malik-tanjakTulisan ini saya dedikasikan untuk mengenang perjuangan Allahyarham Sultan Mahmud Riayat Syah bersempena peringatan Hari Pahlawan yang jatuh pada Ahad, 10 November 2013. Dalam kaitan dengan itu pula, Jumat, 8 November 2013, Radio Republik Indonesia Tanjungpinang telah melaksanakan acara dialog interaktif dengan topik “Kepahlawanan Sultan Mahmud Riayat Syah, Yang Dipertuan Besar Kesultanan Riau-Lingga-Johor-Pahang (1761—1812).” Beberapa tokoh dijemput untuk menjadi narasumber acara itu, tetapi beralangan hadir. Jadilah saya sebagai pembicara tunggal dalam acara yang berlangsung satu jam itu (8.00—9.00 WIB).

Sebagai lazimnya acara dialog interaktif, pembawa acara mempersilakan para pendengar untuk mengajukan pertanyaan, menambah informasi, dan atau memberi tanggapan tentang materi yang dibahas. Saya agak terkejut mendapat informasi dari Datuk H. Huzrin Hood, S.H., M.H.—tokoh masyarakat Kepulauan Riau—melalui telepon dalam acara itu. Beliau mendapat kabar bahwa Pemerintah Pusat belum “merestui” usulan Sultan Mahmud Riayat Syah menjadi pahlawan  nasional pada tahun ini karena perkara ini: tim Pemerintah Pusat belum mendapat kepastian tentang motivasi Sultan Mahmud Riayat Syah berhijrah ke Daik, Lingga, apakah melarikan diri dari kejaran tentara Belanda atau strategi melawan musuh. Padahal, di dalam buku Sejarah Kejuangan dan Kepahlawanan Sultan Mahmud Riayat Syah (2012) jelas kita bahas berdasarkan fakta bahwa itu adalah strategi hebat Sultan Mahmud Riayat Syah untuk melawan Belanda. Oleh sebab itu, pembahasan tentang hal itu perlu saya lakukan demi kelurusan sejarah.

Dalam tradisi Kesultanan Riau-Lingga-Johor-Pahang, bahkan tradisi pemerintahan Islam nusantara yang lain juga, pemindahan pusat kerajaan dari suatu tempat ke tempat lain di dalam wilayah kesultanan itu bukanlah sesuatu yang baru. Tatkala kesultanan berpusat di Johor, pemindahan pusat pemerintahan ke tempat-tempat yang berbeda di sepanjang Sungai Johor telah berkali-kali dilakukan oleh para sultan semasa. Pun, pada masa kerajaan yang lebih awal yakni Kerajaan Bintan-Temasik, kecuali perpindahan dari Bintan ke Temasik (Singapura) dengan alasan mencari tempat yang lebih strategis untuk pengembangan kawasan, pemindahan pusat kerajaan dari Singapura ke Melaka juga dengan alasan yang sama.

Begitu jugalah halnya dengan pemindahan pusat kesultanan dari Johor ke Hulu Riau atau Sungai Carang (kawasan Kota Tanjungpinang, Pulau Bintan, sekarang) yang dilakukan oleh Sultan Ibrahim Syah. Sultan memindahkan pusat pemerintahan sekaligus membawa rakyat dalam jumlah yang sangat besar. Hulu Riau memang telah dirancang untuk menjadi pusat pemerintahan setelah Sultan Abdul Jalil Syah III menitahkan Laksemana Tun Abdul Jamil membuka Hulu Riau (Sungai Carang) untuk dijadikan bandar (kota) pada 1673. Begitulah pusat pemerintahan Kemaharajaan Melayu itu berpindah semula ke Pulau Bintan setelah sekian lama berpusat di Semenanjung sejak Kerajaan Bintan-Temasik, Kemaharajaan Melaka, dan masa-masa awal Kemaharajaan Riau-Lingga-Johor-Pahang, dengan selaannya ketika Sultan Mahmud Syah I (Sultan Melaka) memindahkan pusat kesultanan dari Melaka ke Bintan pada 1511, untuk kemudian dipindahkan semula ke Semenanjung (Sungai Johor) pada 1630-an oleh Sultan Alauddin Riayat Syah setelah ayahnda Baginda, Sultan Mahmud Syah I, mangkat.

