Home Blog Page 165

Daeng Ayub Natuna, “Dilema Dosen PA”

0

Oleh  Daeng Ayub Natuna, M.Pd

Daeng Ayub Natuna, M.Pd

Permasalahan penting yang dihadapi mahasiswa adalah adanya hambatan menyelesaikan studi dalam waktu yang tepat. Menurut peraturan akademik yang dikeluarkan oleh banyak perguruan tingi, baik negeri maupun swasta, mahasiswa diberi kesempatan untuk mencapai gelar sarjana dalam waktu tidak lebih dari 14 semester atau tujuh tahun untuk program strata satu/S1 (sarjana). Rentang waktu sepanjang itu memberi cukup lama kebebasan, dibanding dengan masa aktif kuliah menyelesaikan kurikulum yang hanya 8 (delapan semester/4 tahun). Dari pengalaman selama beberapa tahun terakhir ini, waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan studi oleh mahasiswa meskipun tidak secara signifikan cenderung semakin cepat.Untuk program sosial semakin banyak mahasiswa yang menyelesaikan studinya kurang dari 4 tahun, sedangkan untuk kelompok eksak juga demikian.

Selain persoalan akademik juga saat ini dihadapkan pada masalah lain yaitu mulai lunturnya nilai- nilai moral dan budi pekerti, seperti rasa hormat mahasiswa terhadap dosen, mahasiswa terhadap pegawai, mahasiswa yunior dengan senior, bahkan sering bersikap kurang santun dalam pergaulan di kampus. Dalam berkomunikasi dengan siapa saja mereka cenderung menggunakan bahasa gaul, tak terkecuali dengan dosen dan pegawai. Termasuk alam berkomunikasi via telepon genggam, apalagi dalam menggunakan pesan pendek (sms), mereka cenderung menggunakan bahasa yang digunakan ketika berkomunikasi dengan teman-temannya.

Motivasi belajar mahasiwa saat ini pun serba instans, artinya masih rendah, mahasiswa ingin serba mudah, sering hanya copy paste, dari tugas teman dan internet. Sebagian besar, tugas-tugas dari dosen dibuat di “pabrik tugas” atau diupahkan. Bahkan ada mahasiswa yang bangga mendapat gelar sarjana dengan mepertahan skripsi hasilan “pabrik”. Terhadap dosen dan tradisi ilmiah dalam mengamalkan tridhrama perguruan tinggi, mahasiswa mengabaikan untuk  mengedepankan kejujuran. Hal ini sungguh sangat bertentangan dengan tujuan pendidikan nasional bahkan dengan tujuan dan visi setiap perguruan tinggi.

Pada beberapa perguruan tinggi telah membuat uraian tugas dosen Penasehat Akademik (PA) atau dosen wali/perwalian, yaitu: (1) membina mahasiswa sehingga mempunyai watak kepribadian dan sikap yang sesuai dengan calon sebagai ilmuwan yang berguna bagi masyarakat, bangsa dan Negara; (2) mengusahakan agar setiap mahasiswa yang berada di bawah tanggung-jawabnya memperoleh pengarahan yang tepat dalam penyusunan beban dan program belajar serta memilih matakuliah yang akan diambilnya pada setiap semester; (3)  memberikan motivasi kepada mahasiswa untuk berkembang, khususnya yang berkenaan dengan pendidikannya; (4) membantu mahasiswa dalam memecahkan persoalan-persoalan akademik yang dialaminya; (5) mendorong mahasiswa agar mampu belajar secara efektif dan mendapatkan hasil belajar yang maksimal; dan (5) memberikan laporan kepada jurusan tentang perkembangan mahasiswa yang dibimbingnya pada setiap semester.

Permasalahan selanjutnya, memang pelaksanaan program pembimbingan dosen PA belum dapat sepenuhnya memenuhi mahasiswa dan hakikat dari adanya PA itu sendiri. Selain belum adanya acuan yang jelas,  mantap dan rinci, pada tingkat jurusan pun belum ada aturan pelaksanaan atau kesepakatan antar dosen PA terhadap tugas perwalian itu yang dapat dijadikan acuan peningkatan kinierja dosen PA.

