Kuliah umum walikota Batam, Dr Ahmad Dahlan di UMRAH

Ratusan mahasiswa Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH) Tanjungpinang dari berbagai jurusan mengikuti kuliah umum ‘Batam the Smart City’ dengan narasumber Walikota Batam, Ahmad Dahlan. Kuliah umum dilaksanakan di Aula Kampus UMRAH, di Dompak, Selasa (19/5).

Kuliah umum oleh Ahmad Dahlan dengan mengusung tema Batam the Smart City ini merupakan kali pertama dilaksanakan di luar Batam. Sebelumnya, Dahlan telah melakukan roadshow sebagai dosen tamu memberikan kuliah umum yang sama di Universitas Riau Kepulauan (Unrika), Universitas Putra Batam (UPB)‎, Universitas Ibnu Sina, dan Politeknik Negeri Batam.

Dalam paparannya, Dahlan menjabarkan konsep awal pembangunan Batam yang didesain sebagai kota industri, perdagangan, alih kapal dan pariwisata. Sebagai kota dengan pertumbuhan ekonomi yang tinggi, Batam menjadi tumpuan harapan bagi orang-orang yang ingin mencari rezeki dan meningkatkan perekonomiannya.

Hal itu mengakibatkan arus urbanisasi yang tinggi ke Batam. Saat ini jumlah penduduk Batam telah mencapai 1,2 juta jiwa. “Hal ini juga terjadi di kota-kota besar di Indonesia. Surabaya, Medan, Semarang, Bandung, Depok dan yang lain juga mengalami urbanisasi yang tinggi karena pertumbuhan perekonomiannya. Istilahnya ada gula ada semut,” ujarnya.

Lebih lanjut Dahlan mengatakan, awal dibangunnya Batam adalah upaya pemerataan pembangunan yang sejak awal bertumpu di pulau Jawa. Untuk itu Batam dibangun sebagai pemicu tumbuhnya perekonomian di Indonesia bagian barat. Dengan tingginya pertumbuhan ekonomi di Batam membawa multiple effect bagi daerah sekitar sehingga bisa ikut tumbuh perekonomiannya.

Untuk itu lanjut Dahlan, bagi sebuah kota yang menjadi tumpuan harus bertransformasi menjadi smart city, kota yang modern, yang mampu memberikan kenyamanan bagi masyarakat yang tinggal. Di antaranya adalah smart di bidang ekonomi, smart dalam hal pelayanan dan penyediaan infrastruktur serta sarana fasilitas pendukung serta smart di bidang lingkungan.

Selain letak Kota Batam yang sangat strategis, Dahlan mengatakan perkembangan industri, perdagangan, pelabuhan dan pariwisata di Kota Batam juga merupakan suatu hal yang mendorong dijalankannya program Batam Smart City ini. “ Batam ini berada pada posisi ke tiga setelah Bali dan Jakarta dalam hal kunjungan wisatawan, baik itu domestik maupun mancanegara. Meskipun kunjungan itu hanya sekedar untuk transit, belanja maupun liburan” tambahnya.

“ Untuk infrastruktur menuju Smart City, Kami sudah menyiapkan infrastruktur air bersih dan listrik yang memadai dengan cadangan yang cukup untuk masa mendatang,” ungkapnya. Untuk air misalnya, Batam memiliki tujuh waduk sebagai sumber air bersih bagi warga. Dikelola swasta, penyediaan air bersih ditujukan bagi industri dan rumah tangga. Beberapa pelayanan publik di Batam memang dikelola swasta. Selain air, pengolahan sampah dan listrik juga diserahkan kepada pihak swasta.

Soal posisi Kampung Tua dalam menuju Batam Smart City ikut menjadi bahasan dalam sesi Diskusi. Salah seorang Mahasiswi UMRAH yang kebetulan asli Nongsa bertanya kepada Dahlan. “Apakah kampung tua hanya sekedar Gerbang saja, di Nongsa, semak makin belukar dan ilalang semakin meninggi?” tanya mahasiswi tersebut.

Menanggapi pertanyaan ini , Dahlan menjelaskan bahwa Kampung Tua tidak sekedar Gerbang saja, ada proses kemudian yang akan menjadikan kampung tua lebih baik kondisinya dari sekarang ini.Untuk itu, pihaknya sedang menyusun perda untuk menjaga sekitar 33 kampung tua yang ada di Batam agar tidak terimbas pembangunan Batam.

Lain lagi pertanyaan dari mahasiswa yang berada di baris kanan auditorium kampus Dompak, Mengapa Tanjungpinang berbeda dengan Batam?. Menanggapi pertanyaan ini, Ahmad Dahlan kemudian menuturkan bahwa sejak Tanjungpinang tidak didesain seperti batam. Batam dari awal sudah dirancang untuk menjadi sebuah kota Industri .

“Tanjungpinang dan Batam tidak bisa dibandingkan, karena masing-masing punya kekhususan sendiri-sendiri” Ujar Suami Mariana Djohan ini.

Tanjungpinang menurutnya masih teguh memegang nilai-nilai budaya melayu dengan kokoh dan rasa kekeluargaan masyarakat Tanjungpinang lebih baik daripada batam. “Dalam hal gotong royong masyarakat Tanjungpinang lebih kuat partisipasinya daripada Batam” ujar Walikota Batam ini.

“Tanjungpinang jauh sudah eksis sebelum Batam ada, dan warisan sejarahnya sangat luar biasa, Coba lihat Gedung daerah yang tepi laut itu, itu awalnya gedung residen Belanda” Jelas Ahmad Dahlan.

 

Kegiatan ini diakhiri dengan acara penyerahan cinderamata berupa buku bertajuk “Sejarah Melayu” yang ditulis oleh Dahlan dari disertasinya yang diberikan kepada kepada Rektor UMRAH, Warek I, dan beberapa mahasiswa yang menjadi perwakilan dari masing-masing fakultas.

Sudah lazim kiranya bertukar cinderamata, Rektor dan Warek I juga memberikan cinderamata berupa buku-buku yang ditulis oleh mereka kepada Dahlan. Buku berjudul “Kurangkan Bebual, Banyakkan Berbuat” yang ditulis Prof Ahlus dan “The Power of Nak” yang ditulis oleh Prof. Firdaus LN diserahkan langsung kepada Dahlan.(Adi pranadipa/ICT UMRAH/Mediacentre Batam)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here