SIlahturahim-RektoratdgnGub-web
Rektor UMRAH, Prof. Dr. Syafsir Akhlus,M.Sc(Kemeja Putih) dan Jajaran Pimpinan silahturahim dengan Gubernur Kepri, Drs. HM. Sani di Kantor Gubernur Kepri di Dompak. Gubernur didampingi oleh Sekdaprov Kepri, Robert Iwan Loreaux. f. Adi pranadipa/umrah.ac.id

Mengawali masa tugasnya sebagai rektor baru Universitas Maritim Raja Ali Haji (Umrah), Prof. Dr. Syafsir Akhlus, M.Sc beserta Jajaran Pimpinan dan para Dekan di lingkungan Umrah mengunjungi Kantor Gubernur Kepri di Dompak, Sabtu(28/6). Kunjungan ini dimaksudkan untuk bersilahturahim dengan Gubernur Kepulauan Drs. HM. Sani. Rombongan yang terdiri dari Rektor, Prof. Syafsir Akhlus, Wakil Rektor I, Muzahar, M.Si, Wakil Rektor II, Dr. Rumzi Samin, beserta para Dekan dari 5 fakultas di Umrah dan beberapa orang Dosen serta Kabag umum dan kepala Biro Akademik ini diterima oleh Gubernur di ruang kerjanya didampingi oleh Sekretaris daerah Provinsi Kepri, Robert Iwan Loriaux.

Rektor Umrah Prof. Syafsir Akhlus sedikit bercerita kepada Gubernur, Drs. HM Sani bahwa sebelum Pelantikannya pak Menteri (Mendikbud) bilang kepadanya supaya Bekerja untuk kampung halaman. “Pak Akhlus sudah bekerja untuk ITS, untuk Surabaya, untuk Indonesia, sekarang balik kampung untuk kampung sendiri”  bunyi pesan yang diucapkan Pak Menteri M. Nuh kepada dirinya. “Terakhir saya menjejakkan kaki di Tanjungpinang itu tahun 79, selepas tamat SMA” kenang Prof. Akhlus.

Dalam pertemuan yang berlangsung sekitar 20 menit itu Sani menyinggung tentang kata Maritim dan Raja Ali Haji yang terdapat dalam nama Universitas Maritim Raja Ali Haji. “Umrah ini memiliki dua fokus, Maritim dan Raja Ali Haji”. Kata Maritim lanjut Sani harus fokus pada pembinaan-pembinaan yang menjadi andalan Kepri, 96% lautan.

“Mimpi kita adalah bahwa kita menjadi rujukan seluruh Indonesia di sini. Oleh karena Pak rektor memiliki pengalaman di Perancis saya pikir perlu apapun caranya, apa pun kebutuhannya, kita bisa diskusikan” Ujar Sani dengan nada optimis di hadapan Rektor dan Dekan-dekan fakultas di lingkungan Umrah.

Sani menambahkan bahwa tidak sia-sia Universitas ini bersama Maritim karena sebangun dengan misi Provinsi Kepri. Walau menurut Sani banyak yang bertanya-tanya. “Apa Kelebihan dari Kepri, Maritim? mane die ? Kok belum nampak sangat kegiatan maritim die? Tapi lumayanlah dah ade name die universitas tu kan, tinggal bagaimana mengisinya nanti” kata Pria yang mengawali Karir Birokrasinya di Bintan Timur itu dengan logat melayu yang khas.

“Saya sendiri sebagai gubernur yang kebetulan sedang dipercayakan sampai hari ini kadang-kadang selalu dipertanyakan apa yang kita dapatkan dari letak geografis maritim yang 96%  lautan ini ? patut diakui masih sangat kecil apa yang kita dapatkan. Faktor regulasi yang barangkali juga. Tidak semua regulasi kelautan dan pulau-pulau pesisir berada di tangan gubernur. Hasil laut pun sebagian ke pusat bukan ke kita” ungkap Sani.

SIlahturahim-RektoratdgnGub-web2

Sani mengatakan bahwa dari hal-hal tersebut kiranya ada potensi yang dapat digali sambil juga mengembangkan pendidikan di bidang Maritim. Sehingga dapat memberikan kontribusi bagi lembaga.

