FISIP UMRAH gelar Kuliah Umum Gastronomi Maritim Asia Tenggara
TANJUNG PINANG – Jurusan Sosiologi dan Ilmu Politik, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH) sukses menggelar Kuliah Umum bertajuk “Regional Gastronomy: The Food Culture of Maritime Southeast Asia”. Kuliah Umum ini digelar pada Sabtu, 27 Juni 2026 sebagai upaya memperdalam pemahaman generasi muda mengenai sejarah dan identitas budaya maritim melalui makanan.
Acara yang turut didukung penuh oleh Dinas Pariwisata Provinsi Kepulauan Riau ini menghadirkan pakar sejarah kuliner (Food Historian) kelas dunia, Khir Johari dari Singapura. Beliau dikenal luas sebagai penulis buku “The Food of Singapore Malays: Gastronomic Travels Through the Archipelago” yang pernah meraih anugerah tertinggi buku kuliner dunia, Gourmand World Cookbook Award.
Kuliah umum dibuka secara resmi oleh Kepala Bidang Ekonomi Kreatif Dinas Pariwisata Provinsi Kepri, Bapak Supriadi. Dalam sambutannya, ia menekankan pentingnya kuliner yang tidak lagi hanya dilihat sebagai pemuas dahaga dan lapar, melainkan representasi dari sejarah peradaban Melayu.

“Pemerintah baru saja mensosialisasikan peraturan terkait ekonomi kreatif, di mana kuliner menjadi salah satu subsektor utamanya. Kuliner yang dimaksud sangat terkait erat dengan budaya, tradisi, serta sejarah peradaban Melayu di Asia Tenggara. Kehadiran Bapak Khir Johari menjadi kesempatan sangat berharga bagi civitas akademika UMRAH dan para pelaku pariwisata untuk memperluas wawasan,” ujar Supriadi.
Dalam pemaparannya, Khir Johari membawa para audiens menelusuri lorong waktu kebesaran maritim Nusantara. Ia menegaskan bahwa perairan, laut, dan selat yang ada di kawasan Asia Tenggara bukanlah sebuah garis pemisah antar negara, melainkan jembatan budaya yang menghubungkan masyarakat pesisir di masa lampau hingga saat ini.
“Geografi membentuk apa yang ada di atas meja dan dapur kita. Kita memiliki banyak persamaan bahasa, adat, dan juga lingkungan geografis yang menghasilkan budaya kuliner yang serupa. Laut dan selat itu adalah jembatan budaya, jembatan kasih,” papar Khir.
Lebih lanjut, Khir juga mengupas tuntas sejarah rempah-ratus seperti pala dan cengkeh yang menjadi komoditas mahal penyulut pelayaran global bangsa Eropa. Menariknya, Khir meluruskan pandangan soal rasa pedas dalam kuliner Asia Tenggara. Menurutnya, sebelum cabai (chili) dibawa dari benua Amerika oleh para penjajah, nenek moyang di Nusantara sudah terbiasa dengan rasa pedas yang bersumber dari jahe, lada, cabai jawa, hingga andaliman.
Kegiatan ini juga menyinggung potensi pangan lokal seperti olahan sagu yang menjadi ketahanan pangan masa lalu serta fenomena “gastrodiplomasi”. Khir mengajak masyarakat untuk tidak lagi berdebat tentang klaim kepemilikan kuliner (seperti rendang atau laksa) antar negara tetangga, melainkan bersinergi mengangkat kuliner kawasan Asia Tenggara ke pentas dunia.
Kuliah umum ini ditutup dengan sesi tanya jawab interaktif yang melibatkan antusiasme tinggi dari para dosen dan mahasiswa HI maupun Sosiologi UMRAH. Kehadiran acara ini diharapkan mampu memicu lahirnya berbagai riset, dokumentasi tulisan, serta inovasi dalam mempromosikan warisan gastronomi Kepulauan Riau agar dapat melesat menjadi daya tarik pariwisata dan instrumen diplomasi di kancah internasional.
Editor : Humas UMRAH
