Prodi Bisnis Digital UMRAH Tanam 300 Bibit Mangrove, Ajak Mahasiswa Kenali Carbon Offset dan Ekonomi Biru
TANJUNGPINANG – Sebanyak 129 mahasiswa Program Studi Bisnis Digital, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Maritim (FEBM), Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH), mengikuti kegiatan Mangrove Carbon Offset melalui penanaman 300 bibit mangrove di Senggarang Besar, Kota Tanjungpinang, Kamis (15/10). Kegiatan ini mengintegrasikan pembelajaran lapangan, kepedulian terhadap perubahan iklim, dan pengenalan peluang bisnis berbasis ekonomi biru (blue economy).
Kegiatan yang dilaksanakan dalam rangka menyambut International Day of Climate Action atau Hari Aksi Iklim Internasional tersebut merupakan bagian dari pembelajaran lapangan mata kuliah Ekonomi dan Bisnis Maritim (FEB11103). Mata kuliah ini diampu oleh empat dosen, yakni Prof. Agung Dhamar Syakti, Mirza Ayunda Pratiwi, S.E., M.Sc., Henky Irawan, S.Pi., M.P., M.Sc., dan Ahmad Bima Mahendra, S.M., M.M.
Kegiatan ini berkolaborasi dengan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Senggarang dan Mangrove Information Training Centre (MITC) UMRAH. Sebanyak 300 bibit mangrove yang ditanam merupakan hasil pembibitan warga melalui Pokdarwis Senggarang. Kolaborasi ini menjadi bagian dari upaya mempertemukan peran perguruan tinggi dan masyarakat dalam menjaga kelestarian ekosistem pesisir.
Mahasiswa Belajar Menghitung Carbon Offset
Kegiatan ini tidak hanya berfokus pada penanaman mangrove, tetapi juga memperkenalkan mahasiswa pada konsep carbon offset atau kompensasi karbon melalui penghitungan jejak karbon menggunakan aplikasi kalkulator karbon mangrove sebelum kegiatan lapangan.
Dosen pengampu mata kuliah, Henky Irawan, S.Pi., M.P., M.Sc., menjelaskan bahwa penggunaan kalkulator tersebut merupakan bagian dari pembelajaran untuk mengenalkan konsep jejak karbon dan peran ekosistem mangrove dalam mendukung penyerapan karbon.
Aplikasi yang digunakan dalam kegiatan ini dapat diakses melalui Mangrove Carbon Offset Calculator (https://rhizophora-carbon-offset-calculator.onhercules.app/).
Melalui pendekatan tersebut, mahasiswa tidak hanya berpartisipasi dalam aksi penanaman, tetapi juga memperoleh pemahaman awal mengenai pengukuran jejak karbon dan kaitannya dengan keberlanjutan lingkungan. Pelaksanaan penanaman turut diatur melalui formasi peserta agar seluruh mahasiswa dapat berpartisipasi secara serentak, tertib, dan terkoordinasi.
Pembelajaran ini menghubungkan materi perkuliahan dengan persoalan nyata di kawasan pesisir, mulai dari perubahan iklim dan pengelolaan lingkungan hingga potensi ekonomi yang dapat dikembangkan melalui pelestarian mangrove.
Lingkungan dan Masyarakat sebagai Ruang Belajar
Koordinator Program Studi Bisnis Digital UMRAH, Mirza Ayunda Pratiwi, S.E., M.Sc., mengatakan bahwa kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya menghadirkan pembelajaran yang tidak hanya berpusat di ruang kelas dan laboratorium komputer, tetapi juga memanfaatkan lingkungan dan masyarakat sebagai ruang belajar nyata atau living lab.
“Melalui kegiatan ini, kami ingin mendorong mahasiswa Bisnis Digital untuk belajar tidak hanya dari laboratorium komputer, tetapi juga dari lingkungan dan masyarakat secara langsung. Mahasiswa dapat memahami persoalan lingkungan, merasakan pengalaman berkontribusi bagi kelestarian alam, serta melihat bagaimana aktivitas pelestarian dapat dikembangkan menjadi peluang ekonomi yang berkelanjutan,” ujar Mirza.
Menurutnya, pembelajaran lapangan penting untuk menumbuhkan kepedulian mahasiswa terhadap tantangan perubahan iklim sekaligus menghubungkan pengetahuan akademik dengan kebutuhan masyarakat.
Ia menambahkan bahwa ekosistem mangrove tidak hanya memiliki fungsi ekologis, tetapi juga berpotensi dikembangkan untuk mendukung kegiatan edukasi, ekowisata, dan usaha berbasis ekonomi biru.
“Mahasiswa perlu melihat secara langsung bagaimana potensi lokal dapat dikembangkan menjadi peluang bisnis. Melalui kegiatan ini, kami berharap tumbuh inspirasi untuk membangun usaha yang inovatif, memiliki nilai ekonomi, dan tetap memperhatikan keberlanjutan lingkungan,” tambahnya.
Kolaborasi Kampus dan Masyarakat untuk Pelestarian Pesisir
Lurah Senggarang, Edy Susanto, yang turut hadir dan berpartisipasi dalam kegiatan tersebut, menyampaikan apresiasi kepada UMRAH, khususnya Program Studi Bisnis Digital, atas kontribusinya dalam mendukung pelestarian lingkungan di wilayah Senggarang yang merupakan Kampung ProKlim.
Ia berharap kegiatan penanaman mangrove dan pengabdian kepada masyarakat dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan dengan melibatkan dosen dan mahasiswa.Kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah kelurahan, dan masyarakat diharapkan tidak berhenti pada satu kegiatan, tetapi dapat berkembang menjadi upaya bersama untuk menjaga kawasan pesisir, meningkatkan kesadaran lingkungan, dan memperkuat potensi lokal Senggarang.
Keterlibatan Pokdarwis Senggarang melalui penyediaan bibit hasil pembibitan warga juga menunjukkan pentingnya partisipasi masyarakat dalam mendukung keberlanjutan program pelestarian mangrove.
Mendukung Aksi Iklim dan Pengembangan Ekonomi Biru
Kegiatan Mangrove Carbon Offset mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 13 tentang Penanganan Perubahan Iklim, SDG 14 tentang Ekosistem Lautan, dan SDG 15 tentang Ekosistem Daratan.
Bagi Program Studi Bisnis Digital UMRAH, kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat pembelajaran berbasis potensi maritim Kepulauan Riau. Mahasiswa diharapkan tidak hanya mengembangkan kompetensi bisnis digital, tetapi juga memiliki kepedulian terhadap lingkungan, memahami kebutuhan masyarakat, dan mampu mengidentifikasi peluang usaha yang memperhatikan keberlanjutan.
Penanaman 300 bibit mangrove di Senggarang Besar menjadi wujud integrasi pendidikan, pengabdian kepada masyarakat, dan kepedulian terhadap lingkungan pesisir. Lebih dari sekadar aksi penanaman, kegiatan ini diharapkan dapat menginspirasi mahasiswa untuk mengembangkan inovasi dan kewirausahaan berbasis ekonomi biru yang memberikan manfaat bagi masyarakat sekaligus menjaga kelestarian ekosistem pesisir. (RAS/Humas)
