-ABDUL MALIK

SECARA morfologis, kata otak-otak berasal dari bentuk dasar (kata dasar) otak. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi Kedua (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1991:709), otak adalah “benda putih yang lunak terdapat di dalam rongga tengkorak yang menjadi pusat saraf.” Sinonim kata otak adalah benak. Selain itu, secara kiasan otak juga bermakna ‘alat berpikir, pikiran, atau tokoh intelektual (dibalik suatu peristiwa, biasanya yang dianggap negatif).’

Otak-otak kita kenal sebagai kata ulang (reduplikasi) dari kata otak yang takrif (definisi)-nya diperikan (dideskripsikan) di atas. Seperti halnya bentuk dasarnya yang memiliki lebih dari satu makna (makna lugas dan makna kias), otak-otak juga sekurang-kurangnya memiliki dua arti.

Pertama, otak-otak merupakan bentuk jamak (plural) dari kata otak yang bermakna gramatikal ‘lebih dari satu otak; pelbagai jenis otak.’ Dalam hal ini, kata otak-otak sebanding maknanya dengan orang-orang, kampung-kampung, jalan-jalan, tikus-tikus, dan lain-lain. Pemakaiannya dapat kita jumpai, misalnya, dalam kalimat hipotetis ini, “Orang-orang membersihkan otak-otak para korban kecelakaan lalu-lintas yang berceceran di jalan naas itu.” Dari kalimat itu, dapat dipahami bahwa ada lebih dari satu orang yang menjadi korban kecelakaan itu dan otak mereka yang berceceran di jalan pun lebih dari satu.

Semoga peristiwa naas hipotetis itu tak benar-benar terjadi di dalam kehidupan nyata. Karena apa? Karena kejadiannya sungguh mengerikan. Peristiwa naas itu boleh jadi terjadi akibat kebiasaan berlalu-lintas yang buruk, tak berhati-hati, yang gejalanya makin banyak ditemui di jalan-jalan di negara kita setakat ini karena makin banyaknya kenderaan bermotor, baik sepeda motor maupun mobil, sebagai petunjuk (indeks) perubahan gaya hidup manusia Indonesia walaupun belum tentu selari dengan perubahan kesejahteraan hidup. Perubahan gaya hidup yang tak selaras itu memungkinkan terjadinya kejutan budaya (culture shock), yang berdampak pada ketakseimbangan emosional ketika berlalu-lintas. Akibatnya, naas yang berceceran terus saja mengintai dari hari ke hari.

Kedua, otak-otak yang mengacu kepada ‘makanan yang terbuat dari ikan yang dicampur dengan rempah-rempah dan dibungkus dengan daun kelapa. Di Kepulauan Riau, misalnya, hanya ditemui yang dibungkus dengan daun kelapa karena barangkali jenis ini yang paling disukai, tetapi di tempat-tempat lain ada juga yang dibungkus dengan daun pisang. Beda bungkus tentulah tak sama rasa walaupun namanya tetap sama: otak-otak. Memasaknya dilakukan dengan cara dipanggang. Boleh dimakan tanpa nasi (diratah) atau dicampur dengan nasi.’

Makanan yang lezat itu dinamai otak-otak sebetulnya tak jauh bergeser dari makna dasarnya ‘lebih dari satu otak.’ Pasal apa? Dengan mengambil contoh kuliner otak-otak Melayu Kepulauan Riau, memang ada—dan ini mungkin yang awal—otak-otak yang terbuat dari bahan baku kepala ikan (yang di dalamnya tentulah ada otak ikan) yang diremukkan atau dihancurkan. Jenis otak-otak kepala ikan itu ternyata sangat banyak peminatnya. Di samping itu, tentulah bahan baku otak-otak berupa daging ikan seperti yang banyak dijumpai dalam kehidupan kita sehari-hari.

Otak-otak jenis kedua (makanan) itu lebih dahulu dibicarakan, baru kemudian otak-otak jenis pertama (benak). Pilihan itu dilakukan semata-mata karena otak-otak yang makanan itu lebih konkret dibandingkan dengan otak-otak jenis kedua (benak, pikiran, dan atau kecerdasan) yang lebih abstrak. Ternyata, kedua jenis otak-otak itu dapat pula dipertemukan. Kita dapat membuat otak-otak yang lezat dan mampu memasarkannya dengan baik, jika kuliner itu dijadikan komoditas, kalau kita mampu menggunakan otak-otak (benak) kita secara kreatif. Sebaliknya, otak-otak (benak-benak) kita akan menjadi cerdas kalau kita mengonsumsi ikan—salah satunya dapat dijumpai di dalam makanan otak-otak—dalam jumlah yang cukup, konon!

