Peringati Dies Natalis ke-19, Rektor UMRAH Ziarah ke Pusara Raja Ali Haji
PULAU PENYENGAT – Sempena peringatan Dies Natalis ke-19, Rektor Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH) beserta rombongan pimpinan universitas melaksanakan kegiatan ziarah ke pusara Pahlawan Nasional Raja Ali Haji (RAH) di Pulau Penyengat, pada Sabtu (1/8/2026).
Kegiatan ziarah dan doa bersama ini merupakan wujud takzim dan penghormatan mendalam kepada sosok besar yang namanya secara abadi disematkan pada Universitas Negeri pertama di Kepulauan Riau.
Jasa Raja Ali Haji sangat fundamental dan melintasi zaman, tidak hanya sebagai Bapak Bahasa yang meletakkan dasar Bahasa Indonesia, tetapi juga sebagai pemikir ulung di bidang hukum, budaya, agama, dan politik.
Turut hadir dalam rombongan para Wakil Rektor,para Kepala Biro, Dekan FK, FEBM, FIKP, serta Direktur Program pascasarjana serta Ketua DWP.


Sosok Polimatik dan “Konsultan Politik” Kemaharajaan Johor
Dalam catatan sejarah, Raja Ali Haji dikenal sebagai seorang polimatik—tokoh genius dengan kepakaran ilmu yang sangat luas, meliputi Agama, Filsafat, Sastra, Hukum, Tata Negara, hingga Sejarah.
Menariknya, kepakaran Raja Ali Haji tidak hanya tertuang di atas kertas. Ia adalah penasihat strategis dan “konsultan politik” yang sangat dihormati di Semenanjung Malaya pada masanya. Salah satu peran terbesarnya di panggung politik regional adalah keterlibatannya dalam transisi dan pendirian Kerajaan (Kemaharajaan) Johor Modern.
Melalui korespondensi dan pandangan-pandangan ketatanegaraannya, Raja Ali Haji menjadi rujukan penting bagi pihak Temenggung Johor. Nasihat, arahan hukum, serta rekomendasi politik dari Raja Ali Haji mewujud secara nyata dalam berdirinya tata Pemerintahan Johor Baharu yang dipimpin oleh Wangsa Temenggung (yang kelak menjadi cikal bakal Kesultanan Johor era modern). Hal ini membuktikan bahwa pemikiran hukum dan politik RAH diakui dan diaplikasikan dalam membangun sebuah negara.
Sejarawan Kepulauan Riau, Aswandi Syahri, yang turut memberikan pandangannya, menegaskan bahwa visi keilmuan sang Pahlawan Nasional kini telah seutuhnya mewujud di UMRAH.
“Ketika Program Studi Sejarah sudah resmi dibuka di UMRAH, maka lengkaplah sudah UMRAH mengajarkan seluruh pilar kepakaran yang dimiliki oleh Raja Ali Haji, mulai dari ilmu Bahasa dan Sastra, Sejarah, hingga Hukum dan Politik,” ujar Aswandi.
Pengaruh Mengglobal: Dari Penyengat ke Turkmenistan
Gaung kebesaran dan pengaruh karya-karya Raja Ali Haji kini tidak hanya milik Kepulauan Riau atau Nusantara, melainkan telah merantau jauh menembus batas benua. Karya-karyanya menjadi objek penelitian di berbagai universitas terkemuka di dunia.
Puncak pengakuan global yang paling membanggakan dan terbaru adalah diabadikannya patung (monumen dada) Raja Ali Haji di Ashgabat, Turkmenistan. Di sana, patung sang pujangga dari Pulau Penyengat ini berdiri tegak bersanding sejajar dengan patung-patung para sastrawan dan pemikir peradaban terkemuka dari seluruh dunia di kompleks kebudayaan internasional Magtymguly Pyragy. Kehadiran patung ini menjadi bukti sahih bahwa pemikiran universal Raja Ali Haji tentang moral, bahasa, dan adab telah diakui sebagai warisan intelektual dunia.
Warisan Mahakarya Raja Ali Haji
Sebagai bukti nyata kepakarannya yang paripurna, Raja Ali Haji meninggalkan karya-karya monumental yang melintas batas disiplin ilmu, di antaranya:
- Gurindam Dua Belas (1847): Karya sastra dan filsafat paling fenomenal yang memuat nasihat, petunjuk hidup, dan nilai-nilai agama Islam. Menjadi rujukan pembentukan karakter manusia Melayu.
- Bustan al-Katibin (1850): Buku tata bahasa Melayu pertama yang disusun secara sistematis, yang kelak menjadi cikal bakal pembakuan tata bahasa Indonesia.
- Kitab Pengetahuan Bahasa (1858): Merupakan ensiklopedia sekaligus kamus ekabahasa Melayu pertama di Nusantara yang memuat penjelasan linguistik, hukum, dan kebudayaan.
- Tuhfat al-Nafis (1865): Mahakarya di bidang sejarah yang mencatat peristiwa-peristiwa penting di kawasan Melayu, persahabatan Bugis-Melayu, hingga dinamika politik regional.
- Silsilah Melayu dan Bugis (1865): Karya historiografi yang mendokumentasikan asal-usul, silsilah, dan peranan keturunan Bugis di alam Melayu.
- Thamarat al-Mahammah (1827/1886): Risalah penting di bidang hukum dan tata negara yang membahas kewajiban seorang penguasa/raja, pejabat pemerintahan, hingga hakim dalam menjalankan roda pemerintahan yang berkeadilan. Kitab inilah yang diyakini menjadi salah satu basis pemikirannya saat menasihati pembentukan pemerintahan Johor.
- Syair Abdul Muluk (1847): Karya sastra monumental berbentuk syair yang sarat akan nilai kepemimpinan dan kesetiaan.
Ziarah dalam rangka Dies Natalis UMRAH ke-19 ini ditutup dengan doa bersama. Menginjak usia yang semakin matang, sivitas akademika UMRAH bertekad untuk terus menjadikan semangat literasi, ketajaman politik, dan keluhuran budaya Raja Ali Haji sebagai fondasi utama dalam mencetak generasi maritim yang unggul di masa depan. (AP/Humas)