Perpindahan itu dilakukan oleh raja-raja Melayu sebagai strategi dan taktik untuk menghadapi pencerobohan pihak-pihak musuh yang berusaha menguasai dan atau menjajah wilayah kerajaan yang memang dianugerahkan oleh Allah dengan kekayaan yang berlimpah ruah. Di pusat kerajaan yang baru sultan menghimpun kekuatan baru dan menggunakan strategi yang baru pula sehingga kerajaan tak dapat dikuasai oleh pihak musuh.

Menariknya lagi, pada awal kedatangannya para musuh itu mengaku sahabat, bahkan saudara, dengan maksud menjalin persahabatan dan mengadakan perhubungan bisnis, khasnya perdagangan, yang saling menguntungkan, termasuk pihak Belanda. Alih-alih, matlamatnya berubah menjadi memuaskan syahwat menjajah. Begitulah yang dilakukan oleh “para sahabat” asing dan sesama nusantara kala itu. Dalam senarai sahabat sesama kerajaan nusantara sejarah mencatat Kerajaan Majapahit pernah menyerang Kerajaan Bintan-Temasik ketika berpusat di Singapura. Kerajaan Aceh dan Jambi pula mencerobohi Kerajaan Riau-Lingga-Johor-Pahang ketika berpusat di Sungai Johor. Sebelum itu, Peringgi (Portugis) merebut Melaka pada 1511, untuk selanjutnya Belanda dan Inggris berupaya merebut dan saling berebut Kesultanan Riau-Lingga-Johor-Pahang. Pada 1824 kedua kuasa asing itu (Belanda dan Inggris) membelah bagi kawasan “permakanan” mereka,  meminjam istilah Sultan Mahmud Riayat Syah (Sultan Mahmud Syah III). Kawasan kerajaan bahagian Semenanjung menjadi permakanan pihak Inggris, sedangkan kawasannya di Kepulauan Riau dan sekitarnya untuk permakanan Belanda.

Hanya dengan alasan strategi menghadapi “sahabat” yang kemudian menjelmakan dirinya menjadi musuh sajakah yang menjadi pertimbangan Sultan Mahmud Riayat Syah memindahkan pusat pemerintahan dari Hulu Riau di Sungai Carang, Tanjungpinang sekarang ke Daik, Lingga? Ternyata tidak. Untuk itu, mari kita ikuti terlebih dahulu riwayat pilu yang dialami Belanda yang dikisahkan oleh E. Netscher, Residen Belanda di Tanjungpinang pada 1865, dalam bukunya De Nederlanders in Djohor en Siak 1602 tot 1865 (Batavia: Bruijning en Wijt Batavia, 1870).

Subuh hari tanggal 13 Mei 1787 musuh (maksudnya, pasukan Sultan Mahmud Riayat Syah, A.M.) menyusup ke selatan Terusan Riau melalui Penyengat dan Senggarang. Pukul 7.00 malam komandan benteng kecil di bukit bersama orang Eropa dan kapitan pribumi memperhatikan bagaimana musuh memperkuat diri dengan dibantu oleh orang pribumi. (Sebagai catatan, dalam menggempur tentara Belanda di Tanjungpinang ini, Sultan Mahmud Riayat Syah bersekutu dengan Raja Tempasuk yang membantu Baginda dengan mengirimkan tentaranya. Yang dimaksud dengan orang pribumi oleh Netscher ini adalah rakyat Sultan, yang tak lain penduduk Pulau Bintan, A.M.) Kisahnya dilanjutkan Netscher, tak lama kemudian musuh pun mara (maju) dari arah gunung merapat ke pinggir pencalang dan slup sehingga pertempuran tak terelakkan lagi. Di pencalang Bangka terdapat Residen D. Ruhde dan Komandan J.C. Vetter dan beberapa opsir. Lalu, dua buah perahu musuh (maksudnya, tentara Sultan Mahmud, A.M.) mendekati Selat Singapura, sementara kapal Bangka terus menuju ke Melaka (maksudnya, melarikan diri, A.M.). Dalam pada itu, slup Johanna tetap tinggal di Riau (maksudnya Tanjungpinang) dan tersadai (terdampar) di pasir ditawan oleh musuh-musuh itu (tentulah yang dimaksudkannya pasukan Sultan Mahmud, A.M.).