Hebatnya lagi, kehebatan kedua otak-otak itu dalam bahasa kita hanya dibedakan oleh suku kata yang dibalikkan saja. Otak-otak yang makanan bergantung pada kelapa, sedangkan otak-otak yang alat berpikir bersarang di kepala. Bahkan, orang Melayu mengiaskan kecerdasan manusia dengan “kepala atau otak yang berminyak”, misalnya dalam ungkapan, “Kepala [atau otak] pemuda itu sungguh berminyak,” yang bermakna ‘pemuda itu sangat cerdas.’ Nah, acuan minyak itu, tak lain tak bukan, ya minyak kelapa, bukan minyak tanah atau minyak yang lain. Bahkan, otak atau pikiran yang tak betul (menyimpang dari kebenaran dan kebaikan) dikiaskan sebagai “tahi minyak” yang bermakna ‘otak atau pikiran yang tak berguna.’ Otak yang cerdas bermahkota di kepala, sedangkan otak yang tumpul berumah di tempurung (kelapa): “otak tempurung.”

Dilihat dari rempahnya, kuliner otak-otak Melayu, khasnya Melayu Kepulauan Riau dan beberapa kawasan yang berdekatan dengannya, baik secara geografis maupun kultural, seperti Malaysia dan Singapura, otak-otak dapat dibedakan atas dua macam.

Yang pertama, otak-otak yang rempah istimewanya berupa kelapa gonseng yang digiling halus, lalu dicampur dengan rempah-rempah yang lain. Isi otak-otak hanya kepala ikan yang diremukkan atau dihancurkan atau daging ikan yang dicampur dengan rempah-rempahnya saja, tanpa campuran tepung. Jenis otak-otak inilah yang paling lezat sebenarnya dan paling disukai banyak orang. Sayangnya, jenis otak-otak berempah kelapa gonseng giling ini tak tahan lama (cepat basi) sehingga jarang dijadikan produk yang dipasarkan. Biasanya, ketahanannya hanya dari pagi sampai siang hari saja. Oleh sebab itu, para penjual makanan, khasnya otak-otak, jarang menjual jenis otak-otak yang lezat ini. Alasannya tentulah resiko ruginya lebih tinggi.

Yang kedua, otak-otak yang bahan baku ikannya disebatikan (dipadukan) dengan rempah-rempah dan tepung, tanpa kelapa gonseng. Orang Melayu menyebutnya otak-otak tepung. Kelezatannya lumayan juga, tetapi tak sebanding dengan otak-otak rempah kelapa gonseng giling. Kelebihannya, otak-otak tepung ini lebih tahan lama. Otak-otak tepunglah yang banyak dijadikan produk yang dipasarkan.

Apa pun jenis dan betapa lezatnya pun kuliner otak-otak itu, ia tetaplah menjadi kuliner tradisional, tak pernah naik kelas. Sebagai komoditas perdagangan, otak-otak kita sampai setakat ini hanya mampu memikat hati para penikmat tradisional pula. Kendatipun lezat, makanan itu tak pernah menjadi oleh-oleh pilihan pertama dan utama bagi pengunjung (pelancong, misalnya) dari kawasan yang jauh walaupun mereka mengakui bahwa otak-otak memang lezat.

Ada beberapa faktor yang menyebabkan hal itu. Pertama, sampai setakat ini kita hanya mampu memproduksi otak-otak yang daya tahannya rendah, otak-otak tepung hanya mampu bertahan maksimal dua hari saja, sedangkan otak-otak berempah kelapa gonseng giling setengah hari. Pasal, produksinya masih dikerjakan secara sangat tradisional. Kedua, tempat menjualnya juga cenderung tak menarik seperti di simpang-simpang jalan, yang cenderung—maaf—selekeh (kumuh), yang bercampur antara asap pemanggangan otak-otak, asap kendaraan, dan debu jalan. Bagi pembeli yang memiliki standar kesehatan yang baik, jualan itu sungguh tak menarik walaupun mereka sangat ingin menikmatinya. Ketiga, kemasannya juga sangat tak menarik dan tak memenuhi standar kemasan kuliner modern, bahkan sangat sering ditawarkan di dalam bungkusan plastik yang—sekali lagi maaf—mirip bungkusan sayur atau ikan dari pasar tradisional kita. Kesemuanya itu jadi menyurutkan selera pendatang dari luar, terutama dari negara-negara yang di tempatnya telah berkembang budaya makan dengan standar kebersihan, kesehatan, dan keindahan makanan modern.

Karena sungguh-sungguh lezat, kuliner otak-otak seyogianya dapat dijadikan andalan untuk dijadikan komoditas makanan yang pasti digemari orang berbilang bangsa. Malangnya, kita belum mampu atau barang kali belum mau menggunakan otak-otak atau benak-benak kita secara kreatif, sungguh-sungguh, dan ikhlas untuk mengembangkannya menjadi kuliner modern, yang memenuhi standar internasional. Kita masih terlalu bangga dengan hasil perniagaan purba dalam bentuk batu, minyak dan gas bumi, pasir, air, bahkan kekuasaan dan marwah, yang dijual ke luar negeri tanpa pengolahan. Ya, memang bertaraf internasional juga, tetapi sifatnya sangat primitif sehingga akan mempertebal cap yang memang telah lama diberikan oleh bangsa lain kepada kita yakni para pemikir dan pekerja kelas rendah. Kita memang belum mampu mengelola otak kita yang sesungguhnya secara bersungguh-sungguh. Padahal, kalau daya kreatif kita agak digenjot sedikit, bukan tak mungkin kuliner otak-otak akan melahirkan para pengusaha baru yang berjaya dengan komoditas utama andalannya makanan khas otak-otak. Alhasil, jika wisatawan berkunjung ke negeri ini, oleh-oleh utama yang wajib dicarinya otak-otak.

