Rektor UMRAH Jadi Invited Speaker Konferensi Internasional di India, Dorong Penguatan Kerja Sama Maritim Indo-Pasifik

TANJUNGPINANG – Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH) terus memperluas jejaring akademiknya di tingkat internasional. Rektor UMRAH, Prof. Dr. Agung Dhamar Syakti, S.Pi., DEA, hadir sebagai Invited Speaker pada 4th International Conference of the International Centre for Indo-Pacific Studies (ICIPS) yang digelar di Kurukshetra University, India. Senin (28/9).

Dalam konferensi tersebut, Rektor UMRAH menyampaikan keynote address yang menyoroti pentingnya penguatan kolaborasi antarperguruan tinggi berbasis maritim untuk mendukung stabilitas, keberlanjutan, serta pengembangan pengetahuan di kawasan Indo-Pasifik.

Indonesia dan India sebagai Kekuatan Maritim

Dalam paparannya, Prof. Agung menekankan kedekatan strategis Indonesia dan India sebagai dua negara maritim yang terhubung oleh Samudra Hindia.

Menurutnya, posisi Indonesia yang berada di jalur pelayaran strategis dunia, termasuk Selat Malaka, Selat Sunda, dan Selat Lombok, serta posisi India dengan bentang wilayah pesisir yang luas di Samudra Hindia, membuka ruang kerja sama yang besar dalam bidang kelautan dan kemaritiman.

“Isu-isu global seperti pembalakan ikan ilegal (IUU Fishing), pencemaran sampah plastik laut, degradasi ekosistem pesisir, hingga perubahan iklim membutuhkan solusi berbasis data dan penelitian ilmiah yang kuat,” ujar Prof. Agung.

Kerja sama tersebut, lanjutnya, dapat dikembangkan melalui kerangka Indo-Pacific Ocean Initiative (IPOI) yang dicanangkan oleh Kementerian Luar Negeri India.

Membuka Ruang Sinergi UMRAH–Kurukshetra University

Forum internasional tersebut juga menjadi ruang untuk mempertemukan potensi UMRAH sebagai perguruan tinggi negeri yang berfokus pada bidang kemaritiman dengan Kurukshetra University melalui International Centre for Indo-Pacific Studies (ICIPS).

Kolaborasi kedua institusi diarahkan pada sejumlah bidang yang terkait dengan tujuh pilar IPOI. Beberapa prioritas yang dibahas meliputi keamanan maritim dan ekonomi biru, ekologi maritim serta sains dan teknologi, dan pertukaran akademik serta peningkatan kapasitas.

Pada bidang keamanan maritim dan blue economy, kerja sama diarahkan pada pengembangan penelitian bersama terkait pengelolaan sumber daya laut secara berkelanjutan serta isu-isu keamanan maritim.

Sementara pada bidang ekologi dan sains-teknologi, peluang kolaborasi mencakup pemetaan keanekaragaman hayati, pemantauan mikroplastik di kawasan Selat Malaka hingga Samudra Hindia, serta pemanfaatan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) untuk mendukung tata kelola maritim.

Adapun penguatan kapasitas akademik dapat dilakukan melalui program visiting professor, magang mahasiswa, pertukaran riset, hingga penyelenggaraan workshop bersama mengenai Maritime Domain Awareness (MDA) yang berkaitan dengan pencapaian SDG 14: Life Below Water.

Empat Agenda Tindak Lanjut

Partisipasi dalam konferensi tersebut juga menghasilkan sejumlah rencana tindak lanjut antara UMRAH dan Kurukshetra University melalui ICIPS.

Agenda yang direncanakan meliputi penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) antarlembaga, pengembangan Joint PhD Dual-Degree di bidang Sains Kelautan dan Kebijakan Maritim, serta penyelenggaraan Annual IPOI Academic Symposium yang direncanakan berlangsung secara bergantian di Tanjungpinang dan Kurukshetra.

Selain itu, kedua institusi juga menjajaki pembentukan Blue Innovation Lab sebagai ruang pengembangan teknologi dan kewirausahaan maritim yang berkelanjutan. Rangkaian agenda tersebut menjadi bagian dari upaya UMRAH memperluas jejaring akademik internasional sekaligus memperkuat peran perguruan tinggi dalam pengembangan riset, inovasi, dan pengetahuan di bidang kemaritiman.

Langkah ini juga sejalan dengan arah UMRAH untuk memperkuat posisinya sebagai pusat keunggulan dalam riset dan pengembangan peradaban maritim. (RAS/Humas)