Perdana, UMRAH Terapkan Kelas Bilingual di Prodi Bisnis Digital
TANJUNGPINANG — Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH) untuk pertama kalinya menerapkan kelas bilingual pada mata kuliah Ekonomi dan Bisnis Maritim di Program Studi Bisnis Digital, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Maritim (FEBM), pada semester ganjil Tahun Akademik 2026/2027. Senin (7/9).
Inovasi pembelajaran ini menjadi bagian dari upaya UMRAH memperkuat kompetensi mahasiswa, khususnya kemampuan berbahasa Inggris, sebagai bekal menghadapi dunia kerja dan profesi di bidang bisnis digital yang semakin terhubung dengan lingkungan global.
Pada semester ganjil 2026/2027, mata kuliah Ekonomi dan Bisnis Maritim dibuka dalam tiga kelas. Satu kelas di antaranya secara khusus diikuti mahasiswa yang memilih mengikuti pembelajaran dalam format bilingual. Peserta kelas tersebut merupakan mahasiswa baru Program Studi Bisnis Digital angkatan 2026.
Dalam kelas bilingual, proses pembelajaran menggunakan dua bahasa, yakni Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris. Tidak hanya dalam penyampaian materi, penggunaan Bahasa Inggris juga diterapkan pada bahan ajar dan penugasan mahasiswa.
Penerapan dua bahasa tersebut dirancang secara bertahap dan kontekstual. Mahasiswa tetap mendapatkan pemahaman terhadap konsep utama mata kuliah, sekaligus mulai terbiasa menggunakan istilah, literatur, dan komunikasi akademik dalam Bahasa Inggris.
Bagi mahasiswa Bisnis Digital, kemampuan tersebut dinilai relevan dengan perkembangan profesi di bidang digital yang semakin erat dengan lingkungan bisnis global. Penguasaan Bahasa Inggris dapat mendukung mahasiswa dalam mengakses literatur internasional, mengikuti perkembangan teknologi dan bisnis, serta berkomunikasi dengan mitra dari berbagai negara.
Mata kuliah Ekonomi dan Bisnis Maritim pada semester ini diampu oleh Henky Irawan, S.Pi., MP., M.Sc.; Prof. Dr. Agung Dhamar Syakti, S.Pi., DEA; Mirza Ayunda Pratiwi, S.E., M.Sc.; serta Ahmad Bima Mahendra, S.M., M.M.
Pada pertemuan perdana kelas bilingual, perkuliahan disampaikan oleh Henky Irawan. Mahasiswa diperkenalkan dengan pola pembelajaran yang akan diterapkan selama satu semester, termasuk penggunaan Bahasa Inggris dalam penyampaian materi, bahan pembelajaran, dan tugas akademik.

Koordinator Program Studi Bisnis Digital FEBM UMRAH, Mirza Ayunda Pratiwi, mengatakan penerapan kelas bilingual pada satu rombongan belajar di lingkungan Program Studi Bisnis Digital merupakan langkah strategis untuk mempersiapkan lulusan yang memiliki kapasitas internasional.
“Penerapan kelas bilingual untuk satu rombel di Prodi Bisnis Digital merupakan langkah strategis kami dalam mencetak lulusan berkapasitas internasional dan siap bersaing secara global,” ujar Mirza.
Menurutnya, pada tahap awal terdapat tiga mata kuliah utama yang diprioritaskan menggunakan pendekatan tersebut, yaitu Literasi Digital, Ekonomi dan Bisnis Maritim, serta Pengantar Ekonomi Digital.
“Langkah ini menjadi fondasi awal agar mahasiswa terbiasa berpikir dan berkomunikasi menggunakan standar global sejak hari pertama perkuliahan,” lanjutnya.
Bagi mahasiswa, penerapan kelas bilingual juga menjadi pengalaman baru sekaligus tantangan untuk meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris.
Muhammad Haichal Ramadhan Santoso, salah seorang mahasiswa peserta kelas bilingual, mengaku sempat merasa gugup dan kurang percaya diri sebelum mengikuti perkuliahan.
“Jujur, awalnya saya grogi dan tidak percaya diri karena kemampuan Bahasa Inggris saya masih perlu banyak belajar. Namun, saat kelas dimulai bersama Pak Henky, semua keraguan itu perlahan hilang,” ungkapnya.
Ia mengatakan dapat mengikuti pembelajaran dari awal hingga akhir dan memahami materi yang disampaikan meskipun menggunakan Bahasa Inggris.
“Ini menjadi tantangan bagi saya untuk menjadi lebih baik lagi dalam penguasaan Bahasa Inggris. Saya tidak sabar untuk mengikuti kelas selanjutnya. Saya berharap metode ini terus dipertahankan atau bahkan dikembangkan untuk mahasiswa seperti kami,” katanya.
Melalui penerapan kelas bilingual tersebut, UMRAH menargetkan mahasiswa tidak hanya memiliki pemahaman akademik yang kuat, tetapi juga kemampuan komunikasi akademik dan profesional dalam Bahasa Inggris.
Program ini sekaligus menjadi bagian dari langkah UMRAH mengembangkan model pembelajaran yang adaptif terhadap kebutuhan industri, berorientasi global, dan relevan dengan perkembangan profesi masa depan.
Kedepan, inovasi pembelajaran serupa diharapkan dapat diperluas ke mata kuliah dan program studi lainnya sebagai bagian dari penguatan kualitas sumber daya manusia UMRAH yang memiliki kompetensi akademik, profesional, dan kemampuan berkomunikasi dalam lingkungan global. (RAS/Humas)
