Melihat kondisi terkini mengenai penyebaran virus corona atau yang disebut Covid-19 akhir-akhir ini secara global cukup signifikan. Tak dapat dielak hal serupa juga dialami di Indonesia. Mulai dari Presiden, Menteri hingga Kepala Daerah sudah mengeluarkan Instruksinya terkait Kewaspadaan dan Pencegahan terhadap Virus Corona (Covid-19) tersebut.

Melihat kondisi tersebut, Teraju UMRAH mencoba untuk mendengar langsung bagaimana sikap UMRAH dalam menghadapi Covid-19 itu di Institusinya. Tanpa membuang waktu di hari Selasa (17/3) Teraju UMRAH langsung mengadakan Wawancara Ekslusif bersama Rektor Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH) Prof. Dr. Syafsir Akhlus, M.Sc untuk mendapatkan penjelasan. Berikut ulasannya:

Apa Tanggapan UMRAH terhadap Covid-19 ?

Terkait dengan kesiapan dan respon UMRAH terhadap peristiwa Covid-19 yakni langkah awal UMRAH sudah berkonsultasi dengan Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kepri, dan disarankan UMRAH selalu comply (memenuhi) Protokol kesehatan dan ketentuan yang berlaku dalam pencegahan terhadap Covid-19 dan itu telah kita laksanakan

Contohnya jauh sebelum ada edaran tentang kuliah daring, UMRAH telah melaksanakannya terlebih dahulu yakni menggunakan Syarah UMRAH

Mengapa UMRAH belum Merumahkan Mahasiswa dan Tidak melakukan perkuliahan daring diluar kampus?

UMRAH belum merumahkan mahasiswa dan belum melaksanakan kuliah dengan On-Line tradisional (traffic data via internet), dengan beberapa pertimbangan yakni:

  1. Jika kuliah dengan On-Line tradisional maka mahasiswa akan mengeluarkan budget untuk kuota internet, bila mereka mencari yang gratis maka mereka akan bertebaran di cafe-cafe dll. Jelas tambah tidak terkontrol interaksinya
  2. Meminta mahasiswa untuk tinggal di rumah adalah pekerjaan yang musykil. Kalau anak sekolah ada orang tua yang menjaganya, nah kalau mahasiswa apalagi di tempat kosnya tidak ada internet bisa ditebak bagaimana hasilnya

Maka dari itu UMRAH masih mewajibkan kepada mahasiswa yang sehat untuk ke kampus agar terisolasi di kampus. UMRAH juga menyediakan fasilitas sabun antiseptik di semua toilet agar mahasiswa menjaga kebersihan tangannya (virus covid-19 berpindah secara droplet dan larut dengan pelarut lipid), selama kita tidak terpapar bersin atau batuk dan selama tangan kita bersih maka tidak ada covid-19 di tubuh kita

Bagaimana UMRAH memastikan bahwa Mahasiswa yang berkuliah di Kampus dalam kondisi aman?

Ada beberapa aturan yang telah kita buat dan mengacu pada ketentuan protokol kesehatan terkait Covid-19 ini dan secara geografis pula sebenarnya kampus UMRAH dua-duanya (senggarang-dompak) merupakan daerah yang terisolasi atau terpencil, jadi ideal untuk tempat karantina atau isolasi

Nah Mahasiswa yang sehat yang terisolasi di kampus diharuskan menjaga jarak sosial (social distancing), apabila tak bisa dihindari baru wajib menggunakan masker

Tadi Bapak katakan UMRAH belum melaksanakan kuliah On Line Tradisional, bisa Bapak jelaskan?

Kuliah diberikan secara on Line on Campus (OLOC) dimana traffic data via intranet bukan internet, sebagaimana yang diketahui aplikasinya telah dirancang sendiri dengan nama Syarah UMRAH. Dengan Syarah ini mahasiswa tidak perlu kuliah di kelas (bisa dimana saja di dalam kampus), sehingga bisa menjaga jarak sosialnya

Selain itu Mahasiswa tidak mengeluarkan biaya pulsa, UMRAH tidak membayar bandwidth dan tentu saja aplikasinya gratis

Lalu bagaimana dengan Dosen dan Tenaga Kependidikan di UMRAH?

