TANJUNGPINANG – Akhir November 2025 menjadi hari-hari yang panjang bagi Karla Amelia, M.Sc. Di tengah kesibukannya sebagai dosen Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH) di Tanjungpinang,Kepulauan Riau, pikirannya justru tertambat jauh di ujung barat Nusantara. Kabar buruk datang dari tanah kelahirannya, Aceh Tamiang: hujan deras selama sepekan telah mengubah arus sungai menjadi bencana yang menenggelamkan ribuan rumah.
Bagi Karla, Aceh Tamiang bukan sekadar titik di peta bencana. Ia lahir dan besar di Desa Sukajadi, Karang Baru. Seluruh keluarga besarnya masih bermukim di sana. Namun, sejak 27 November hingga 1 Desember 2025, keheningan menyiksa melanda setelah listrik padam dan sinyal komunikasi terputus total.
“Kondisi tersebut mendorong saya terlibat langsung. Ini bentuk tanggung jawab moral dan solidaritas terhadap lingkungan tempat saya dibesarkan,” ungkap Karla.
Menembus Jalur yang Terputus
Misi kemanusiaan ini tidaklah mudah. Karla memulai koordinasi dengan Natural Aceh, NGO tempatnya pernah mengabdi, serta melakukan pertemuan daring dengan AirAsia Foundation. Hasilnya, ia diamanahkan untuk mempresentasikan kondisi lapangan guna menyalurkan bantuan hygiene kit.
Perjalanan dimulai pada 8 Desember 2025 dari Batam menuju Medan, dilanjutkan dengan jalur darat selama lima jam menuju Aceh Tamiang. Tantangannya luar biasa; jalur lintas perbatasan Sumatera Utara–Aceh Tamiang sempat terputus akibat longsor, sementara di Bireuen, jembatan utama Kuta Blang ambruk dihantam banjir.
Setibanya di sana pada malam hari, Karla disambut pemandangan memilukan. Sepanjang jalan gelap gulita, warga membakar sampah untuk penerangan darurat dan mengusir nyamuk di pengungsian. Anak-anak berdiri di tepi jalan dengan kotak sumbangan di tangan.
Bertahan dengan Pisang Muda dan Nasi “Asam”
Karla menemukan keluarga besarnya mengungsi di teras Masjid Ar-Rahman, Desa Kesehatan. Di sana, ia mendengar kisah-kisah ketangguhan yang menggetarkan hati.
Salah satu rekan relawan, Faqi, bercerita bagaimana ia terjebak bersama seratus pengungsi lain, termasuk bayi dan lansia, di sebuah rumah lantai dua. Tanpa akses makanan, Faqi nekat berenang menerjang arus demi mencari apa pun yang bisa dimakan.
“Ia akhirnya mendapatkan pisang muda. Pisang itu dibagi adil, masing-masing hanya satu ruas jari. Meski tidak kenyang, itu simbol kebersamaan di tengah keterbatasan,” kenang Karla.
Kisah serupa dialami pamannya, Om Jol. Ia menyelam melawan arus untuk mengambil beras yang sudah terendam air banjir. Beras itu dimasak dan dibagikan kepada 80 pengungsi di SDN Percontohan Karang Baru. Meski nasi tersebut terasa asam karena terkontaminasi air banjir, mereka memakannya dengan penuh syukur.
Diplomasi Balon dan Pemetaan Digital
Aksi Karla di lapangan tidak hanya soal distribusi logistik seperti sembako, pakaian dalam, dan perlengkapan ibadah. Sebagai akademisi, ia menerapkan strategi bantuan yang efisien dan humanis.
Sebagai dukungan psikososial, Karla sengaja membawa balon untuk bermain bersama anak-anak di pengungsian guna mengurangi trauma. Dengan memanfaatan Teknologi, ia membantu memetakan titik lokasi dan akses jalan secara digital agar tangki bantuan air bersih bisa menjangkau wilayah terpencil.
Untuk Pemberdayaan Lokal, Karla memilih membeli produk buatan masyarakat setempat, seperti kue bhoi, untuk membantu memulihkan ekonomi lokal.
Selama hampir tiga minggu, misi ini menjangkau tiga kabupaten: Aceh Tamiang, Idi Rayeuk, dan Lhoksukon.
Perwujudan “Satu Gurindam” dan Tri Dharma
Keterlibatan Karla merupakan manifestasi dari Tri Dharma Perguruan Tinggi yang diusung UMRAH. Dukungan penuh datang dari Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan (FIKP) yang memfasilitasi perizinan serta dukungan materiil.
Bagi Karla, semangat “Satu Gurindam” yang menjadi identitas UMRAH terbukti relevan dalam aksi lintas wilayah ini. “Satu Gurindam bukan sekadar slogan, tapi nilai hidup. Ketika satu wilayah tertimpa musibah, wilayah lain hadir menguatkan,” tegasnya.
Kini, setelah air surut, harapan Karla tertuju pada pemulihan jangka panjang, terutama sektor pendidikan bagi anak-anak yang kehilangan dokumen penting serta pemulihan kesehatan mental para penyintas.
“Perguruan tinggi tidak hanya menjadi ruang belajar, tetapi harus hadir ketika masyarakat membutuhkan,” tutup Karla.
Editor: Adi Pranadipa, S.I.Kom
Foto : Karla Amelia, M.Sc