Begitulah E. Netscher, Residen Belanda di Riau (1861—1870), berkisah pilu tentang penyerangan yang dilakukan oleh pasukan Sultan Mahmud Riayat Syah dengan nada sangat datar, seolah-olah mereka tak mengalami kekalahan yang berarti. Padahal, serangan pasukan Sultan Mahmud itu telah menghancurluluhkan satu garnizun Belanda di Tanjungpinang. Bahkan, Residen Belanda di Tanjungpinang kala itu, David Ruhde, yang terkenal angkuh harus melarikan diri tunggang-langgang ke Melaka dengan kapal yang diberi nama Bangka. Tentang peristiwa itu, Raja Ahmad Engku Haji Tua dan putranya, Raja Ali Haji, menguncinya di dalam Tuhfat al-Nafis, “Seekor Holanda pun tiada lagi tinggal dalam Negeri Riau” setelah diserang pasukan Sultan Mahmud Riayat Syah itu.

Seperti yang dikisahkan oleh Netscher juga, Belanda di Melaka memang mengetahui bahwa tokoh intelektual dari serbuan terhadap dan mempermalukan Belanda di Tanjungpinang itu adalah Sultan Mahmud Riayat Syah dan Yang Dipertuan Muda V Raja Ali. Sultan sangat hafal akan perangai Belanda, mereka pasti akan melakukan serangan balik dalam jumlah tentara yang lebih banyak. Dan, betul. Tak lama setelah peristiwa itu, Belanda datang ke Tanjungpinang dengan angkatan perang yang besar di bawah pimpinan Pieter Jacob van Braam. Namun, apakah yang mereka temui? Ternyata, Sultan bersama rakyat sekaliannya tak ada lagi di pusat kesultanan di Pulau Bintan.

Ya, Sultan telah memindahkan pusat kesultanan ke Daik, Lingga. Sultan membawa rakyatnya dengan 200 perahu ke Lingga, Bendahara Abdul Majid dengan 150 perahu ke Pahang, ada pula yang ke Bulang, Trengganu, Kalimantan, dan kawasan-kawasan lain di bawah takluk Kesultanan Riau-Lingga-Johor-Pahang. Perpindahan yang berpencar itu memang disengaja oleh Sultan Mahmud sebagai taktik atau strategi jika satu kawasan diserang, maka tentara dan rakyat dari kawasan lain akan menyerbu secara bersama-sama sehingga musuh akan kewalahan. Ternyata, pihak Belanda pun memaklumi taktik Sultan Mahmud sehingga mereka tak bernyali menyerang Baginda ke Lingga. Di dalam memori mereka tercatat bahwa “Sultan Mahmud Riayat Syah adalah seorang pembangkang”. Memang, tak pernah ada kata menyerah dan tunduk kepada Belanda dalam kamus kehidupan seorang Sultan Mahmud Riayat Syah.

Sultan menyadari setelah Perang Teluk Ketapang, Melaka, yang menyebabkan YDM Raja Haji syahid fisabilillah, gugur di medan perang, tentara kesultanan tak terlalu kuat lagi. Oleh sebab itu, untuk keselamatan negara dan rakyat, Baginda memilih berhijrah ke Lingga. Di Lingga Baginda dapat menghimpun kekuatan tentara dan rakyat kembali. Dari Lingga itu pulalah beliau membuat koalisi nusantara yang terdiri atas Selangor, Trengganu, kerajaan-kerajaan di Pulau Sumatera, Kalimantan, dan kerajaan-kerajaan di bawah takluk Kesultanan Riau-Lingga-Johor-Pahang. Tak hanya itu, Baginda pun membangun infrastuktur kerajaan di Lingga seperti istana, mesjid, benteng-benteng pertahanan, dan sebagainya. Dengan visi kemajuannya, Baginda pun mengembangkan perkebunan sagu secara besar-besaran dan membuka pertambangan timah sehingga rakyat menjadi sejahtera dan negara menjadi makmur kembali walaupun mereka telah meninggalkan harta-benda di Pulau Bintan dan untuk sementara dikuasai oleh pihak lain. Bagi pemimpin Melayu sejati seperti Sultan Mahmud Riayat Syah, “Harta dunia boleh dicari, tetapi marwah bangsa jangan pernah tergadai!”