Akibat tidak adanya acuan yang jelas, maka yang terjadi dalam pelaksanaan tugas dosen PA sejak awal tahun 1980-an sampai sekarang menggambarkan fakta, bahwa pengertian dari istilah Penasehat Akademik (PA) tidak diartikan secara luas tetapi banyak terjadi hanya terbatas pada awal semester, yaitu ketika mahasiswa minta tandatangan persetujuan dari dosen PA untuk mengikuti mata kuliah dalam bentuk jumlah SKS yang akan diambil. Sesudah itu, seolah-olah hubungan antara dosen PA dengan mahasiwa menjadi terputus. Kemudian setiap kali datang masa perwalian, mahasiwa datang menjumpai dosen PA dengan menyodorkan isian KRS untuk ditandatangani. Dalam hal ini dosen masih sempat mengecek jumlah SKS yang akan diambil oleh mahasiswa, disesuaikan dengan IP yang diperoleh.

Apabila SKS yang dituliskan sudah sesuai dengan persyaratan IP mahasiswa, biasanya dosen PA tinggal menandatangani saja. Kadang-kadang ada mahasiswa yang berhalangan tidak dapat datang, namun ada dosen yang memperbolehkan, sehingga KRS mahasiswa yang tidak hadir tersebut yang diditip kepada teman juga ditandatangani. Selalu pula terjadi, KRS sudah diisi, sementara IP mahasiswa belum diketahui karena ada dosen yang belum memasukkan nilai sehingga belum dapat menghitung IP yang bersangkutan, namun KRS juga ditandatangai dan kuliah semester berikutnya dapat diikuti mahasiswa. Oleh sebab itu, banyak dosen PA yang tidak tahu secara pasti bagaimana kemampuan mahasiswa untuk mengambil mata kuliah dan kemampuan yang sebenarnya.

Sering pula terjadi, meskipun jadwal waktu perwalian sudah diumumkan, baik kepada dosen maupun mahasiswa, namun tidak sedikit mahasiswa yang terpaksa tidak dapat menjumpai dosen karena dosen tidak hadir atau sibuk urusan lain. Dalam keadaan seperti itu maka bukan saja mahasiwa yang merasa kecewa tetapi juga dosen. Keadaan sebaliknya, ketika jadwal perwalian tiba, dosen sudah siap menunggu beberapa hari tetapi mahasiswa tidak hadir. Mereka datang ketika jadwal perwalian sudah habis. Jika peristiwa seperti itu terjadi, dosen PA sudah tidak lagi bersedia untuk perwalian, dan sibuk dengan lain, sehingga KRS mereka ditangangi oleh Ketua atau Sekretaris Program Studi. Tentu saja kejadian seperti ini menyalahi tujuan pembimbingan dosen kepada mahasiswa, baik hubungan antara dosen PA dengan mahasiswa yang menjadi tanggungjawab bimbingannya. Ketua Program Studi belum tentu memahami persoalan mahasiswa yang menghadap untuk menandatangani KRS.

Menyimak beberapa situasi dari mekanisme proses perwalian oleh dosen PA seperti itu, maka perlu ada pembenahan terhadap hubungan antara dosen PA dengan mahasiswa, bukan hanya pada waktu pengisian KRS saja, tetapi juga sepanjang masa kuliah dan terutama untuk mewujudkan lulusan yang tidak saja ber-IPK tinggi, tetapi juga berbudi pekerti serta mempunyai sopan santun kesarjaan yang mulia.

Apabila hanya tugas perwalian pengisian KRS saja dijalankan dosen PA, maka ada penyakit yang harus disembuhkan karena ada mekanismenya masih belum lancer baik dari sisi dosen maupun dari sisi mahasiswa, atau mungkin peraturan yang menyangkut program tersebut, terkait dengan seluruh faktor proses pembimbingan. Berkaitan dengan tridharma perguruan tinggi, dosen selain memiliki tugas mengajar (Pendidikan), juga bertugas membimbing mahasiswa (Sebagai Penasehat Akademik). Pada kenyataannya sebagian besar dosen PA baru memberikan layanan bimbingan akademik yang bersifat administratif. Untuk meningkatkan kualitas proses dan produk pendidikan kiranya perlu ditingkatkan keefektivitas kepenasehatan akademik. Oleh karena itu, setiap fakultas atau program studi perlu melakukan workshop pemberdayaan PA kepada mahasiswa, sehinga dosen PA tidak lagi menjadi dilema.[]

Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru UMRAH Tahun Akademik 2011-2012 dimulai

0
Panitia SPMB UMRAH melayanani Calon Pendaftar, Kamis(28/4), Foto : Adi Pranadipa/warta

Tanjungpinang – Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB) Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH) untuk calon mahasiswa tahun akademik 2011-2012 telah dibuka. SPMB UMRAH tahun ini sedikit berbeda dengan SPMB UMRAH tahun lalu. Tahun ini Seleksi dilakukan lebih ketat sehingga diharapkan dapat meningkatkan kualitas calon mahasiswa UMRAH tahun ini, disamping itu juga adanya  penambahan Tes kualifikasi mengajar dan wawancara khusus bagi pendaftar pada Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UMRAH.

Tahapan SPMB UMRAH 2011 sudah dimulai sejak tanggal  1 April 2011 hingga 30 Juni 2011, kemudian ujian Saringan Masuk dilaksanakan tanggal 7 Juli 2011, khusus bagi Pendaftar pada FKIP UMRAH dilaksanakan pada tanggal 11 Juli 2011, lalu pengumuman hasil tes akan dimumkan pada tanggal 12 Juli 2011.

Biasanya Jumlah pendaftar jelang tutup masa pengambilan formulir akan melonjak naik demikian yang disampaikan oleh salah satu panitia Pengambilan dan penerima formulir SPMB UMRAH, Febi Adhitama, saat ditemui reporter warta umrah, Jum’at (29/4) di outlet penerimaan mahasiswa baru UMRAH di Lobby Rektorat UMRAH Senggarang.

“Jumlah pendaftar saat ini berjumlah sekitar 120-an Calon mahasiswa yang sudah mengambil formulir pendaftaran, dan ada beberapa yang sudah mengembalikan formulir, kalau dibandingkan dnegan tahun kemarin kurang lebih sama, karena biasanya pendaftar akan melonjak naik setelah Pengumuman Kelulusan SMA diumumkan”  kata Febi.

Selain Penerimaan Mahasiswa jalur Reguler, UMRAH juga memiliki Jalur khusus Beasiswa Hinterland yang dikhususkan bagi Calon Mahasiswa yang tidak mampu namun berprestasi selain itu juga UMRAH memiliki program Non-reguler khusus bagi Calon mahasiswa  yang sudah bekerja.(dip)

 

Serah Terima Aset UMRAH Tahap II ke Mendiknas

0
Gubernur Kepri , HM Sani menyerahkan dokumen serah terima aset UMRAH kepada Dirjen Dikti Djoko Santoso di gedung Kemendiknas , Senin (31/1). Dok . humas Pemprov Kepri/mazpram.

Jakarta, Senin (31 Januari 2011)–Universitas Maritm Raja Ali Haji (Umrah) Provinsi Kepulauan Riau segera berstatus negeri. Upaya ini atas usul pihak yayasan dengan dukungan dari pemerintah daerah. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan Nasional (Ditjen Dikti Kemdiknas) mendampingi proses perubahan status dengan mempertimbangkan kesiapan operasional, kelengkapan sarana dan prasarana, sumber daya manusia (SDM), dan program studi yang ditawarkan.

“Lahan sudah memadai, bangunan-bangunan awal sudah ada, dan jalur akademik sudah dianalisa dan memadai,” kata Wakil Menteri Pendidikan Nasional Fasli Jalal usai menyaksikan penandatanganan naskah serah terima aset berupa tanah kampus Umrah dan SDM antara Gubernur Kepulauan Riau H. Muhammad Sani dengan Direktur Jenderal Dikti Kemdiknas Djoko Santoso di Gedung Kemdiknas.

Fasli menyampaikan, proses selanjutnya untuk mendapatkan status negeri yaitu mendapatkan persetujuan penerimaan aset bersih, yang sudah bersertifikat oleh Kementerian Keuangan. Selain itu, persetujuan dari kelembagaan PTN baru dengan SDM yang nanti akan ditransformasikan bagi yang memenuhi syarat menjadi pegawai negeri sipil oleh Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi serta dari Badan Kepegawaian Negara.