Syarah UMRAH didisain sedemikian rupa sehingga mahasiswa hanya bisa on Line di kampus, sedangkan Dosen dapat on Line darimana saja (traffic datanya bisa intranet dan bisa internet). Jadi dosen tidak diwajibkan hadir di kampus, bisa mengatur karantina dirinya sendiri.
Sedangkan tenaga kependidikan (tendik) kita menerapkan pola shift agar jumlah person dalam ruang dapat direduksi setengahnya. Ini untuk memudahkan aplikasi social distancing menjadi efektif, sementara pekerjaanpun tetap berlangsung normal

Terakhir, Bagaimana jika Mahasiswa dan Civitas Akademika lainnya merasa tidak sehat?

Mahasiswa atau Civitas Akademika yang sakit atau setidaknya menunjukkan gejala sakit, apalagi sesuai gejala akibat Covid-19 tidak diperbolehkan ke kampus dalam kurun waktu minimal 14 hari, dan selanjutnya dapat memberitahukan ke ketua jurusan bagi Mahasiswa, melapor pada atasan langsung bagi Civitas Akademika lainnya, lalu melakukan karantina mandiri dan menghubungi dinas kesehatan untuk tindakan lebih lanjut sesuai ketentuan yang ada

Saya rasa itulah beberapa sikap UMRAH dalam menghadapi Covid-19 yang sedang mewabah saat ini. Harapan saya, semoga seluruh Civitas Akademika UMRAH terus diberikan nikmat sehat oleh Allah S.W.T sehingga dapat menjalankan aktivitas sehari-hari dengan baik. Jangan lupa terapkan pola hidup sehat serta hindari pusat keramaian

(Rendi/Humas)

2 COMMENTS

  1. Umrah semoga bisa menjadi bagian yang memberikan sosialisasi kepada masyarakat tentang corona sehingga masyarat bisa tetap sehat dan melakukan aktivitas seperti biasa.

  2. Saya sangat menghormati keputusan dari umrah untuk menghadapi pandemi ini.
    Tapi kalau saya boleh menyuarakan pendapat saya, sejujurnya kurang sependapat dengan keputusan yg umrah lakukan karena.
    Sangat bagus karena umrah memikirkan mahasiswa/mahasiswi-nya kalau kuliah secara online tradisional akan membebankan biaya kuota internet ke mahasiswa/siswi-nya. Tapi tanpa adanya kuliah online pun pasti mereka akan tetap membeli kuota internet untuk kehidupan sosialnya. Betul, bila mereka mungkin akan mencari alternatif dengan ke cafe dsb, yg menurut umrah tidak bagus untuk mereka disaat pandemi ini, tapi tanpa mereka datang ke cafe atau tempat lain untuk internet pun, mereka diharuskan datang ke kampus untuk menjalankan kuliah yg dimana dalam perjalanan ke kampus pun juga mempunyai peluang penularan virus tersebut. Yg kita ketahui virus tersebut akan bereaksi dalam waktu 14 hari. Dan tanpa disadari akan menjadi “pembawa” virus kedalam kampus karena harus datang ke kampus untuk menjalankan mata kuliah tsb.
    Seperti disebutkan tadi kalau mata pelajaran hanya bisa diakses dikampus, bagaimana dengan mahasiswi/mahasiswa yg terkena virus tsb yg tidak bisa datang kuliah? Apakah mereka terpaksa tidak bisa mengikuti mata pelajaran kuliah?
    Kalaupun untuk dosen bisa online dimana saja dan kapan saja, alangkah baiknya mahasiswi/mahasiswa juga bisa mengakses mata kuliah online dimanapun dan kapanpun.
    Sekian dari saya mohon maaf apabila ada salah kata, dan terimakasih

Leave a Reply to Amelia Cancel reply

Please enter your comment!
Please enter your name here