“Saya pikir disamping tetap melakukan penelitian-penelitian, juga ada suatu pemikiran yang disumbangkan untuk Provinsi kepri ini sehingga akan memberikan arti keberadaan umrah ini” ujar Sani. Sehingga Think-thank konkrit Provinsi Kepri ini berada di Umrah. “Menjadi Pusat Pendidikan andalan Maritim nusantara lalu memberikan kontribusi pemikiran yg bernuansa action plan dalam penanganan masalah Kelautan. saya kira itu tadi bisa dilakukan” harap Sani yang langsung disambut oleh anggukan dari Rektor, Dekan dan wakil rektor yang ikut serta.

Selain menyandang maritim, juga menyandang Raja Ali Haji, lanjut Sani. Bicara Raja Ali Haji berarti bicara Gurindam Dua Belas, Bicara Gurindam Dua Belas, bicara Gurindam Dua Belas berarti bicara tentang nasihat-nasihat beliau. “Pertanyaannya sudahkah kita semua melakukan? tapi internal dulu ni, Rektor,Dekan, Dosen, sudah mengadopsi belum nasihat2 dari Raja Ali Haji itu, sudah baca belum? baca barangkali sudah. sudah baca dihayati dan diaplikasikan. baru disampaikan kepada mahasiswa. banyak yang bisa digali.” Kata Sani.

Sani berharap Umrah dapat menjadi leading-sector dalam Pengembangan nilai-nilai kearifan lokal Gurindam Dua Belas karena berbekal nama Raja Ali Haji yang menjadi bagian nama Umrah. “Jadi pak rektor, hal ini perlu barangkali jadi pemikiran. Paling kurang Relevan dengan UMRAH dapat menjadikan Kampus ini menjadi dambaan dan eksis dan bisa berkualitas” harapan Sani.

“Gubernur memiliki kewajiban moral walau kampus itu bersifat otonom. jadi saya melihat dari tepi-tepi saja karena tak bisa campur tangan. Apapun yg terjadi di Kepri ini tanggung jawab gubernur. Kita berkoordinasilah, kolaborasi kita” Pesan Sani.

Prof. Akhlus menanggapi apa yang disampaikan Sani tentang Maritim dan Raja Ali Haji. “Saya mau tambah sikit tentang masalah Maritim dan Raja Ali Haji. Kebetulan kan selain sebagai atase Pendidikan di KBRI saya juga pro-aktif di beberapa lembaga internasional. Sebetulnya inilah kesempatan negeri kita untuk bisa menunjukkan Ekonomi berbasis Maritim. Di Eropa sendiri konsep Blue Economy ini sudah mulai berkembang dengan baik dan saya kenal beberapa Ahlinya. Memang betul yg bapak bilang tadi seharusnya nuansa kemaritiman itulah yg menjadi dasar untuk mengembangkan struktur sistem Tranportasi laut kita. Selain dari sisi akademik bisa kita buat, tentu saja harus ada sisi Implementasi yang aplikatif” Ungkap Pria yang menyelesaikan S3-nya di ENSIC-NIPL Prancis ini.

Khusus budaya melayu lanjut Prof. Akhlus, kalau dihitung berdasar sejarah, budaya melayu ini lebih tua dari budaya Indonesia itu sendiri dan sudah diakui oleh Perancis Sendiri. “Sebenarnya yang paling utama itu adalah bagaimana kita dapat menunujukkan representasi budaya melayu ini dan yang paling penting adalah apa yang bisa kita tuangkan dari budaya melayu ini” Ujar Prof. Akhlus. Jadi bukan lagi nak klaim budaya itu dari kita karena bukan itu lagi masanya dan semua itu sudah ada catatannya. “Kalau kita  ke belanda itu semua rapi sekali, tentang percetakan pertama di Indonesia itu di Pulau Midai bukan pulau jawa. Banyak hal yang kita tak tahu tentang negeri kita ini ” Ungkap Prof. Akhlus.

Pertemuan tersebut diakhiri dengan Salam-salaman antara Rombongan dengan Gubernur. Kemudian Rektor dan Rombongan kembali ke kampus untuk bersilahturahim dengan Sivitas Akademika Umrah di Auditorium Kampus Dompak. (dip)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here