Orasi Ilmiah Rektor UMRAH di Dies Polindra : Strategi Kolektif atasi Darurat Guru Besar PTNB
INDRAMAYU, umrah.ac.id – Rektor Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH) sekaligus Sekretaris Dewan Guru Besar (DGB) Perguruan Tinggi Negeri Baru (PTNB), Prof. Dr. Agung Dhamar Syakti, S.Pi., DEA., menyampaikan orasi ilmiah pada peringatan Dies Natalis ke-18 Politeknik Negeri Indramayu (Polindra), Jumat (17/7/2026).
Dalam orasi yang bertajuk “Akselerasi Guru Besar PTNB: Membangun Ekosistem Riset Kolektif, Scientific Leadership, dan Keberlanjutan Multi-Generasi”, Prof. Agung memaparkan evaluasi dan tantangan yang dihadapi oleh 36 PTNB di Indonesia terkait pemenuhan Sumber Daya Manusia (SDM) akademik pada jenjang fungsional tertinggi.
Tantangan SDM Akademik Menuju Indonesia Emas 2045
Mengawali orasinya, Guru Besar Bidang Ilmu Pencemaran Laut dan Bioremediasi ini menyampaikan rasio dosen dengan gelar Guru Besar secara nasional. Berdasarkan data, dari total 331 ribu dosen aktif, Indonesia memiliki sekitar 11.200 Guru Besar (2,61%). Angka ini masih perlu ditingkatkan untuk mendekati rasio ideal global sebesar 10%. Tantangan serupa juga terlihat pada lingkungan PTNB, di mana rata-rata rasio guru besar masih berada di bawah 2%.
“Di 36 PTN Baru, secara kolektif terdapat 67 profesor penuh. Kondisi ini menjadi perhatian kita bersama karena ketersediaan Guru Besar sangat penting sebagai jangkar intelektual untuk mengawal regenerasi akademik di daerah, sekaligus mendukung pencapaian visi Indonesia Emas 2045,” ujar Prof. Agung, merujuk pada gagasan yang juga baru ia ulas dalam opini di Media Indonesia.
Beliau juga mengidentifikasi beberapa faktor operasional yang memengaruhi produktivitas dosen di PTNB. Faktor tersebut meliputi beban mengajar (SKS) yang cukup tinggi, kebutuhan penyesuaian insentif, serta tantangan dalam menjaga integritas akademik di tengah proses pemenuhan angka kredit.



Peluang Melalui Regulasi Baru 2026
Meskipun terdapat tantangan struktural, Prof. Agung menyampaikan bahwa terbitnya regulasi terbaru—Permendiktisaintek No. 52/2025 tentang Profesi, Karier, dan Penghasilan Dosen serta Kepmendiktisaintek No. 39/M/KEP/2026 tentang Juknis Layanan Kenaikan Jabatan—menjadi momentum perubahan yang positif.
“Regulasi baru pada tahun 2026 ini mendorong perubahan paradigma. Promosi kini lebih difokuskan pada penilaian kinerja nyata dan portofolio lintas Tridharma. Ini adalah kesempatan bagi PTNB untuk merumuskan Standar Operasional Prosedur (SOP) internal yang adaptif, guna mendampingi dosen Lektor Kepala memenuhi kualifikasi Guru Besar,” jelas akademisi yang juga menjabat sebagai Associate Editor Marine Pollution Bulletin (Elsevier) tersebut.
Empat Strategi Ekosistem Riset Kolektif
Sebagai langkah perbaikan yang operasional, Rektor UMRAH mengusulkan model “Ekosistem Riset Kolektif”, yaitu sebuah konsep yang berfokus pada kolaborasi antara peneliti, institusi, dan sumber daya akademik. Terdapat empat langkah strategis yang ditawarkan:
- Skema Sabatikal Terbalik (Extended Detaseering): Penempatan profesor senior dari Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (PTN-BH) ke PTNB selama 1–4 tahun sebagai co-supervisor dan mentor riset guna memperkuat ekosistem langsung dari laboratorium lokal.
- Percepatan Administrasi Melalui Asesor Khusus: Mendorong Kemendiktisaintek membentuk tim verifikasi khusus untuk mengefisienkan durasi penilaian usulan dari PTNB, dengan target penyelesaian maksimal 6 bulan tanpa mengurangi standar kualitas.
- Konsorsium Riset Afirmatif: Penyesuaian skema hibah riset kompetitif dengan memberikan kuota afirmasi bagi dosen PTNB untuk mengambil peran sebagai peneliti utama atau co-author.
- Reorientasi Dana untuk Post-Doctoral PTNB: Pengalokasian program beasiswa (seperti LPDP) selama 6–12 bulan di universitas mitra luar negeri agar dosen bergelar Doktor dari PTNB dapat berfokus memproduksi publikasi internasional yang bereputasi.
Membangun Kepemimpinan Ilmiah (Scientific Leadership)
Sebagai penutup, Prof. Agung mengingatkan bahwa pencapaian gelar Guru Besar merupakan awal dari tanggung jawab akademik yang lebih luas kepada peradaban. Guru Besar di PTNB diharapkan mampu menunjukkan Scientific Leadership—menjadi mitra strategis kebijakan pemerintah daerah, berperan aktif dalam penjaminan mutu tata kelola kampus, serta menjaga integritas keilmuan.
“Regenerasi akademik harus dijaga kesinambungannya. Guru Besar membimbing Lektor Kepala, Lektor Kepala membina Lektor, dan Lektor mengarahkan Asisten Ahli. Melalui pola pendampingan multi-generasi yang terstruktur ini, kita optimis rasio Guru Besar PTNB dapat terus ditingkatkan dalam lima tahun ke depan,” tutupnya.
Sivitas akademika UMRAH mengucapkan Selamat Hari Jadi ke-18 untuk Politeknik Negeri Indramayu (Polindra). Harapannya, sinergi dan kolaborasi riset antar-PTNB di Indonesia, khususnya antara UMRAH dan Polindra, terus berjalan selaras demi memajukan kualitas pendidikan tinggi nasional. (Humas UMRAH)
Editor : Adi Pranadipa, S.I.Kom / Editor Humas UMRAH
