemilang cahayanya cincin permata

Memetiklah buah melempari

Jika hilang duli mahkota

Di manakan patik membawa diri

(Haji Ibrahim, 1877)

            Setelah Suryatati purnabakti dari jabatan walikota yang pernah dijabatnya dalam waktu yang cukup lama, suasana hati warga masyarakatnya pastilah tak jauh berbeda dari nuansa pantun Haji Ibrahim Datuk Kaya Muda yang dikutip di atas. Masyarakat pasti merindukan suasana pemerintahan yang sejuk, tenang, teduh, dan menyenangkan yang telah diciptakan sekian lama oleh Suryatati di Tanjungpinang.

 

Pegiat dan Pencinta Seni Budaya

Selain sebagai walikota sebelum ini, Suryatati dikenal juga sebagai penyair. Berbicara tentang kreativitas seorang Suryatati A. Manan dalam kancah sastra dan budaya sungguh menjadi pekerjaan yang menarik. Bukan karena beliau seorang perempuan, bukan pula karena beliau seorang Melayu, melainkan lebih-lebih karena beliau pernah menjadi walikota. Pasalnya, dalam era modern ini sangat sulit, bahkan kita tak lagi menemukan, seorang pemimpin yang betul-betul memahami dan menghiraukan budaya di Indonesia, apa lagi menerapkannya dalam kepemimpinannya. Kehadiran seorang Suryatati di gelanggang sastra dan budaya menjadi setawar sedingin dan pengobat rindu yang sudah mendera sekian lama. Yang seperti ini pada zaman sekarang memang sukar dicari!

Dalam kesibukannya sebagai Walikota Tanjungpinang, Provinsi Kepulauan Riau, Suryatati berketetapan hati untuk bergaul mesra dengan sastra dan budaya. Kecintaannya terhadap bahasa, sastra, dan budaya tempat dia dilahirkan membuat dirinya terpanggil sekaligus tertantang secara lahir dan batin, tak hanya untuk memelihara dan mengekalkan (melestarikan) warisan yang diamanahkan oleh para pendahulunya dari Kerajaan Riau-Lingga, tetapi juga menciptakan karya sastra, khususnya puisi.  Sejauh ini beliau telah menerbitkan enam buku kumpulan puisi. Dalam hal ini, beliau telah mengikuti jejak pendahulunya yaitu Raja Ali dan Raja Abdullah, yang selain diketahui sebagai pemimpin kerajaan yaitu sebagai Yang Dipertuan Muda Kerajaan Riau-Lingga juga dikenal sebagai penyair. Akan tetapi, lebih daripada itu dunia kepenyairan memang sudah menjadi panggilan jiwanya sehingga anugerah itu bagai tak kuasa ditolaknya.

Bahwa ada daya tarik-menarik antara diri seseorang manusia dan tanah kelahirannya—bercermin kepada Suryatati—nampaknya seperti tak terbantahkan. Bumi Segantang Lada, khususnya Tanjungpinang, memang ditakdirkan untuk melahirkan para sastrawan dan budayawan, sama ada perempuan atau laki-laki. Memang, di tempat-tempat lain juga lahir para pegiat budaya seperti itu. Akan tetapi, Tanjungpinang memiliki kekhasan sebab tanah bertuah itu tak menghendaki lahirnya seseorang seniman, sastrawan, dan atau budayawan yang asal-jadi. Pasal, dari semula-jadi Kota Gurindam Negeri Pantun ini mengidealkan para pegiat seni-budaya yang pasti jadi pembicaraan sejadi-jadinya.

Yang lebih menarik, sebagai penyair, pengagum, dan pemelihara seni-budaya; Suryatati juga pernah menjadi seorang kepala pemerintahan daerahnya. Sesuai dengan apresiasi dan pemahamannya terhadap budaya Melayu Kepulauan Riau yang menjadikan budi sebagai ruhnya, beliau pastilah mengimplementasikan nilai-nilai budaya yang terala (luhur) lagi ranggi itu dalam setiap kebijakan pembangunan yang dilaksanakannya. Jadilah membangun itu pekerjaan dan pengalaman yang pokta (terbaik, terindah) sehingga menjadi kebanggaan untuk dilaksanakannya dengan penuh tanggung jawab.

