TANJUNGPINANG – Di sela-sela debur ombak dan rimbunnya hutan pesisir Kepulauan Riau, tersimpan sebuah “laboratorium” kuno yang telah beroperasi selama berabad-abad. Jauh sebelum farmasi modern menyentuh tanah Melayu, masyarakat setempat telah membangun sebuah peradaban pengobatan yang luhur, menggantungkan kesehatan mereka pada kearifan lokal yang memadukan doa, mantra, dan khasiat tumbuhan liar.
Sebuah tinjauan ilmiah terbaru yang dilakukan oleh Muhammad Afham, M.Si dan tim peneliti dari Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH) mencoba menelusuri kembali jejak etnobotani ini. Penelitian ini bukan sekadar inventarisasi tanaman, melainkan sebuah upaya nyata mengejawantahkan visi UMRAH dalam membangun Tamadun Maritim. Menggali kembali khazanah pengobatan Melayu adalah langkah strategis untuk membuktikan bahwa peradaban maritim masa lalu memiliki sistem pengetahuan yang kompleks, adaptif, dan ilmiah.

Jejak Emas Peradaban: “Rumah Tabib” dan Naskah Kuno
Sejarah mencatat bahwa pada masa Kesultanan Riau-Lingga—puncak kejayaan Tamadun Melayu—kesehatan adalah prioritas utama yang dikelola melalui institusi bernama “Rumah Tabib”. Bukti kecanggihan medis masa lalu ini terekam dalam Naskah Obat-Obat Melayu, sebuah manuskrip peninggalan Raja Haji Ahmad bin Hasan, seorang tabib kerajaan.
Uniknya, metode pengobatan dalam peradaban ini tidak memisahkan aspek fisik dan spiritual. Ramuan tanaman obat sering kali diracik beriringan dengan lantunan doa dan mantra. Bagi masyarakat Melayu, mantra bukan sekadar kata-kata magis, melainkan sugesti yang memperkuat proses penyembuhan. Pengetahuan ini diwariskan secara turun-temurun, menjadi bukti ketangguhan intelektual masyarakat pesisir yang mampu bertahan dan beradaptasi dengan lingkungannya.
Kekayaan Hayati di Balik Tradisi
Penelitian ini mengidentifikasi berbagai spesies tumbuhan yang menjadi andalan masyarakat Melayu Kepulauan Riau. Di antaranya adalah Pasak Bumi (Eurycoma longifolia) yang melegenda sebagai penambah stamina dan obat malaria , serta Sirih Hijau (Piper betle) yang digunakan untuk kesehatan gigi dan antiseptik.

Tak hanya tanaman darat, ekosistem pesisir seperti Mangrove (Rhizophora apiculata) juga dimanfaatkan sebagai obat diare dan antiseptik. Bahkan, buah-buahan lokal seperti Namnam (Cynometra cauliflora) dan Rukam (Flacourtia rukam) yang kini mulai langka, ternyata memiliki khasiat sebagai penyegar tubuh dan antioksidan. Cara pengolahannya pun beragam, mulai dari direbus—metode paling umum untuk membunuh bakteri—hingga direndam atau digiling.
Validasi Sains Modern untuk Masa Depan
Tinjauan ini menegaskan bahwa kearifan lokal tersebut bukan isapan jempol belaka. Analisis fitokimia menunjukkan bahwa tanaman-tanaman ini kaya akan senyawa bioaktif seperti flavonoid, alkaloid, saponin, dan tanin. Senyawa-senyawa ini memiliki potensi besar sebagai antioksidan, antimikroba, hingga antidiabetes.
Namun, tim peneliti menyoroti sebuah tantangan besar: dokumentasi ilmiah dan validasi farmakologis di wilayah ini masih sangat terbatas. Jika tidak segera didokumentasikan, pengetahuan berharga ini terancam punah. Integrasi antara etnobotani tradisional dan riset farmakologi modern menjadi kunci untuk merevitalisasi Tamadun Maritim. Dengan cara ini, UMRAH tidak hanya melestarikan budaya, tetapi juga mengangkat martabat sains Melayu ke panggung dunia, menemukan obat masa depan dari rahim peradaban sendiri.
Identitas Publikasi
Judul Paper:
Mini Review: Ethnobotany and the Potential of Medicinal Plants in Riau Islands
Penulis: M Afham¹, RGP Sulistyo¹, P Ramadani¹, dan S N Mandali².
Afiliasi:
- Program Studi Kimia, Fakultas Teknik dan Teknologi Kemaritiman, Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH), Tanjungpinang, Indonesia.
- Chulalongkorn University, Thailand.
Tautan DOI:

