Sains dalam Genggaman Warga
PENGUDANG & BERAKIT — Dahulu, perairan Bintan adalah rumah yang ramai bagi Dugong. Namun perlahan, mamalia laut yang pemalu ini seolah raib, hanya menyisakan cerita pengantar tidur bagi anak cucu. Enggan membiarkan memori itu lumat oleh waktu, Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH) kini turun tangan, merajut kembali jejak sang duyung melalui inovasi digital.
Bekerja sama dengan PT PELINDO, DKP Kepri, dan KKP, UMRAH resmi meluncurkan Dugong Conservation Dashboard pada kegiatan Pengabdian Masyarakat Program studi MSP UMRAH. Ini bukan sekadar papan data digital, melainkan sebuah ikhtiar besar untuk memadukan kecanggihan teknologi dengan kearifan lokal yang telah mengakar selama berabad-abad.
Sains yang Membumi di Genggaman Nelayan
Bagi UMRAH, konservasi tak boleh hanya berhenti di laboratorium. Lewat Dugong App dan proyek Chasing the Dugong, tim peneliti menerjunkan unit drone untuk menyisir langit Pulau Sumpat hingga perairan Dompak Selatan. Dari ketinggian, teknologi ini memetakan habitat, namun di permukaan laut, warga lokal-lah yang menjadi “matanya”.
Masyarakat di Pengudang dan Berakit kini tak lagi sekadar penonton. Melalui aplikasi tersebut, setiap pasang mata nelayan kini menjadi bagian dari citizen science (sains warga). Mereka bisa melaporkan penampakan dugong secara real-time, memastikan bahwa perlindungan mamalia ini berdiri tegak di atas pondasi ilmu pengetahuan dan tradisi.
Suara dari Bibir Pantai
Di sela peluncuran, suasana menghangat saat para penjaga laut Bintan berbagi kisah. Pak Thalib mengenang kembali masa-masa keemasan saat dugong, penyu, dan lumba-lumba masih bebas menari di depan beranda rumah mereka. Ada pula Ibu Maria, Ketua RT 1 Teluk Merbau, yang menceritakan kemampuan unik suaminya dalam “memanggil” dugong—sebuah koneksi batin antara manusia dan alam yang kini coba divalidasi oleh peneliti UMRAH.
Perubahan paradigma pun terasa nyata dari penuturan Pak Lago, warga suku laut. Ia mengakui jujur bahwa dulu dugong sempat menjadi buruan untuk konsumsi, namun tradisi itu kini telah lama mati, digantikan oleh kesadaran untuk menjaga.
“Dasbor ini memudahkan kami untuk melapor. Harapan kami sederhana: ingin melihat laut kami kembali ‘hidup’ seperti dulu lagi,” ungkap warga penuh harap.
Gema Global dari Pesisir Bintan
Menariknya, langkah UMRAH ini juga memikat perhatian dunia. Mahasiswa biologi kelautan dari Republic Polytechnic Singapura turut hadir, melebur bersama warga dan peneliti. Di sini, rasa ingin tahu ilmiah global bertemu dengan kearifan lokal, menciptakan sebuah ruang kolaborasi tanpa sekat negara dua wilayah yang terpisah oleh traktat london 1824.
Sebuah Titik Balik
“Chasing the Dugong” ini adalah sebuah pesan kuat bagi dunia: bahwa teknologi tak selalu harus menggusur tradisi. Dengan menyatukan pantauan drone, dasbor digital, dan suara dari pesisir, UMRAH sedang menulis ulang masa depan bahari Bintan. Dari sekadar kenangan menjadi pemantauan aktif; dari sebuah dongeng menjadi langkah nyata pelestarian.
Perjalanan masih panjang, namun di bawah langit Bakau Terang, harapan itu baru saja menemukan arahnya
(MSP UMRAH)

