​Jelajah Warisan Takbenda: Dari Harmoni Pecinan Kota Lama hingga Jejak Intelektual Pulau Penyengat

TANJUNGPINANG (2/12) – Memasuki hari kedua International Workshop on Historic Urban Landscape (HUL) bertajuk “Mapping Intangible Heritage”, Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH) bersama para mitra kolaborator mengajak peserta menyelami kekayaan budaya di dua lokus sejarah utama: Kota Lama Tanjungpinang dan Pulau Penyengat.

​Didampingi oleh panitia UMRAH dan para mentor ahli, para peserta dibagi menjadi dua tim besar untuk melakukan pendataan langsung di lapangan, menggali memori kolektif, serta berinteraksi dengan para maestro budaya.

Menelisik “Cap Lak Keng” dan Denyut Nadi Kota Lama

​Tim Kelompok Kota Lama yang didampingi mentor Hasti Tarekat, Jeroen, Sherlien, dan Lucas, memulai penelusuran dipandu oleh fasilitator sekaligus pemandu lokal Asti Lalasati, Charlie, dan Edyanto. Rute pemetaan dimulai dari titik-titik pusaka ikonik seperti Gereja Ayam dan SD Bintan—yang pada masa kolonial dikenal sebagai Societeit Sampiterne.

​Perjalanan berlanjut menyusuri Jalan Teuku Umar menuju Jalan Merdeka, kawasan yang dahulu dikenal dengan sebutan Cap Lak Keng. Di sini, peserta diajak menyinggahi Toko Obat Abadi. Toko legendaris yang dikelola oleh generasi ketiga ini masih mempertahankan interior klasik Pecinan meski fasad depannya telah berubah mengikuti zaman.

​Akong Alak, sang pemilik, menunjukkan salah satu kearifan lokal berupa pengolahan daun belalai gajah. Daun tersebut dijemur dan diolah menjadi ramuan obat tradisional yang dipercaya berkhasiat mengobati penyakit kanker.

​Tak jauh dari sana, rombongan bergerak ke Kedai Kopi New Okinawa. Di sini, peserta disambut oleh Koh Vallen, generasi ketiga pengelola kedai yang mewakili kaum muda. Koh Vallen menarik perhatian peserta lewat strateginya melakukan revitalisasi jenama New Okinawa dengan memanfaatkan media sosial, memastikan narasi warisan kedai kopinya tetap relevan dan terjaga di era digital.

​Eksplorasi di Kota Lama ditutup di Pelantar III, sebuah kawasan tepi laut yang menjadi saksi bisu tradisi Dragon Boat Race. Tradisi yang digelar sempena sembahyang keselamatan laut ini terbukti tetap lestari dan hidup di tengah masyarakat Tanjungpinang sejak lebih dari 100 tahun yang lalu.

Menggali Memori Intelektual di Pulau Penyengat

​Sementara itu, Kelompok Pulau Penyengat yang terdiri dari 11 peserta didampingi oleh empat mentor—Dr. Vera, Punto Wijayanto, Dr. Chairul, dan Peter Timmer—melakukan penggalian data yang tak kalah mendalam. Didukung oleh pemandu lokal Raja Farul dan Nur Fathilla, fokus utama kelompok ini adalah wawancara mendalam dengan para maestro budaya setempat.

​Para peserta berkesempatan berdialog langsung dengan tokoh-tokoh penting Penyengat seperti Raja Zainab, Raja Abdurahman, Raja Malik, dan Raja Suzana. Data budaya takbenda yang berhasil dihimpun meliputi ragam kuliner khas, baju tradisional, hingga filosofi Gurindam 12.

​Kelompok ini juga menelusuri jejak intelektual masa lampau melalui manuskrip-manuskrip tua karya cendekiawan Riau-Lingga yang tersimpan rapi di Yayasan Kebudayaan Indera Sakti.

​Selain wawancara, tim melakukan survei cepat (rapid survey) ke berbagai potensi warisan budaya lainnya. Beberapa situs yang dipetakan antara lain Galeri Kutubkhanah Marhum Ahmadi di Masjid Raya Sultan Riau yang menyimpan artefak kitab era Raja Muhammad Yusuf Al-Ahmadi, tapak klub intelektual Rusydiah Club, tapak rumah pahlawan bahasa Raja Ali Haji, situs Istana Kantor, kompleks makam Raja Hamidah, serta beberapa perigi (sumur) tua yang masih terjaga.

​Kegiatan hari kedua ini menegaskan bahwa Tanjungpinang dan Penyengat bukan sekadar memiliki warisan fisik, namun juga menyimpan kekayaan tradisi lisan, pengetahuan lokal, dan memori kolektif yang masih dihidupi oleh masyarakatnya hingga hari ini.

Editor: Adi Pranadipa
Photo : Alfredo, Puspa, Ari Arifandi

Scroll to Top