Tak heranlah kita apabila mantan walikota ini memperoleh penghargaan dari pelbagai kalangan, dari pelbagai daerah di tanah air. Puncaknya, beliau menerima penghargaan sebagai Tokoh Pelestarian Sastra Daerah dari Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional dalam peristiwa yang sangat penting di kalangan para pakar, pegiat, pemerhati, dan pencinta bahasa dan sastra Indonesia dan daerah—dalam dan luar negeri—yaitu Kongres IX Bahasa Indonesia di Jakarta, 28 Oktober 2008, bersempena dengan 100 Tahun Kebangkitan Nasional, 80 Tahun Sumpah Pemuda, dan 60 Tahun Pusat Bahasa. Bahkan, beliau menjadi bintang dalam acara lima tahunan itu karena tak hanya menerima penghargaan, tetapi beliau juga membaca puisi dan menyampaikan makalah, yang dalam semua kegiatan itu beliau disambut dengan meriah.

Bahasa, sastra, dan budaya menjadi identitas terpenting suatu bangsa. Jika para pemimpin mendasarkan kebijakan kepemimpinannya berdasarkan ketiga hal itu—tentu dengan nilai-nilai agama di atas semuanya—niscaya bangsa dan atau masyarakat yang dipimpinnya serta kepemimpinannya senantiasa akan mendapat petunjuk dan inayah dari Allah s.w.t.  sehingga tak akan terdera oleh kekalutan dan kesulitan hidup.

Kehadiran Suryatati dalam dunia sastra ternyata meningkatkan gairah masyarakat Kota Tanjungpinang untuk bergiat dalam bidang sastra dan budaya. Tak hanya orang dewasa dan para pemuda terpikat akan dunia sastra, tetapi kanak-kanak pun berlumba-lumba menciptakan, bahkan, menerbitkan karya sastra. Umumnya mereka termotivasi oleh pemimpin mereka, Suryatati, yang sangat menyukai seni dan budaya, khususnya sastra. Dalam hal ini, sebagai walikota kala itu, Ibu Tatik melakukan pembinaan dan pengembangan seni budaya dengan menjadikan dirinya sebagai suri tauladan.

Tak hanya itu. Pemerintah Tanjungpinang pimpinan Suryatati banyak mensponsori pengkajian seni budaya, penerbitan buku-buku sastra dan budaya, serta pelbagai kegiatan pertunjukan seni budaya bertaraf lokal, nasional, dan internasional. Melihat gejala itu, surat kabar Koran Jakarta memberi julukan bahwa Tanjungpinang-lah satu-satu kota puisi yang sesungguhnya di Indonesia. Betapa tidak? Gairah masyarakat terhadap karya sastra lama seperti pantun, syair, dan gurindam menjadi bangkit kembali, di samping sastra baru seperti puisi, cerpen, dan novel. Suryatati pun banyak diundang ke pelbagai daerah untuk berdiskusi tentang kiatnya melakukan pembinaan dan pengembangan seni dan budaya.

 

Kalam Penutup 

Nyatalah sudah bahwa bagi seorang Suryatati, menabur karya berarti menanam budi. Suatu pilihan yang piawai lagi mulia. Pasal apa? Pasal, di dunia Melayu sangat disadari bahwa hanya budi-lah yang dikenang orang, baik semasa kita hidup di dunia yang fana ini maupun lebih-lebih ketika kita memenuhi panggilan Ilahi untuk kehidupan yang dijanjikan abadi. Budi-lah yang membuat hidup dan kehidupan kita jadi bersinar dan berseri.

Saya yakin, pensiun sebagai walikota, tak akan menyebabkan Suryatati A. Manan bersara pula dalam aktivitas bersastra. Hari ini terbukti telah terbit lagi buku terbaru karya beliau Perempuan Melayu yang Tak Pernah Layu yang sangat menarik untuk dibaca dan dikaji dari pelbagai sudut pandang keilmuan. Tahniah dan semoga terus berkarya, Bu Tatik!

