Buah Delima merah merekah,

Dimakan baginda sebelum bertitah

Majelis dimulai dengan Bismillah

Berharap Allah memberi berkah

Begitu Bunyi sebuah Pantun bersajak AA yang dibacakan oleh Rektor baru UMRAH, Prof. Dr. Syafsir Akhlus,M.Sc di hadapan segenap staff dan dosen UMRAH sebagai pembuka perkenalan dirinya sebagai rektor baru UMRAH meneruskan sisa masa jabatan periode 2012-2016, menggantikan Prof. Maswardi M. Amin.

Adi Pranadipa, ICT UMRAH

Syafsir-AkhlusPantun bersajak AA itu lalu dilanjutkan dengan permohonan izin Prof.  Akhlus untuk memperkenalkan diri. Sepintas agak tidak lazim, seorang rektor memohon izin untuk memperkenalkan diri kepada sivitas akademikanya. Namun hal itu yang betul-betul terjadi pada Sabtu(28/6) di Auditorium UMRAH Kampus Dompak, dalam pertemuan yang bertajuk Temu Ramah Staff dan dosen dengan rektor UMRAH yang baru.

Dalam pertemuan yang dihadiri oleh segenap staff dan dosen UMRAH tersebut Prof.  Akhlus mengungkapkan asal muasal nama Akhlus yang menjadi nama belakangnya.

“Akhlus itu diambil dari kata Ahlusunnah wal jama’ah. Karena konon ketika saya lahir, ayah saya menjabat sebagai ketua NahdatulUlama (NU)Provinsi Riau.Ketika itu Sedang Muktamar di Solo, anaknya lahir. Jadi supaya ingat sama NU-nya dikasi nama lah Ahlusunnah wal  jama’ah. Cuma karena Ahlusunnah wal jama’ah itu terlalu panjang, jadi Akhlusnya  saja yang diambil” ungkap Prof. Akhlus.
Kemudian Prof. Akhlus bercerita tentang masa kecilnya. Dia lahir di Pulau Bintan, tepatnya di Tanjungpinang. Sejak kecil dia tinggal di Jalan Sumatera di dekat Mesjid At-Taqwa. Berpindah-pindah tempat tinggal juga pernah dialaminya. Walau selalu berpindah-pindah tempat tinggal, ada satu hal yang cenderung tetap, tinggal dekat dengan mesjid.

“Ayah saya tu selalu pilih rumah yang dekat dengan mesjid. Rumah kami juga sempat  jadi mesjid, surau tempat orang mengaji. Pasal ayah saya dulu guru ngaji” tutur Prof. Akhlus.

Prof. Akhlus lalu mengurai cerita tentang masa kecilnya.Pernah waktu itu dia mengikuti lomba pidato memperingati Isra’ Mi’raj. Tak disangka-sangka dia dapat juara pertama. “Jadilah Sebentar saya jadi mubaligh cilik ceritanya. Kemana-mana saya pergi. Penjaga mesjid Kampung Baru, Pak Abu, beliaulah yang membawa saya kemana-mana”  kenang Peneliti bidang Sel Surya ini.

Selang waktu berlalu, Akhlus kecil dan keluarga berpindah pula ke Tanjunguban. Dia mulai mengeyam pendidikan Sekolah Dasar di SD 2 Tanjunguban. Tamat dari SD, lanjut ke SMP. Saat itu hanya ada satu saja SMP di Tanjunguban, SMP Negeri Tanjunguban. Karena tidak ada SMA di Tanjunguban, kembali dia ke Tanjungpinang untuk melanjutkan pendidikan ke tingkat SMA. Zaman  itu belum ada angka dibelakang nama SMA di Tanjungpinang, karena hanya ada satu saja SMA. “Di zaman kamilah pertama kali masuk SMA 1 Tanjungpinang. Sebelum itu tak ada, Cuma bernama SMA Negeri Tanjungpinang”  kenang Prof. Akhlus.

“Jadi ceritanya  tahun 76 tu karena yang masuk banyak, dipisahlah jadi SMA 1 dan SMA 2. Bedanya SMA 1 masuk pagi, SMA 2 masuk Siang. Sekolahnya sama, di situ juga. Itu cerita sikitlah kalau belum tahu” tambahnya sedikit bernostalgia.

