HUL Mapping Intangible Heritage Resmi ditutup, Hasilkan visi pelestarian WBtb Tanjungpinang

TANJUNGPINANG (4/12/2025) – Rangkaian kegiatan The International Workshop on Historic Urban Landscape: Mapping Intangible Heritage yang telah berlangsung selama lima hari di Tanjungpinang resmi berakhir hari ini, Kamis (4/12). Penutupan kegiatan strategis ini dilakukan secara resmi oleh Staf Ahli Gubernur Kepulauan Riau, Drs. Sardison, MTP, yang mewakili Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau di Gedung Dekranasda Creative Space Tanjungpinang.

Acara penutupan yang berlangsung khidmat ini dihadiri oleh para pemangku kepentingan utama di bidang kebudayaan dan pemerintahan. Turut hadir Wakil Walikota Tanjungpinang, Raja Ariza, serta Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah IV. Dari tuan rumah , Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH) diwakili oleh Wakil Rektor III, Dr. Suryadi, dan Dekan Fakultas Teknik dan Teknologi Kemaritiman, Martaleli Bettiza. Kemudian Dinas Kebudayaan Kepulauan Riau, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Tanjungpinang.

Selain itu, dukungan kuat dari unsur masyarakat dan profesional terlihat dengan hadirnya para fasilitator dari Kota Lama Tanjungpinang dan Pulau Penyengat, perwakilan Lembaga Adat Melayu (LAM) Kepri, Lembaga Adat Melayu (LAM) Kota Tanjungpinang, serta Ketua Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Kepulauan Riau.

Sinergi Lintas Batas untuk Warisan Melayu dan Tionghoa

Workshop yang dimulai sejak 30 November 2025 ini merupakan hasil kolaborasi internasional antara Universitas Indonesia, UMRAH, Universitas Trisakti, IPB University, serta mitra dari Belanda seperti Rijksdienst voor het Cultureel Erfgoed (RCE)dan Kenniscentrum Immaterieel Erfgoed Nederland (KIEN).

Prof. Kemas Ridwan Kurniawan, Dekan Fakultas Teknik Universitas Indonesia menyebutkan dalam sambutannya bahwa kegiatan ini dinilai sukses menjadi ruang kolaboratif untuk memperkuat pelestarian warisan budaya takbenda di Tanjungpinang dan Pulau Penyengat. Melalui pendekatan integratif yang menghubungkan ruang (space), manusia (people), dan budaya (culture), workshop ini berhasil merumuskan pemahaman baru tentang dinamika lanskap budaya Melayu dan interaksi multikultural kota lama Tanjungpinang.

Peter Timmers dan Sherlien dari RCE dan KIEN turut menyampaikan sambutan secara bergantian. Mereka sangat mengapresiasi apa yang mereka temukan di Tanjungpinang melalui Workshop HUL Mapping Intangible Heritage ini.

Hasilkan Rencana Aksi dan Basis Data Digital

Salah satu pencapaian terbesar dari pertemuan ini adalah tersusunnya fondasi bagi Rencana Aksi (Action Plan) Pelestarian Warisan Budaya Takbenda (WBTb). Rencana ini tidak hanya berfokus pada pelindungan, tetapi juga mencakup aspek pembinaan, pengembangan, dan pemanfaatan yang berkelanjutan.

Selain dokumen kebijakan, workshop ini juga menghasilkan luaran konkret berupa basis data dan peta spasial digital yang didukung oleh Kementerian PU lalu diolah oleh Mentor Pelatihan Workshop dari RCE, Jeroen. Pemanfaatan teknologi ini diharapkan dapat mendukung transparansi serta akses pengetahuan untuk kepentingan pendidikan dan riset di masa depan.

Pelajaran Penting: Pelestarian sebagai Penggerak Ekonomi

Para peserta dan ahli yang terlibat merumuskan bahwa pelestarian warisan budaya tidak boleh statis. Inovasi desain spasial dan revitalisasi aktivitas budaya terbukti mampu menjadi pendorong pembangunan kota dan ekonomi kreatif tanpa menghilangkan nilai otentik yang ada.

Kehadiran Drs. Sardison, Raja Ariza, serta tokoh adat dan akademisi dalam penutupan ini menegaskan komitmen bersama bahwa konservasi tidak dapat berjalan tanpa keterlibatan masyarakat lokal dan dukungan pemerintah.

Kegiatan ini ditutup dengan optimisme bahwa hasil kerja keras selama lima hari ini bukan sekadar diskusi akademis, melainkan langkah awal menuju ekosistem pelestarian yang sistematis demi menjaga identitas Tanjungpinang sebagai lanskap perkotaan maritim yang tangguh yang ditenun oleh memori kolektif warga kota.

Editor : Adi Pranadipa
Foto: Adi Pranadipa, Alfred(Navalens)

Scroll to Top