[1]Tulisan ini berasal dari makalah yang berjudul “Pembuktian Suryatati,” yang saya sampaikan dalam acara Peluncuran dan Bedah Buku Perempuan Melayu yang Tak Pernah Layu karya Suryatati A. Manan (Jakarta: Yayasan Panggung Melayu, 2013),  Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, Jumat, 17 Mei 2013.

 

 

 

DAFTAR BACAAN

Abdul Latiff Abu Bakar. 2010. “Kepulauan Riau Sebagai Pusat Kebudayaan dan Tamadun Melayu,” Makalah Seminar Bahasa Melayu sempena Konvensyen XI Dunia Melayu Dunia Islam (DMDI), Kota Batam, Kepulauan Riau, Indonesia, 10—11 November 2010.

Abdul Malik. 2009. Memelihara Warisan yang Agung. Yogyakarta: Akar Indonesia.

_____. 2011a. ”Nilai-Nilai Budaya dalam Gurindam Dua Belas”. Makalah Penataran Guru Pendidikan Budi Pekerti Provinsi Kepulauan Riau. Tanjungpinang: Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH).

_____. 2011b. ”Nilai-Nilai Budi Pekerti dalam Budaya Melayu”. Makalah Penataran Guru Pendidikan Budi Pekerti Provinsi Kepulauan Riau. Tanjungpinang: Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH).

_____. 2011c. ”Pantun: Warisan Sadu Perdana Lestari”. Makalah Temasya Pantun Melayu Serumpun Sempena Bulan Bahasa Kebangsaan dan Konvensyen Dunia Melayu Dunia Islam, Melaka, 11 Oktober 2011.

_____. 2012. Menjemput Tuah Menjunjung Marwah. Jakarta: Komodo Books.

_____.2012. ”Kepimpinan dan Jati Diri dalam Pantun Melayu,” Makalah ”Seminar Pantun Melayu Serumpun”, Temasya Pantun Melayu Serumpun, Institut Seni Malaysia Melaka (ISMMA), Sempena Bulan Bahasa Kebangsaan dan Sambutan 750 Tahun Melaka, Malaysia, Kamis, 18 Oktober 2012

 

Abdul Malik dan Hasan Junus. 2000. “Studi tentang Himpunan Karya Raja Ali Haji”. Pekanbaru: Bappeda Propinsi Riau dan PPKK, Unri.

Abdul Malik, Hasan Junus, dan Auzar Thaher. 2003. Kepulauan Riau sebagai Cagar Budaya Melayu. Pekanbaru: Unri Press.

Abdul Malik, dkk. 2009. Penafsiran dan Penjelasan Gurindam Dua Belas Raja Ali Haji. Tanjungpinang: Pemerintah Kota Tanjungpinang.

Braginsky, V.I. 1993. Tasawuf dan Sastera Melayu. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa dan Universitas Leiden.

_____. 1994. Erti Keindahan dan Keindahan Erti dalam Kesusastraan Melayu Klasik. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka.

Haji Ibrahim Datuk Kaya Muda Riau. 1877. Perhimpunan Pantun Melayu. Diselenggarakan oleh Elmustian Rahman (2002). Pekanbaru: Unri Press.

Raja Ali Haji. 1854. Gurindam Dua Belas. Batavia.

_____.  1886. Tsamarat al-Muhimmah. Daik: Offis Cap Kerajaan Lingga-Riau.

_____.  1887. Muqaddima Fi Intizam. Daik: Offis Cap Kerajaan Lingga-Riau.

_____. 1986/1987. Kitab Pengetahuan Bahasa: Kamus Logat Melayu Johor, Pahang, Riau, dan Lingga. Penyelenggara R. Hamzah Yunus. Pekanbaru: Bagian Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Melayu, Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Nusantara, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Suryatati A. Manan. 2013. Perempuan Melayu yang Tak Pernah Layu. Jakarta: Yayasan Panggung Melayu.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here