Senggarang – Kegiatan Tahunan Seminar Series Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan (FIKP) kembali digelar di tahun 2020.

Sebagai kick-off dari rangkaian kegiatan Seminar Series ini digelar Seminar dengan tema “Microplastic & Waste Management” di gedung kelas FIKP UMRAH Selasa(18/2). 

Seminar ini dibuka oleh Dekan FIKP UMRAH, Dr Agung Dhamar Syakti dan dipandu oleh Aditya Hikmat Nugraha, dosen Ilmu Kelautan UMRAH sebagai moderator

Hadir sebagai narasumber ,Samanta Skrivere, CEO Ministry of Waste, London. Ministry of Waste ini adalah Perusahaan dengan platform kewirausahaan sosial dan Ekonomi Sirkular yang fokus pada penanganan limbah (waste management). Berbasis di London dan memiliki Program di Jakarta serta Nusa Penida, bali.

Dalam paparannya Samanta menjelaskan mengenai sumber polutan mikroplastik yang berada di perairan dan kaitannya dengan pengelolaan limbah.

“Mikroplastik di perairan itu 85 % berasal dari industri, 15 % berasal dari limbah domestik” kata Samanta.

Kemudian Samanta menjabarkan secara detail apa-apa saja sumber mikroplastik tersebut. 

Sekitar 35 % berasal dari tekstil, 37 % dari marine coating (Cat Lapisan Kapal), 28 % dari tires (ban), 24 % dari city dust (Sampah perkotaan), 2 % dari personal care (produk kebersihan dan kosmetik), 7% dari road marking (Marka Jalan), dan sekitar 0.2 % dari Pellete Plastic (Plastik Pelet)

Dalam sesi diskusi, Samanta menjawab pertanyaan dari salah seorang mahasiswa tentang bagaimana prinsip Ekonomi Sirkular ini bekerja untuk mereduksi produksi sampah dan limbah mikroplastik tersebut. 

“Di beberapa negara, sampah-sampah plastik seperti sachet, dan lainnya ini dikonversi menjadi crude oil melalui sebuah metode inovasi oleh Recycled Technology,  sebuah perusahaan inovatif yang berbasis di United Kingdom” Papar Samanta.

Menurutnya dengan inovasi ini, Perusahaan minyak tidak perlu melakukan pengeboran lagi, mereka bisa mendapatkan crude oil (minyak mentah) dari olahan mesin terkait dengan bahan baku dari Sampah-sampah plastik.

“Jadi inilah yang dimaksud ekonomi sirkular, perputaran hasil olahan menjadi nilai tambah yang dapat terus digunakan” ujar Samanta. 

Namun Samanta juga mengingatkan bahwa dalam pelaksanaannya harus dimulai dengan pendekatan keamanannya terlebih dahulu dan juga melihat konteks lingkungan terkait. 

Always see the bigger picture (Selalu melihat dari segala sisi dan komprehensif)” ujarnya.

Tanpa menggunakan slides dan fokus pada metode public speaking, Samanta berhasil memukau para audiens yang hadir dari kalangan mahasiswa, dosen, dan juga stakeholder lingkungan di Bintan. Turut hadir juga Sponsor kegiatan ini perwakilan dari Banyan Tree Conservation.

Tiga Manfaat Seminar Series 2020 perdana ini

Dalam kesempatan yang sama Dekan FIKP, Dr. Agung menyambut baik apa yang disampaikan oleh Samanta.

Menurutnya ada tiga manfaat yang didapat dari seminar series kali ini dengan topik terkait.

“Pertama, pada tataran akademik, Samanta membawakan informasi dan data-data yang terkini terkait problematika sampah plastik di lingkungan laut sehingga menjadi updating dari informasi yang bisa dijadikan acuan dalam lectureship atau membantu pengelolaan kedepan” Ujar Dr. Agung.

Kemudian yang Kedua, karena Samanta ini juga aktivis lingkungan, kegiatan ini juga akan membantu para stakeholder lingkungan yang hadir untuk memahami pola kerja dan semangat kerja dari Samanta dan tim dalam menangani permasalahan sampah plastik di beberapa negara dan di Indonesia.

Mereka (Samanta dan Tim) juga memiliki kegiatan di Nusa Penida Bali yang sukses dalam mengelola sampah-sampah terutama sampah plastik yang akan dicoba untuk ditawarkan adaptasinya di Bintan.

“Jadi buat pegiat lingkungan tentu kegiatan ini akan sangat mengamplifikasi apa yang menjadi harapan para pegiat lingkungan terkait pengelolaan sampah plastik di Kepri  terutama di Bintan dan Tanjungpinang” jelas Dr. Agung.

Kemudian yang ketiga, menurutnya adalah tentang bagaimana FIKP mencoba mensimulasi peran FIKP yang memiliki visi sebagai pusat unggulan di Asia pasifik terkait dengan pelaksanaan tridharma di bidang pengelolaan sumberdaya perikanan kelautan dan kemaritiman untuk membantu para mahasiswa berinteraksi dengan masyarakat internasional.

“Karena ketika kita memiliki visi yang sifatnya internasional, komunikasi dalam bahasa internasional menjadi krusial. Kami ingin coba memberikan frekuensi yang intens dan sesering mungkin bagi kolega-kolega dari berbagai negara untuk dapat hadir di FIKP sehingga mahasiswa bahkan dosen dapat memanfaatkan interaksi dengan mereka untuk melakukan jejaring” ujar Dr Agung

Kemudian menurutnya, Paling tidak secara minimal dapat meningkatkan penguasaan bahasa asing yang bisa dipakai untuk mencapai tujuan pengembangan FIKP dan bahkan UMRAH sendiri. (AP)

Editor : Adi Pranadipa

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here