Lalu sampailah waktu dimana Prof. Akhlus tamat SMA  tahun 1979. Setelah tahun 79 dia berangkat dari Pulau Bintan untuk merantau. Sejak tahun 79, bisa dibilang jarang balik ke kampung halaman, Tanjungpinang.

“Jadi setelah 35 tahun entah saya kemana pergi, akhirnya nasib pula lah yang mengantar saya balik lagi ke negeri ini. Dengan pesan yang lebih berat lagi, kalau dulu berangkat nak mencari ilmu. Sekarang ni balik, dapat pesan juga. Kalau dulu dari orang tua, sekarang ni beda, langsung dari pimpinan tertinggi kementerian, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan” kata Prof. Akhlus.

Bunyi pesan dari Pak Mendikbud sederhana saja, “Agar Apa yang sudah saya peroleh selama ini agar dikerahkan, digunakan untuk kemajuan Universitas Maritim Raja Ali Haji” ungkap pria yang menyelesaikan S3 di NIPL ENSIC Prancis ini.

Prof. Akhlus sebetulnya berat  ketika menerima amanah ini. Karena memang selama 35 tahun di luar, tentu ada lah sekali-sekali pulang ke Tanjungpinang waktu hari raya. Tapi tentulah tidak mengikuti bagaimana langgam di daerah ini. Tapi Dia masih tetap yakin kalau kurang lebih sama dengan masa dulu. Orang-orangnya baik-baik, murah senyum. Namun Prof. Akhlus sempat terkejut ketika membaca berita ada ramai-ramai disini.

“Eh, hebat juga ni ada kemajuan” katanya. Tapi dia yakin juga inilah dinamika, normal-normal saja. Tapi yang tidak normal kalau dinamika itu berterusan, maka perlu disikapi. Bahwa kalau akhirnya ada keputusan yang harus diambil maka begitulah kenyataan yang harus dihadapi.

“Saya pun tak pernah bermimpi nak duduk kat sini, kan begitu ceritanya. Tapi karena Allah sudah berkendak, kalau kita aplikasikan kun Fayakun itu maka jadilah dia. Itulah Kehendak Allah, semua kehendak Allah” ucapnya.

Ketika itu belum sampai dua bulan sebelum pelantikannya, dia menerima panggilan telepon sewaktu dia berada di perancis. Ternyata penelepon di ujung sana adalah Mendikbud. “Sebetulnya saya tak tahu ini permintaan atau perintah, bentuknya serupa, bahwa mohon kesediaannya untuk bisa memimpin Universitas Maritim Raja Ali Haji. Eh mimpi apa saya ini karena pada saat itu sebetulnya langkah itu tak kesini lah kira-kira. Jadi saya bilang saya tak bisa janji pak, saya pulang dulu, saya mau tahu apa ceritanya” ungkap Prof. Akhlus.

“Akhirnya saya pulang dulu, saya baca qur’an, apalah segala macam saya bertanya kiri kanan. Saya tengok dulu apa yang terjadi, akhirnya saya dapat gambaran suram-suram sebelah sini, suram sebelah sana. Nanti waktu kalau dah duduklah dapat terbuka semuanya” cerita Prof. Akhlus tentang bagaimana awal proses penunjukan dirinya sebagai Rektor UMRAH.

Menurut Prof.Akhlus tidak ada orang yang lebih baik dari orang lainya, tetapi yang ada itu adalah orang yang lebih berguna daripada yang lain. “Jadi mungkin saya berharap keberadaan saya ini akan memberikan kegunaan khususnya kepada bapak-bapak dan ibu-ibu semua bagaimana kita membangunan Universitas kita ni, dan Insha Allah kita semua nanti berguna bagi Mahasiswa kita, bagi masyarakat kita di Kepulauan Riau ini.” Ujarnya.

