UMRAH Perkuat Kolaborasi Nasional untuk Pemetaan Warisan Budaya Takbenda Berbasis GIS

Tanjungpinang — Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH) kembali menunjukkan komitmennya dalam memajukan kajian pelestarian warisan budaya melalui penerapan teknologi pemetaan mutakhir.

Dalam kegiatan workshop yang melibatkan UI, IPB, Universitas Trisakti, Universitas Brawijaya dan Kementerian Pekerjaan Umum (KemenPU), UMRAH menegaskan pentingnya pendekatan Historic Urban Landscape (HUL) dalam mendokumentasikan dan memahami hubungan antara warisan takbenda, masyarakat, dan ruang hidupnya.

Kolaborator dari KemenPU , Fauzi dalam sesi presentasi hari ketiga Workshop HUL: Mapping Intangible pada, Rabu, (3/12) di Co-Working Space Gedung B Satu-Gurindam Muhammad Sani Kampus UMRAH memaparkan bahwa melalui integrasi Geographic Information System (GIS), pemetaan warisan takbenda tidak lagi hanya dipahami secara deskriptif, tetapi secara kontekstual melalui analisis keterkaitan antara tradisi, pola permukiman, penggunaan lahan, serta rute budaya yang membentuk identitas kawasan.

“GIS menjadi kerangka analitis yang mampu menampilkan dinamika interaksi antara heritage dan lingkungan secara lebih menyeluruh dan mudah dipahami para pemangku kepentingan” Ujar Fauzi.

Kegiatan pemetaan yang dilakukan terdiri atas tiga tahap utama. Tahap pertama adalah pengumpulan data melalui perencanaan survei, pemetaan udara menggunakan drone, kontrol geodetik GNSS, serta pengumpulan referensi pendukung mengenai warisan budaya dan lanskap urban. Tahap kedua meliputi pemrosesan data fotogrametri dengan metode Structure-from-Motion, georeferensi Ground Control Points (GCP), ortorektifikasi citra, serta penyusunan model permukaan digital untuk memahami kondisi lahan dan struktur kawasan.

Tahap ketiga kemudian menghasilkan analisis spasial seperti ekstraksi fitur, klasifikasi penggunaan lahan, pengukuran area atau volume terkait situs bersejarah, hingga visualisasi akhir berupa peta tematik, dashboard interaktif, atau model 3D untuk keperluan interpretasi dan diseminasi.

Pelaksanaan dan dukungan teknis dalam kegiatan ini turut diperkuat oleh GIS Studio dan Modelling Studio pada Balai Tata Bangunan Gedung dan Lingkungan, Kementerian PU yang menyediakan keahlian dalam pemindaian resolusi tinggi berbasis TLS, survei udara berbasis drone, hingga simulasi spasial luar ruang. Kolaborasi ini memastikan bahwa pemetaan dapat berlangsung secara akurat meskipun berada pada lingkungan kompleks atau sulit diakses, sehingga data yang dihasilkan dapat dipertanggungjawabkan untuk kepentingan akademik maupun kebijakan.

Hasil dari pemetaan ini turut dikolaborasikan dengan salah satu visualisasi ketertautan Intangible Cultural Heritage hasil pengolahan pemetaan di hari kedua, Selasa(2/12) oleh Dosen PWK UMRAH, Hoki Apriyeson yang menampilkan titik-titik budaya takbenda di kawasan Cagar Budaya Nasional Pulau Penyengat dan Arie Afriadi, menampilkan titik titik budaya takbenda di kota lama Tanjungpinang

sumber: Hoki Apriyeson

Workshop ini diikuti oleh mahasiswa dan peneliti dari Universitas Indonesia, IPB University, Universitas Trisakti, Universitas Brawijaya, dan UMRAH sebagai tuan rumah. Para peserta terjun langsung memetakan atribusi dan signifikansi Budaya tak Benda yang bertautan erat dengan situs-situs bersejarah yakni kawasan Kota Lama Tanjungpinang dan Pulau Penyengat, yang selama ini menjadi pusat narasi budaya Melayu dan titik temu warisan lintas komunitas.

Rektor UMRAH menyampaikan bahwa pelestarian warisan budaya takbenda membutuhkan cara pandang baru yang menghubungkan pengetahuan tradisional dengan teknologi. Keterlibatan kementerian, perguruan tinggi, dan komunitas menjadi kunci keberhasilan pendekatan Historic Urban Landscape, sehingga hasil pemetaan tidak hanya berhenti sebagai dokumentasi, tetapi dapat mendukung kebijakan tata ruang, strategi mitigasi risiko, hingga pengembangan pariwisata berbasis budaya sebagai sumber ekonomi lokal.

Dengan inisiatif ini, UMRAH dan Mitra Universitas seperti UI, IPB, Universitas Trisakti, serta Universitas Brawijaya turut berkontribusi kepada upaya pelestarian warisan budaya di kawasan barat Indonesia, serta memperkuat kolaborasi nasional dalam memajukan riset dan pendidikan pelestarian warisan budaya yang berkelanjutan. Melalui teknologi GIS, model 3D, dan pemetaan partisipatif, warisan tak benda kini dapat dirawat tidak hanya sebagai memori sejarah, tetapi sebagai aset hidup yang terus berkembang bersama masyarakatnya.

Editor : Adi Pranadipa (UMRAH),
Guest Editor : Punto Wijayanto (Universitas Trisakti), Fauzi (Kementerian PU)
Foto : Kementerian PU, Hoki Apriyeson (UMRAH), Alfred(Navalens), Adi Pranadipa (humas UMRAH)

Scroll to Top