Barangkali otak-otak makanan kita bernasib seperti itu berkaitan dengan “tragedi” otak-otak yang bermakna ‘lebih dari satu benak’ yang disebut pertama di atas. Ini berhubung dengan mitos otak kiri dan otak kanan. Belum lama ini masyarakat dunia digemparkan oleh hasil penelitian yang dipimpin oleh Dr. Jeff Anderson, Direktur MRI Neurosurgical Mapping Service, University of Utah (lihat VIVAnews, diunduh Senin, 9/9/2013, pukul 22.00). Penelitian itu melibatkan lebih dari 1.000 sampel otak manusia.

Kajian-kajian terhadap otak manusia selama ini membentuk keyakinan bahwa kepribadian seseorang dipengaruhi oleh kerja otak kiri dan otak kanan. Dalam hal ini, otak kiri dipercayai secara ilmiah berhubung dengan logika, rasio, kemampuan menulis, membaca, dan  menganalisis. Dalam pada itu, otak kanan berperan dalam hal pengendalian emosi, kemampuan intuitif, kemampuan merasakan, memadukan, dan ekspresi tubuh seperti menyanyi, menari, melukis, dan kegiatan kreatif lainnya. Ternyata, hasil penelitian Anderson dkk. membuktikan bahwa keyakinan itu hanya mitos belaka alias bohong. Berdasarkan temuan penelitian terbaru itu, dalam setiap aktivitasnya yang menggunakan otak, ternyata manusia menggunakan otak kiri dan otak kanan secara bersamaan. Ringkasnya, kalau manusia menganalisis, misalnya, otak kiri dan kanan bekerja bersamaan, bukan otak kiri bekerja lebih daripada otak kanan; sama halnya dengan kalau kita menari.

Telah sekian banyak penelitian tentang otak kiri dan otak kanan yang dilakukan ilmuwan dunia selama ini. Telah jutaan buku tentang otak-otak itu yang ditulis dalam pelbagai bahasa dunia. Jutaan manusia telah dididik tentang pengaktifan otak kiri dan otak kanan agar menjadi seimbang, baik di lembaga pendidikan formal maupun kursus-kursus. Tak terkira dana yang telah dikeluarkan untuk meningkatkan pelbagai kecerdasan melalui kedua otak itu. Ternyata, kesemuanya itu dilakukan hanya untuk membeli sebuah mitos besar, yang tak ada benarnya.

Tak ketinggalan bangsa kita, terutama mereka yang dari segi kesejahteraan lebih beruntung dari saudaranya yang lain, kalaupun masih dianggap begitu. Kita memang sangat bersemangat dalam hal ini karena kita hendak merengkuh modernisasi dalam sekejap, terbebas sama sekali dari belenggu tradisi(onal) yang telah lama menjadi musuh bebuyutan. Oleh sebab itu, segala yang berbau Barat kita yakini sepenuhnya, nyaris tanpa saringan demi modernisasi. Para orang tua golongan menengah ke atas sejak awal kemerdekaan lagi berlumba-lumba mengirim anak-anak mereka ke lembaga pendidikan dan kursus yang mampu menyeimbangkan perkembangan otak kiri dan otak kanan anak-anak mereka. Tujuannya tentulah agar kelak anak-anak mereka mampu menjadi manusia, bahkan pemimpin, yang memiliki kecerdasan yang komprehensif, kreatif, inovatif, kompetitif, dan berakhlak mulia.

Di dalam modernisasi yang didambakan itu termasuklah demokratisasi yang sepenuhnya kita tiru dari Barat. Akan tetapi, ternyata sampai setakat ini kita hanya mampu mendapatkan kulit demokrasi saja sehingga belum berhasil untuk keluar dari zona degradasi muldimensional, bahkan cenderung bertambah parah akhir-akhir ini jika kita mau jujur mengakuinya. Karena apa? Karena kita memburu demokratisasi dengan “senjata kebuasan primitif” yang padahal sangat bertentangan dengan hakikat demokrasi itu sendiri. Barangkali kita tergolong bangsa yang paling parah menerima akibat dari “teori kerancuan otak kiri dan otak kanan” yang dikembangkan selama ini. Jadilah kita sebagai korban yang teramat tenat dari mitos otak kiri dan otak kanan itu.

Agaknya, itulah sebabnya kita tetap bertahan sebagai bangsa yang masih berada pada peringkat yang paling dasar dalam hal pengelolaan otak dan kecerdasan itu. Alhasil, mengelola otak-otak di depan mata pun kita tak mampu.***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here