Djoko menyampaikan, angka partisipasi kasar (APK) jenjang pendidikan tinggi hampir mencapai 18,5 persen. Dia menyebutkan, kenaikan satu persen APK setara dengan 213 ribu kursi baru mahasiswa. Ditargetkan, pada 2014 mencapai 25%.”Oleh karena itu, yang harus kita lakukan adalah membuat universitas dengan mutu yang baik,” katanya.

Djoko mengatakan, saat ini Provinsi Kepulauan Riau belum memiliki universitas negeri. Dia berharap, dalam waktu tidak terlalu lama segera memiliki universitas negeri. “Dengan penyerahan aset ini, Kementerian menunjukkan dukungan agar semuanya bisa berjalan dengan baik,” katanya.

Sani menyebutkan, saat ini UMRAH memiliki sebanyak 4.596 mahasiswa pada sembilan program studi, yang dibimbing oleh 147 dosen. Dia menyebutkan, pembangunan kompleks kampus sampai saat ini mencapai 80 persen. “Dengan total dana 50 milyar diharapkan pada 2011 ini sudah selesai. Kalau tahun ini sudah menjadi negeri, tahun ini (Umrah) juga sudah memiliki kampus,” katanya.(dip/humasdikti)

Peluncuran Seri Puisi Jerman VI karya Frederich Nietszche di UMRAH

0
Prof. Damsaucher, Agus Sarjono, dan Abdul Kadir Ibrahim sebagai Moderator. Dipa/warta umrah

Fakultas Keguruan & Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH) menjadi tuan rumah diluncurkannya Buku Seri puisi Jerman VI, kumpulan puisi  Frederich Nietzche yang berjudul Syahwat Keabadian ,  Selasa (1/3). Dalam Acara yang disponsori oleh Goethe Institute itu menghadirkan Prof. Berthold Damsaucher dan Agus Sarjono sebagai narasumber, serta Abdul Kadir Ibrahim sebagai  moderator.

Dalam kata Sambutannya Drs. Abdul Malik, M.Pd sebagai Dekan FKIP UMRAH menyampaikan kepada Civitas Akademika dan Para Undangan bahwa FKIP UMRAH sangat beruntung dan amat berhormat ditunjuk sebagai salah satu tuan rumah penyelenggara acara oleh Goethe Institute mendampingi kota-kota lainnya di Indonesia. Hal ini menandai bahwa UMRAH sudah mulai diperhitungkan di kancah nasional terutama dalam Kesusastraan.

“Awalnya kami mempertimbangkan untuk memakai gedung Aisyah Sulaiman atau Hotel untuk penyelenggaraan  acara ini, namaun akhirnya kami putuskan untuk teteap menyelenggarakannya di UMRAH dengan segala keterbatasan yang ada. Karena UMRAH juga sedang membangun kampus yang megah dan representatif di Pulau Dompak” kata lelaki yang sedang menempuh studi Doktoral di Universiti Malaya (UM) Malaysia ini dalam sambutannya.

Dalam kesempatan itu Sastrawan Agus Sarjono selaku Editor buku Puisi Nietszche yang menjadi narasumber mengatakan bahwa ia sangat terkesan dengan semangat civitas akademika FKIP UMRAH.

“Saya bersyukur bisa datang ke Tanjungpinang, dan tampaknya saya akan sering-sering berkunjung ke kota ini walaupun ruang yang ada ini kurang representatif, namun tidak menjadi masalah karena  akan menjadi sebuah ingatan bagi saya bahwa kita pernah berseminar dan berpuisi di sini” ujarnya.

Berthold Damhauser (58), pengajar Sastra dan Bahasa Indonesia di Universitas Bonn, Jerman, dan editor Seri Puisi Jerman ditodong pertanyaan, apa yang relevan dari pokok-pokok pemikiran Nietzsche dengan situasi di Indonesia masa kini?

”Nietzsche mengecam manusia-domba dan sikap beragama yang dombawi. Kaum dombawi adalah gerombolan massa. Manusia bertindak seperti domba, dungu, tak bisa berpikir mandiri, dan mudah digiring untuk berbuat kejahatan. Ia mengimbau agar kita hidup dan berpikir mandiri, tidak mudah dipengaruhi atau diperintah orang lain,” jawab Damhauser.

