Reimajinasi Pendidikan Tinggi Dimulai dari UMRAH, Guru Besar PTN-B Siapkan Arah Kebijakan Nasional
TANJUNGPINANG – Universitas Maritim Raja Ali Haji menjadi tuan rumah pelaksanaan Seminar Nasional dan Rapat Kerja Dewan Guru Besar Perguruan Tinggi Negeri Baru (PTN-B) dalam rangka peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026. Kegiatan ini mengangkat tema “Dewan Guru Besar in Strategic Forum: Reimagining Higher Education for Indonesia Emas 2045” dan dilaksanakan secara hybrid, terpusat di Galeri Tamadun Maritim, Gedung A Satu Gurindam–Ismeth Abdullah, Kampus UMRAH Dompak, Selasa (5/5/2026).
Kegiatan ini diikuti oleh para guru besar dari seluruh PTN-B di Indonesia, menjadi forum strategis dalam merumuskan ulang arah pendidikan tinggi yang adaptif, kolaboratif, dan berdampak bagi pembangunan nasional menuju Indonesia Emas 2045.
Hadir sebagai narasumber utama, Prof. Ir. Satryo Soemantri Brodjonegoro, M.Sc., Ph.D., dan Prof. Ir. Nizam, M.Sc., Ph.D., IPU, ASEAN Eng. Jalannya seminar dipandu oleh moderator, Prof. Dr. Lily Viruly, S.TP., M.Si., yang memfasilitasi diskusi secara interaktif dan konstruktif.
Dalam pemaparannya, Prof. Satryo menekankan pentingnya transformasi paradigma pendidikan tinggi dari orientasi “kelas dunia” menuju “berdampak”. Menurutnya, reimajinasi pendidikan tinggi harus berpijak pada kontribusi nyata terhadap kesejahteraan masyarakat dan kemajuan bangsa.
“Perguruan tinggi harus otonom dan akuntabel agar mampu berinovasi serta memberikan dampak langsung bagi masyarakat. Inilah fondasi utama dalam menjawab tantangan menuju Indonesia Emas 2045,” ujarnya.
Mendiktisaintek Kabinet Merah Putih (2024-2025) tersebut juga menegaskan bahwa keberagaman perguruan tinggi di Indonesia harus menjadi kekuatan kolektif, bukan dasar kompetisi semata, melainkan kolaborasi untuk saling melengkapi.
Sementara itu, Prof. Nizam menyoroti pentingnya peran guru besar sebagai aktor kunci dalam reimajinasi pendidikan tinggi, baik di dalam kampus maupun di ruang publik. Guru besar, menurutnya, harus tampil sebagai pemimpin pemikiran (thought leader) dan rujukan kebijakan.
“Guru besar tidak hanya bertugas mengembangkan ilmu pengetahuan, tetapi juga menjadi public intellectual yang berkontribusi dalam kebijakan publik, riset strategis, serta pengabdian kepada masyarakat secara nyata,” jelasnya.
Ia juga mengungkapkan bahwa tantangan pendidikan tinggi di Indonesia saat ini masih cukup kompleks, termasuk rendahnya rasio profesor secara nasional, sehingga diperlukan langkah strategis dalam penguatan ekosistem akademik dan percepatan regenerasi guru besar.


Rektor UMRAH, Prof. Dr. Agung Dhamar Syakti, S.Pi., DEA dalam sambutannya menyampaikan bahwa tema yang diangkat dalam forum ini sangat relevan dengan dinamika pendidikan tinggi saat ini.
“Tema reimagining higher education menjadi sangat penting sebagai refleksi sekaligus arah baru bagi perguruan tinggi dalam merespons perubahan global. UMRAH berkomitmen untuk terus mendorong pendidikan tinggi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga berdampak nyata, khususnya dalam pengembangan sektor kemaritiman dan wilayah perbatasan,” ujarnya.
Rektor juga berharap forum ini dapat melahirkan gagasan strategis dan rekomendasi kebijakan yang implementatif dalam mendukung transformasi pendidikan tinggi di Indonesia.
Sementara itu, Ketua Forum Dewan Guru Besar PTN-B, Prof. Dr. Ir. Teguh Soedarto, MP dalam sambutannya sekaligus membuka kegiatan secara resmi menegaskan pentingnya peran forum ini sebagai ruang strategis para guru besar dalam memberikan arah kebijakan pendidikan tinggi nasional.
“Melalui forum ini, kita ingin memperkuat peran Dewan Guru Besar sebagai pilar pemikiran strategis yang mampu merespons tantangan zaman. Reimajinasi pendidikan tinggi bukan sekadar wacana, tetapi harus diwujudkan dalam langkah nyata yang berdampak luas bagi bangsa,” tegasnya.
Kegiatan Seminar Nasional dan Rapat Kerja ini diharapkan menjadi momentum penting dalam memperkuat sinergi antar perguruan tinggi, serta mendorong peran aktif Guru Besar dalam membangun sistem pendidikan tinggi yang unggul, inklusif, dan berdaya saing global menuju Indonesia Emas 2045. (RAS/Humas)
EDITOR: Rendi A. Saputra – Humas UMRAH