Lingga merupakan kawasan yang tak mudah dijangkau oleh pihak musuh merupakan salah satu pertimbangan Sultan untuk berhijrah ke sana. Di samping itu, Baginda yang memiliki ketajaman visi yang luar biasa dalam membangun telah memprediksi bahwa dengan potensi yang dimilikinya, Lingga, kalau dibangun dengan benar, akan menjadi kekuatan ekonomi yang besar bagi kerajaan. Itulah sebabnya, Baginda membangun kesultanan yang berbasis di Lingga meliputi pelbagai aspek dengan semangat, perencanaan, dan strategi yang memukau. Baginda membuktikan bahwa kerja keras dalam membangun dan upaya menangkis pencerobohan anasir luar dapat dilakukan dengan gemilang.

Dalam pada itu, Baginda menerapkan sistem otonomi luas untuk memajukan negeri: Yang Dipertuan Muda ditempatkan di Penyengat, Bendahara di Pahang, dan Temenggung di Johor. Alhasil, kesemua kawasan kesultanan itu maju pesat. Begitulah kecemerlangan Sultan Mahmud Riayat Syah yang hidup pada abad ke-18, tetapi pemikirannya telah mencecah abad ke-21.

Dalam pada itu, tentara kesultanan terus mengacau perdagangan Belanda di Selat Melaka. Akhirnya, kejayaan Belanda di Melaka pun runtuh. Itulah bukti nyata bahwa hijrahnya Sultan Mahmud ke Lingga merupakan salah satu strategi politik-pemerintahan dan perang yang sangat hebat dalam melawan Belanda.

Menyadari ketangguhan pemimpin yang berwibawa itu, pada 1795 Inggris mengakui kedaulatan penuh Sultan Mahmud Riayat Syah di Kesultanan Riau-Lingga-Johor-Pahang. Pengakuan itu pun, kemudian, dilakukan oleh Belanda meskipun terkesan terlambat. Apa kata Sultan Mahmud Riayat Syah menanggapi pengakuan Pemerintah Belanda itu? Baginda hanya mengucapkan ungkapan pendek, tetapi menikam, “Terima kasih!” Dan, Sultan Mahmud Riayat Syah menjadi pemimpin yang memerintah selama 51 tahun, yang tak pernah dapat disentuh oleh pihak asing walaupun kuasa luar itu sangat bernafsu untuk menangkap, membuang, memenjarakan, bahkan membunuhnya.

Untuk mewarisi semangat dan perjuangan Sultan Mahmud Riayat Syah ini, kita yang hidup sekarang patutlah menghayati syair Raja Ali Haji, “Ayuhai segala raja menteri, serta pegawai kanan dan kiri, hendaklah jaga ingatkan negeri, [daripada jarahan] perampok penyamun perompak pencuri.”

Soal Baginda ditabalkan menjadi Pahlawan Nasional Indonesia atau tidak, bukanlah hal yang terlalu mustahak bagi kita. Yang pasti, Baginda telah menjadi pahlawan di hati kita, suri tauladan kita hari ini, sebagai pemimpin besar yang senantiasa mengutamakan kejayaan marwah negeri dan rakyat sekaliannya. Ketauladanan seperti itu sangat sulit dicari sanding dan bandingnya sampai setakat ini. Selamat memperingati Hari Pahlawan!***

 

Abdul Malik, ketua tim penulis buku Sejarah Kejuangan dan Kepahlawanan Sultan Mahmud Riayat Syah, Yang Dipertuan Besar Kerajaan Riau-Lingga-Johor-Pahang (1761—1812). Penerima Anugerah Tokoh Sosio-Budaya dan Warisan, Dunia Melayu Dunia Islam, Melaka, Malaysia, 2013.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here