Antusiasme audiens mengikuti acara pembacaan puisi dan diskusi mengiringi peluncuran kumpulan puisi ”Syahwat Keabadian” di FKIP UMRAH menunjukkan apresiasi kalangan terpelajar Indonesia terhadap Friederich Nietzsche (1844-1900).

Nietzsche adalah filsuf Jerman yang pemikirannya punya pengaruh dan berdampak besar pada jagat filsafat dan perkembangan pemikiran di dunia, sejajar dengan Karl Marx dan Sigmund Freud. Selain sebagai filsuf, Nietzsche sebenarnya juga seorang penyair besar. Bahkan, intisari pemikiran filosofisnya banyak ditemukan pada karya-karya puisinya, yang jumlahnya tak kurang dari 500.

Menurut Damhauser, di Indonesia, Nietzsche kurang dikenal sebagai penyair. ”Nietzsche membuat pembaruan pada sastra Jerman. Puisi-puisinya menunjukkan kebebasan berbahasa, tetapi sekaligus mengenalkan metafora-metafora baru sehingga menciptakan bahasa sastra yang luar biasa indah. Ia bisa disebut sebagai maestro bahasa setelah Martin Luther dan Johann Wolfgang von Goethe,” kata Damhauser.

Ateis

Karya pemikirannya yang paling menggemparkan dan mengguncang dunia adalah pernyataan: ”Tuhan sudah mati”. Namun, menurut Damhauser, walau Nietzsche seorang yang ”100 persen ateis”, sebenarnya pemikiran tersebut bukan yang pertama kali. Di Jerman, pada saat itu kepercayaan tentang Tuhan memang sudah hilang atau memudar.

Damhauser menuturkan, sejak usia 15 tahun, Nietzsche telah menulis berbagai pemikiran, selain puisi, dan semakin dewasa pemikirannya semakin luas dan liar.

Di mata Agus R Sarjono, editor Seri Puisi Jerman, Nietzsche adalah filsuf sekaligus penyair yang justru paling intens bergumul dengan tema ketuhanan. Dia menjalani banyak tahapan pengenalan sejak dia menjadi calon rahib yang didera demam rindu pada Tuhan, sebelum sampai pada pernyataannya, ”Tuhan sudah mati”.

Simak puisi yang dia tulis saat usia 18 tahun, ”Engkau Memanggil, Tuhan, Kuhampiri”: Engkau memanggil:/ Tuhan: aku bergegas/Dan kini mendamba/Di tangga singgasanaMu/Alangkah ramah/Menyakitkan/Berkilau menembus kalbu:Tuhan kuhampiri… (dari kumpulan Kepada Tuhan yang Tak Dikenal).

Damhauser menyebutkan, walaupun Nietzsche tidak percaya pada akhirat dan metafisika, ia percaya akan roh di seberang kebendaan. Namun, sikap transendentalnya itu ia tuangkan ke dalam keduniaan, keimanenan.

Nietzsche pada dasarnya ingin menebarkan sikap skeptis terhadap apa saja, termasuk tentang kebenaran karena tidak ada kebenaran yang mutlak. Pandangan itu mengkristal dalam mahakaryanya, ”Demikian Sabda Zarathustra”. Melalui tokoh fiktif Zarathustra, Nietzsche ingin menafikan dikotomi tentang baik dan jahat.

Ia juga menolak moralitas nasrani, rasa iba hati, cinta kepada sesama. Namun, menjelang akhir hidupnya, saat dia mulai dihinggapi penyakit jiwa, mendadak ia menunjukkan sikap iba hati. Di Turin, ia memeluk kuda yang dilecuti oleh majikannya.

Walau dia dikenal sebagai ateis dan menolak moralitas agama, beberapa pemikirannya menunjukkan bahwa Nietzsche percaya pada ”keberulangan abadi”, semacam konsep reinkarnasi dalam agama Timur.

Simak sepenggal puisinya, ”Tujuh Materai”, yang dibacakan secara bergantian oleh Berthold Damhauser, dan Agus Sarjono: ….Oh, bagaimana aku tak syahwatkan keabadian/ dan cincin kawin segala cincin,/ –cincin Sang Keberulangan!// Tak pernah kutemukan perempuan/ yang ingin kujadikan ibu anak-anakku,/ kecuali perempuan yang kucintai ini:/ karena kucintai kau, oh Keabadian!//.(dip/goethe)