Diskusi Panel Rombongan SSDN Lemhanas PPRA 52 ke UMRAH. Diskusi ini turut dihadiri oleh Mahasiswa dan Dosen UMRAH. f.Adi Pranadipa/umrah.ac.id
Diskusi Panel Rombongan SSDN Lemhanas PPRA 52 ke UMRAH. Diskusi ini turut dihadiri oleh Mahasiswa dan Dosen UMRAH. f.Adi Pranadipa/umrah.ac.id

Sebanyak 29 orang rombongan dari Lembaga Pertahanan Nasional (Lemhanas) melakukan kunjungan ke Kampus Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH) di Pulau Dompak, Tanjungpinang, Senin (18/8). Rombongan Lemhanas yang dipimpin oleh DR. H Darma Kusuma,M.Si ini ke Kepri dalam rangka Studi Strategis Dalam Negeri (SSDN) PPRA 52  ke kabupaten/kota Provinsi Kepulauan Riau.

Rombongan diterima oleh Wakil Rektor II UMRAH, Dr. Rumzi Samin, Dekan FISIP, Drs. Sonhaji, M.Si, Dekan Fakultas Ekonomi, Dr. Mugi Harsono, Dekan FIKP, Dr. Ir. Bustami di Auditorium UMRAH.

Dr. Rumzi Samin, Wakil Rektor II UMRAH dalam pemaparan singkatnya di depan sejumlah rombongan lemhanas itu menjelaskan bahwa UMRAH ini adalah sebuah Perguruan Tinggi Negeri baru di Kepri yang dinegerikan  pada tanggal 8 September yang ditandai dengan Peraturan Presiden No. 53 Tahun 2011. Saat ini UMRAH memiliki 2 lokasi Kampus, Senggarang dan Dompak dengan 7000 mahasiswa yang aktif. Sebelumnya Dr. Rumzi mengawali dengan pesan rektor UMRAH, Prof. Syafsir Akhlus yang berhalangan hadir karena harus berangkat ke luar Daerah.

Rombongan Lemhanas yang hadir, antara lain mantan Asop Lantamal IV Tanjungpinang, Kolonel Laut (P) Abdul Rasyid Kacong, SE, Ketua Kelompok Peserta SSDN, DR Ardi Partadinata MH. Msi, Seswandah Lemhanas, Sekretaris rombongan Kolonel CZI Moerijadi Sarwono, dan yang lainnya.

Dalam diskusi panel, salah seorang peserta SSDN Lemhanas mengajukan pertanyaan mengenai apa kontribusi UMRAH terhadap Pendidikan Maritim Kepri. Pertanyaan tersebut kemudian dijawab oleh Dekan FE, Dr. Mugi Harsono.

“Apa Kontribusi UMRAH saat ini ? Karena usia UMRAH yang sangat muda maka Kontribusi UMRAH saat ini baru dalam proses mendesain pendidikan Maritim itu. Dalam Desain awalnya dua Fakultas yang diplot untuk menjadi Fakultas khas maritim yaitu Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan dan Fakultas Teknik. Misalnya di Fakultas Teknik nanti ada jurusan Teknik Perkapalan, Teknik Sipil Kelautan, akan ke situ arahnya.” ujar Dr. Mugi.

Lalu bagaimana dengan Fakultas Ekonomi ? Dr. Mugi lalu menjelaskan tentang kebijakan yang sudah disepakati bawah Fakultas supporting seperti FISIP, FE, dan FKIP ada mata kuliah bersama tingkat universitas yaitu Pengantar Ilmu Maritim. Kalau di Fakultas Ekonomi pihaknya sedang mendesain sebuah jurusan yang bernama Maritime Economics (Ekonomi Maritim). “Jurusan Maritime Economics ini belum ada dimana-mana” jelas Dr. Mugi. Dia lalu menjelaskan bahwa rujukan jurusan Ekonomi Maritim ini adalah kajian-kajian yang sudah dilakukan selama ini sambil kemudian disempurnakan sambil jalan.

Ketika awal menjejakkan kaki di UMRAH , Dr. Mugi sempat prihatin dengan hasil survei yang dilakukan Fakultasnya bahwa mayoritas mahasiswa yang kuliah ini ingin menjadi PNS. “Hal ini membahayakan, maka sudah seharusnya potensi laut ini dikenalkan kepada mereka. Laut tidak hanya ikan, potensi di atasnya, di tengah, hingga dasar laut itu punya nilai Ekonomi yang bisa memberikan kemakmuran kepada masyarakat kepri. ini yang harus dipahamkan kepada masyarakat Kepri supaya bijak mengelola daerahnya” ungkap Pengajar Universitas Sebelas Maret  Surakarta tersebut.

Dekan FIKP, Dr. Bustami lalu memaparkan bahwa kebanyakan persepsi maritim hanya soal ikan, padahal kelautan itu hanya bagian kecil dari Maritim. Ada jasa-jasa yang ada di laut seperti Transportasi, lalu telekomunikasi dimana kabel-kabel bawah laut yang melintang, listrik, Pipa-pipa gas. Laut sudah menjadi komoditas ekonomi, bahkan hingga masalah pertahanan karena Kepri berada  di daerah perbatasan. Masalah laut ini lintas departemen. Keberadaan UMRAH ini sangat cocok karena memiliki kajian lintas disiplin seperti Politik, Ekonomi, Teknik. Maka UMRAH mencoba menyamakan persepsi tentang Maritim diantara Fakultas-fakultas.

“UMRAH ini merupakan satu-satunya di indonesia, di tengah Universitas Maritim Dunia, seperti World Maritime University (WMU) lalu Dalian Maritime University di China, dan Universitas Maritim lainnya di India dan Korea” ungkap Dr. Bustami.

Pemaparan tentang Maritim oleh Dekan Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan UMRAH, Dr. Bustami. f.Adi Pranadipa/umrah.ac.id
Pemaparan tentang Maritim oleh Dekan Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan UMRAH, Dr. Bustami. f.Adi Pranadipa/umrah.ac.id

Dekan FISIP, Drs. Sonhaji, M.Si menambahkan bahwa karena UMRAH ini terletak di perbatasan, peran UMRAH sangat penting untuk menanamkan jatidiri kebangsaan, apalagi dalam hitungan bulan Indonesia akan memasuki Asean Economic Community. Ke depan menjadi tugas UMRAH ini untuk membentengi ideologi masyarakat perbatasan. “Hal ini menjadi wake up call bagi UMRAH” ujarnya.

Pada bulan Mei yang lalu, Pihaknya sudah mengundang pakar-pakar untuk   melakukan formulasi Kurikulum FISIP yang berbasis Maritim. Hasil dari kegiuatan tersebutan dapatlah beberapa Mata kuliah yang menjadi pengembangan inti keilmuan Maritim. Misalnya di FISIP di indonesia yang lain  ada mata kuliah Sosiologi, maka di FISIP UMRAH secara spesifik Sosiologi Masyarakat Maritim atau Pesisir. Lalu Kebijakan Publik Maritim (Maritime Public Policy), tentang Pengambilan Kebijakan di bidang maritim akan dikembangkan di jurusan Administrasi Negara. Untuk Ilmu Pemerintahan, akan dikembangkan sebuah mata kuliah Dinamika Politik Masyarakat Perbatasan karena dinamisnya eskalasi politik masyarakat perbatasan.

“Harapan kami UMRAH menjadi Centre of Excellence di bidang Maritim, kelak ketika orang ingin belajar tentang Maritim ya ke UMRAH” Pungkas Pengajar UNS Surakarta ini. (dip)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here