Guangxi, Cina– Menjawab visi Universitas Maritim Raja Ali Haji  (UMRAH) sebagai Center of Excellence atau Pusat Kecemerlangan dalam bidang Riset dan Budaya Maritim, Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan (FIKP) UMRAH terus melakukan perluasan jejaring riset internasionalnya terutama di kawasan Asia Pasifik.

Dekan FIKP UMRAH, Dr. Agung Dhamar Syakti, memenuhi jemputan untuk hadir dan berpartisipasi dalam kegiatan The Sixth China-Southeast Countries Marine Cooperation Forum yang dihelat pada tarikh 15 hingga 17 November 2018 yang lalu di kota pesisir Beihai, Propinsi Guangxi – di negeri Tiongkok sana.

Forum ini sendiri bertujuan untuk meningkatkan komunikasi dalam bidang ilmu dan teknologi kelautan diantara negara-negara Asean dan China.

Sebanyak 400 peserta hadir dalam kegiatan yang dibagi menjadi beberapa sesi ilmiah itu. FIKP UMRAH yang diwakili oleh Dr. Agung berkesempatan memaparkan kegiatan mitigasi sampah plastik di pesisir Kepulauan Riau yang merupakan kerja bersama antara pegiat lingkungan, masyarakat, pemerintah kota Tanjungpinang, dan Pemprov Kepri lewat kegiatan World Clean-Up Day. Riset-riset mikroplastik UMRAH juga turut dipaparkan.

Delegasi Indonesia sendiri diwakili oleh Kemenkomaritim, LIPI, BMKG dan UMRAH sebagai satu-satunya perwakilan perguruan tinggi.

Bersempena dengan kegiatan tersebut, FIKP UMRAH juga menandatangani Nota kesepahaman bersama dalam bidang pendidikan dan riset dengan Marine Ecology Research Center, First Institute of Oceanography, State Oceanic Administration/Ministry of Natural Resources (China) dimana bidang kerjasama risetnya meliputi;

Kajian bersama spesies laut yang mengalami kepunahan (Marine Endangered Animal) seperti Duyung atau Dugong (Dugong dugon) Pesut (Orcaella brevirostris) dan Penyu Hijau (Chelonia midas). Kesemuanya masuk dalam daftar merah IUCN dengan status konservasi rentan (threatened: vulnerable) untuk Duyung dan terancam punah (threatened endangered) untuk Pesut dan Penyu Hijau. Nanti riset-nya akan menggunakan peralatan unmanned aerial vehicle (UAV) atau lebih dikenal dengan drone, Unmanned Surface boat Vehicle (USVs), tagging satellite, buoy, bioakustik dan metode biologi molekuler.

Kemudian Kajian bersama riset mikroplastik di lautan, kajian oseanografi dan telemetri untuk memahami sirkulasi arus dan cuaca serta aplikasi lainnya, pertukaran dosen dan mahasiswa serta supervisi bersama program Doktoral bagi para dosen di lingkungan FIKP UMRAH

Melalui pesan singkat aplikasi perpesanan Whatsapp Dr. Agung menuturkan bahwa salah satu langkah konkrit cepat yang dilakukan adalah dengan pembentukan konsorsium riset antara peneliti Malaysia dan Thailand dengan proyek riset Marine Endangered Species Project (MESP).

“Proyek Riset MESP ini akan dilakukan di pelbagai perairan di Asia Tenggara seperti di Trhang (Thailand), Teluk Brunei (Malaysia) dan juga Bintan (Indonesia)” Tulis Dr. Agung kepada editor umrah.ac.id melalui whatsapp.

Direncanakan bulan Juni 2019 mendatang FIKP UMRAH akan mengadakan pelatihan observasi Dugong, Pesut dan Penyu Hijau di Tanjungpinang dengan peserta dari berbagai peneliti di ASEAN.

Langkah-langkah bergeliga FIKP UMRAH ini sendiri adalah upaya mewujudkan visinya menjadi Pusat Unggulan/Kecemerlangan (center of excellence) dalam pengelolaan sumberdaya kelautan, perikanan dan kemaritiman di Asia Pasifik.

“Mimpi saya, orang dari berbagai Negara sahabat akan belajar tentang kelautan, perikanan dan kemaritiman di FIKP UMRAH. Nah cita-cita ini pelan-pelan mulai kita wujudkan” tulis Dr. Agung, yang memiliki kepakaran di bidang pencemaran laut dan bioremediasi lingkungan, dan termasuk outstanding scientist di Indonesia melalui pesan Whatsapp yang dikirim langsung dari Negeri Tirai Bambu.

Editor: Adi Pranadipa

*Mara : Bersinonim dengan bergerak ke mukatampil ke depanmajumelangkah ke depan;

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here