Selamatkan Spesies Kritis Endemik Bintan, UMRAH Gandeng Mitra Internasional Restocking 300 Ekor Betta miniopinna
TANJUNGPINANG — Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH) terus mempertegas komitmennya dalam pelestarian keanekaragaman hayati lokal melalui aksi nyata berdampak global. Melalui Program Studi Budidaya Perairan Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan (FIKP), UMRAH sukses menyelenggarakan agenda Pengabdian kepada Masyarakat Tingkat Internasional yang mengusung tema ”Aquaculture and Restocking Betta miniopinna; and Fish Photography Workshop” pada 16–17 Mei 2026.
Mengambil tempat di ruang Smart Classroom 5 di lantai 2 Gedung B Satu Gurindam Kampus UMRAH Dompak, agenda strategis ini dibuka secara resmi oleh Wakil Dekan I FIKP UMRAH, Dr. Muzahar, S.Pi., M.Si., dengan melibatkan kolaborasi lintas institusi mutakhir, mulai dari SHOAL Conservation, Universitas Airlangga (UNAIR), Universitas Bangka Belitung (UBB), hingga Lee Kong Chian Natural History Museum dari National University of Singapore (NUS).
Sinergi ini mempertemukan para dosen Prodi Budidaya Perairan, Prodi Pendidikan Bahasa Inggris, mahasiswa, hingga para penggiat ikan hias Bintan dalam sebuah misi penyelamatan ekologis yang komprehensif.
Fokus utama dari pengabdian ini bertumpu pada penyelamatan Betta miniopinna, ikan hias air tawar endemik Pulau Bintan yang kini berstatus “Kritis” (Critically Endangered) berdasarkan Daftar Merah International Union for Conservation of Nature (IUCN).
Melalui sesi edukasi yang dihantarkan oleh pakar dan peneliti dari UNAIR dan UBB, Dr. Veryl Hasan, S.Pi, MP dan Fitri Sil Valen, S.Pi, MP, peserta dibekali pemahaman mendalam mengenai urgensi domestikasi spesies yang habitat aslinya berada di sekitar perairan Desa Teluk Sebong ini. Upaya konservasi ini membuahkan hasil gemilang berkat dedikasi Oktavianus Jayanta Bangun, penggiat ikan hias lokal Bintan, yang bekerja sama dengan ASAP, SHOAL Conservation, UNAIR, dan UBB, berhasil menjinakkan tantangan budidaya terkontrol hingga melahirkan generasi kedua (F2) Betta miniopinna. Keberhasilan penangkaran eks-situ ini menjadi modal utama bagi UMRAH untuk melakukan langkah krusial berikutnya, yaitu mengembalikan ikan-ikan hasil budidaya tersebut ke alam liar guna memperkuat populasi alami mereka yang kian menipis.
Sebagai bagian dari penguatan promosi keanekaragaman hayati, rangkaian pengabdian masyarakat ini turut membekali para peserta dengan keterampilan kelas dunia melalui Fish Photography Workshop. Dipandu langsung oleh Dr. Tan Heok Hui, ahli dari Lee Kong Chian Natural History Museum, NUS Singapura, workshop ini melatih peserta teknik mengabadikan keindahan dan karakteristik ikan hias dengan kualitas visual yang tinggi namun tetap mengutamakan aspek kesejahteraan hewan (animal welfare).
Dr. Tan menekankan bahwa konsistensi berlatih setiap hari adalah kunci utama untuk memahami karakter objek, pencahayaan, dan sudut pengambilan gambar yang tepat tanpa membuat ikan mengalami stres. Keterampilan dokumentasi visual ini dinilai sangat vital bagi civitas akademika dan komunitas lokal sebagai sarana edukasi sekaligus media promosi berbasis digital untuk mengenalkan kekayaan hayati Kepulauan Riau kepada dunia internasional.
Puncak dari aksi pengabdian kolaboratif ini ditandai dengan agenda pelepasan liar (restocking) 300 ekor ikan Betta miniopinna hasil budidaya yang telah menginjak usia 3 bulan. Bertempat di habitat aslinya di perairan Senggiling, proses penebaran dilakukan secara perlahan dan penuh kehati-hatian oleh para perwakilan dari UMRAH, UNAIR, UBB, Dinas Perikanan Kabupaten Bintan, serta SHOAL Conservation.
Langkah pelepasan ini tidak mengakhiri komitmen yang ada, melainkan memulai babak baru di mana upaya pemantauan dan pengawasan berkala akan terus dijalankan bersama masyarakat sekitar demi memastikan tingkat kelangsungan hidup ikan yang tinggi. Melalui inisiasi Pengabdian Masyarakat internasional ini, UMRAH tidak hanya sukses melaksanakan transfer ilmu pengetahuan, tetapi juga memimpin tanggung jawab moral bersama dalam memastikan warisan alam khas Bintan ini tetap lestari dan dapat dinikmati oleh generasi mendatang. (Humas UMRAH/FIKP UMRAH)




