Menggali “Emas Biru” Kepri: Orasi Inspirasi Prof. Lily Viruly untuk Lulusan UMRAH

TANJUNGPINANG – Semarak perayaan Wisuda Sarjana ke-XXVI dan Pascasarjana ke-VII Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH) kali ini tidak sekadar menjadi ajang pemindahan kuncir toga. Di tengah lautan kebahagiaan para wisudawan, sebuah tamparan realita sekaligus suntikan inspirasi hadir melalui Orasi Ilmiah yang dibawakan oleh Guru Besar Bidang Peptida Biota Laut UMRAH, Prof. Dr. Lily Viruly, S.TP., M.Si.. Membawa tema besar “Bioprospeksi Kelautan: Anugerah Ilahi untuk Kemaslahatan”, orasi ini sukses membongkar paradoks besar yang selama ini membelenggu potensi maritim Indonesia.

Prof. Lily dengan lugas menyoroti “Paradoks Kelautan Indonesia”, sebuah kondisi ironis di mana kekayaan hayati kita melimpah ruah, namun pemanfaatannya masih jauh dari kata optimal dan berkelanjutan. Fakta di lapangan yang disajikannya cukup membuat dahi berkerut, sebab dari sekitar 35.000 hingga 40.000 sarjana kelautan dan perikanan yang dicetak setiap tahunnya, hanya 35 persen yang benar-benar terserap bekerja di sektor maritim. Selebihnya, sebanyak 45 persen justru menyeberang bekerja di luar sektor maritim, 13 persen masih berstatus mencari kerja, dan angka yang memilih jalur wirausaha baru menyentuh 7 persen. Realita ini mengisyaratkan adanya jurang inovasi yang curam antara dunia pendidikan dan kebutuhan industri bernilai tinggi.

Sebagai jalan keluar dari krisis tersebut, Prof. Lily menawarkan gagasan bioprospeksi kelautan, yang ia maknai bukan hanya sebagai langkah ilmiah, tetapi juga bentuk syukur atas karunia Ilahi yang termaktub dalam Surah An-Nahl Ayat 14.

Bioprospeksi adalah seni mengubah biodiversitas laut menjadi kekuatan bio-ekonomi, menyulap biota lokal menjadi produk komersial seperti obat-obatan, nutrisi, hingga kosmetik. Bagi Prof. Lily, lautan bukan sekadar tempat menangkap ikan, melainkan sebuah laboratorium raksasa dan “apotek masa depan” yang menunggu untuk diracik.

Pembuktian nyata dari laboratorium UMRAH pun dipaparkan dengan bangga. Siput Gonggong (Leavistrombus turturella), yang selama ini hanya dikenal sebagai hidangan ikonik dan cangkang pajangan khas Kepulauan Riau, berhasil disulap menjadi deretan inovasi bertaraf global.

Salah satu gebrakan terbesarnya adalah Kopi Gonggong, minuman peningkat vitalitas dan stamina yang memadukan kopi dengan ekstrak daging siput laut tersebut. Produk bersertifikat halal dan telah dipatenkan ini terbukti kaya akan senyawa penting seperti taurin, kafein, dan zinc.

Tidak berhenti di meja makan, peptida dari siput gonggong ini juga telah terbukti secara ilmiah mampu menjadi kandidat antibiotik alami yang tangguh dalam menghambat bakteri E. coli dan S. aureus, sebuah temuan yang bahkan telah menembus jurnal internasional bereputasi.

Selain gonggong, inovasi sosial juga dihadirkan melalui Biskuit “I-PARTI” berbahan dasar ikan parang-parang yang mengandung protein tinggi mencapai 13,68 persen, yang didesain khusus untuk membantu mengentaskan masalah stunting pada anak. Melalui rentetan karya nyata ini, pesan yang ingin disampaikan sangatlah jelas. Prof. Lily menantang para lulusan untuk berhenti puas hanya dengan gelar akademik dan mulai bertransformasi dari seorang “scholar” (sarjana) menjadi seorang “innovator”.

Lulusan UMRAH tidak boleh lagi sekadar ikut arus semata, tetapi harus mengambil peran berselancar diatas ombak sebagai arsitek kemajuan bangsa dengan berani membangun usaha rintisan (start-up) berbasis kelautan. Mengakhiri orasi Ilmiahnya, Prof. Lily menyampaikan pesan penutupnya yang begitu menggema, “lautan adalah hamparan ilmu yang tak terbatas, maka jadilah ombak yang membawa perubahan, bukan sekadar buih yang hilang tak berbekas di tepian”.

Narasi & Editor : Adi Pranadipa; Rendi A. Saputra – Humas UMRAH
Foto : Rendi A. Saputra

Scroll to Top