Berkenaan dengan UMRAH, dia berkali-kali menyampaikan kepada kawan-kawannya bahwa dirinya adalah Rektor UMRAH, bukan umroh. “ Kalau rektor umroh, sedikit lagi jadi rektor Haji” selorohnya sambil tersenyum. Dia menekankan bahwa nomenklatur ini harus ditegaskan betul-betul kepada siapapun, kapanpun, dan dimanapun. “Kalau dalam bahasa prancis huruf a nya itu diberi titik dua, diucapkan dengan terbuka mulutnya, jadi umrah. Kalau umroh, bahaya, kita dimarah pulak nanti, masak berubah pulak jadinya” ucap Prof. Akhlus.

Ada satu Cerita lagi mengenai keterkaitannya dengan UMRAH. Beberapa tahun lalu dia menerima sebuah telepon dari senior yang menjadi kenalannya. Kebetulan kenalannya itu menjadi ketua verifikasi proses penegerian UMRAH. Dia kemudian menirukan percakapan di telepon waktu itu.

“Pak Akhlus”

“Ada apa pak ?” jawab saya

“Ini lho Negeri sampean ini ada Universitas mau jadi negeri” dengan logat jawa

“Oh iya, saya tahu pak, ada masalah apa?” lalu  disebutkanlah masalahnya. Menanggapi apa yang disebutkan itu, saya kemudian bertanya,

“Ok pak, supaya bisa cepat bagaimana caranya ?“

“Harus Begini, begini, dan begini” Jawabnya

Jadi setiap kali langkah-langka penegerian umrah itu Dia selalu disebutkan. Jika ada hal yang kurang bisa dicarikan apa solusi kekurangannya, terus dikomunikasikan. Di tengah-tengah proses itu Prof. Akhlus mendapat tugas di perancis, tapi sebelum berangkat, dia memastikan bahwa tidak ada masalah dalam proses penegerian Universitas Maritim Raja Ali Haji.

 

“ Jadi itulah sedikit perkenalan saya dengan UMRAH. Saya tak jumpa orang-orangnya, tapi setiap kali masalah, sampainya ke saya.Jadi itulah kebetulan itu tadi. Kita coba, dan alhamdulillah UMRAH akhirnya mendapat predikat sebagai Universitas tercepat proses Negerinya. Macam mana tidak cepat, karena memang dicepatkan. Jadi hal-hal yang menganggu segera di pinggirkan” cerita Prof. Akhlus.

Sontak saja apa yang diceritakannya itu membuat Sivitas Akademika UMRAH yang hadir terperangah. Bahwa sosok baru bagi mereka yang akan menakhodai UMRAH dalam 2 tahun ke depan ini ternyata memiliki peran yang bisa dibilang cukup besar dalam proses penegerian UMRAH yang mencapai kemuncaknya, dengan diterbitkannya Peraturan Presiden No. 53 Tahun 2011 yang bertajuk Pendirian UMRAH sebagai Perguruan Tinggi yang diselenggarakan oleh Pemerintah.

Rektor UMRAH , Prof. Syafsir Akhlus Bersalaman dengan Staff dan dosen jelang Ramadhan
Rektor UMRAH , Prof. Syafsir Akhlus Bersalaman dengan Staff dan dosen jelang Ramadhan

“Proses Perubahan-perubahan yang ada saya minta pakai surat  di Dikti, supaya proses penegerian ini berjalan dengan baik. Begitu di koran saya tengok, Alhamdulillah sudah berhasil Universitas ini jadi negeri, senang hati saya kan. Eh, Alhamdulilah dapat rezeki balik lagi ke sini untuk bersama-sama disini” Lanjut Prof. Akhlus.

Prof Akhlus mengucapkan terima kasih kepada seluruh sivitas akademika yang sudah meluangkan waktu untuk hadir walaupun hari Sabtu. “Terlepas dari itu semua sekali lagi, saya izin untuk masuk ke UMRAH ini dengan satu tekad saja, bahwa Insha Allah kalau semua kita bekerja bersama-sama di bidang kita masing-masing dengan maksimal, maka kita akan mampu menghantarkan UMRAH ini dalam waktu yang cepat bisa segera menjadi Universitas yang akan diperhitungkan” Ucapnya yang kemudian disambut oleh tepukan yang gemuruh dari staff dan dosen UMRAH. (dip)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here